Sang Penelan Pusaka

Bab 108Akal di Atas Pusaka

Kabar tentang bambu kuning yang memantulkan kerikil menyebar lebih cepat dari kabar tentang Sambal Kawin.

Wulansari tidak menceritakannya kepada siapa pun. Satyaki juga tidak. Dira jelas tidak. Tetapi pada hari kedua puluh satu, sebelum matahari setinggi tombak, seluruh asrama murid luar sudah berbisik-bisik tentang anak kurus dengan tongkat penggembala bebek yang tiba-tiba bisa membuat batu terbang balik ke pelemparnya.

"Bayuwisesa," kata Wulansari pagi itu di bawah pohon sawo, dengan benjolan kecil merah yang masih ada di dahinya. "Pasti dia. Dia berdiri di bawah pohon asam kemarin sore. Dia melihat semuanya."

"Raden Bayuwisesa tidak suka bercerita," kata Dira.

"Raden Bayuwisesa bercerita kepada ayahnya. Dan ayahnya bercerita kepada Ki Brajanala. Dan Ki Brajanala memarahi pembimbing Satyaki di depan murid-murid lain karena tidak tahu pusaka muridnya sendiri bisa apa." Wulansari menggeleng. "Dan murid-murid lain mendengarnya. Dan sekarang semua orang tahu."

Dira terdiam.

"Kakang Wisnuwara juga tahu," kata Wulansari pelan.


Wisnuwara.

Murid luar tahun ketiga. Prana Madya. Tinggi dan kurus seperti batang tebu, dengan mata yang selalu setengah tertutup, dan senyum yang hanya muncul ketika ia sedang merebut sesuatu dari orang lain. Ia dan dua kawannya, Jlitheng yang kulitnya hitam legam dan Gembus yang bulat dan lembek seperti kue gembus, sudah dua tahun menunggu di pintu ruang makan asrama murid luar setiap malam. Merebut separuh nasi Satyaki. Kadang semuanya.

Satyaki pernah melawan sekali. Waktu tahun pertama. Ia pingsan dua hari.

"Mereka mengirim pesan," kata Satyaki sore itu, ketika ia datang ke sumur untuk berlatih. Wajahnya pucat. Napasnya, yang sudah tiga hari lancar dan tenang, kembali tersendat sedikit. "Lewat murid tahun pertama. Katanya Kakang Wisnuwara ingin melihat bambuku memantulkan batu. Besok sore. Di belakang asrama murid luar. Setelah latihan."

"Kau tidak harus datang," kata Wulansari.

"Kalau aku tidak datang, mereka akan datang kepadaku. Di ruang makan. Di depan semua orang." Satyaki menggenggam Kyai Pring Kuning. "Dan mereka akan mengambil bambuku. Dan mematahkannya. Mereka sudah bilang begitu."

Sunyi di sekitar sumur.

"Bocah," kata Ki Jalak.

Aku tahu.

"Kau tidak bisa bertarung untuknya."

Aku tahu.

"Kalau kau datang dan memukul tiga murid luar Prana Madya di belakang asrama mereka sendiri, sepuluh hari sebelum ujian, dengan Raden Bayuwisesa mengawasimu dari pohon asam..."

Aku tahu, Ki Jalak.

Dira menatap Satyaki. Lalu ia duduk di bibir sumur.

"Ceritakan," katanya. "Semua yang kau tahu tentang mereka bertiga."


Mereka menghitung sampai senja.

Satyaki bercerita. Dira mendengarkan. Wulansari menambahkan apa yang ia dengar di asrama perempuan. Setiap kebiasaan. Setiap kesukaan. Setiap ketakutan. Setiap cara mereka berjalan, berdiri, dan merebut nasi.

Wisnuwara selalu memulai dengan tendangan kaki kanan. Selalu. Ke arah lutut lawan, supaya lawan jatuh berlutut. Ia menyukai lawan yang berlutut. Lalu ia akan berdiri di depan lawan yang berlutut itu, menatapnya dari atas, dan bicara panjang lebar tentang betapa lemahnya lawannya sebelum memukul lagi.

"Dia suka bicara," kata Dira.

"Dia sangat suka bicara," kata Satyaki. "Dulu dia bicara selama orang mengunyah sekapur sirih sebelum memukulku yang kedua kali."

Jlitheng tidak pernah bicara. Jlitheng hanya memukul. Tetapi Jlitheng, kata Wulansari, sangat takut kambing. Sejak kecil. Ia pernah diseruduk kambing di desanya sampai jatuh ke sumur. Sejak itu ia tidak pernah lewat di dekat kandang kambing padepokan. Ia selalu memutar lewat lumbung, meskipun itu dua kali lebih jauh.

Gembus tidak terlalu kuat. Gembus kuat karena berat. Ia menindih lawannya. Dan Gembus, kata Satyaki dengan wajah sangat serius, akan melakukan apa pun demi makanan. Apa pun. Ia pernah meninggalkan latihan pernapasan di tengah-tengah karena mencium bau kerupuk dari dapur.

Dira mendengarkan semuanya. Ia tidak menulisnya. Ia hanya menghitung, seperti ia menghitung Gandawasa dan Sutarga dan Joyokusumo di bilah bambu dulu.

Lalu ia mulai bicara.


"Belakang asrama murid luar," kata Dira. "Di mana tepatnya?"

"Di tanah kosong antara dinding asrama dan pagar bambu. Dekat parit."

"Parit itu mengalir ke mana?"

Satyaki berpikir. "Ke kolam teratai. Lewat bawah jalan setapak."

"Dan di seberang pagar bambu itu?"

"Jalan setapak ke kandang."

Dira mengangguk pelan.

"Jangan berdiri di tempat yang mereka pilih," katanya. "Datang lebih dulu. Berdiri di dekat pagar bambu. Di depan parit. Dengan punggung ke pagar."

"Itu terpojok."

"Itu yang mereka kira." Dira menatap Satyaki. "Wisnuwara akan menendang lututmu dengan kaki kanan. Selalu. Jangan menghindar ke kiri, ke arah dinding. Mundur. Satu langkah. Ke pagar. Biarkan tendangannya meleset sejengkal. Dia akan kesal. Orang yang kesal bicara lebih banyak."

"Lalu?"

"Biarkan dia bicara. Jangan menjawab. Jangan menatap matanya. Tatap kakinya. Selama dia bicara, kau menarik napas. Pelan. Satu arah. Seperti yang kita latih." Dira berhenti. "Dan selama kau menarik napas, kau memikirkan hal yang paling membuatmu takut."

Satyaki menelan ludah. "Supaya bambunya menyala."

"Supaya bambunya menyala."

"Dan Jlitheng?"

Dira tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya sore itu.

"Itu urusan Ji," katanya.


Sore hari kedua puluh dua, setelah kentongan latihan berbunyi, belakang asrama murid luar sudah ramai.

Tidak ramai seperti adu sambal. Tidak ada tetua. Tidak ada pelayan kadipaten. Hanya murid-murid luar, dua puluh atau tiga puluh orang, yang berdiri di sepanjang dinding asrama dengan wajah penasaran. Kabar sudah menyebar. Wisnuwara melawan si ceking dengan tongkat bebek. Tiga lawan satu. Semua orang tahu bagaimana akhirnya.

Dira tidak di sana.

Ia berdiri di atas atap lumbung. Seratus langkah jauhnya. Di balik bubungan, tengkurap di atas ijuk, hanya kepalanya yang menyembul. Dari sana, ia bisa melihat tanah kosong di belakang asrama murid luar, pagar bambu, parit, dan jalan setapak ke kandang di seberang pagar.

Ia bisa melihat Satyaki yang sudah berdiri di depan pagar bambu, dengan punggung ke pagar, Kyai Pring Kuning di tangan, wajah pucat. Ia bisa melihat Wisnuwara, Jlitheng, dan Gembus berjalan dari ujung asrama. Ia bisa melihat Gandawasa di seberang pagar, di jalan setapak ke kandang, menggiring kambing-kambing pulang dari padang rumput, karena memang setiap sore pada waktu seperti ini Gandawasa menggiring kambing pulang lewat jalan itu.

Dan ia bisa melihat, di ujung barisan kambing, berjalan paling belakang dengan tanduk patah separuh dan mata yang sangat jahat, kambing Ji.

Dan ia bisa melihat, di bawah pohon asam yang menghadap dapur, seratus langkah dari lumbung, sosok tegak yang selalu berdiri di sana. Raden Bayuwisesa tidak menatap ke belakang asrama murid luar. Raden Bayuwisesa menatap atap lumbung.

Dira menunduk lebih dalam di balik bubungan.

"Dia tahu kau di sini," kata Ki Jalak.

Aku tidak melanggar apa pun. Ini masih sore. Aku tidak keluar dari tempat yang boleh untuk abdi. Atap lumbung boleh dinaiki abdi untuk memperbaiki ijuk.

"Kau sedang memperbaiki ijuk?"

Dira mencabut sehelai ijuk yang longgar dan menyelipkannya kembali.

Sekarang iya.


"Ceking," kata Wisnuwara.

Ia berdiri lima langkah dari Satyaki. Tinggi. Kurus. Matanya setengah tertutup. Jlitheng di kirinya, Gembus di kanannya.

"Kudengar bambumu sekarang bisa memantulkan batu," katanya. "Kudengar adik si abdi dapur pulang dengan benjol di dahinya. Kudengar kau berlatih setiap sore di sumur dengan abdi dapur itu, seperti dua kodok di comberan."

Murid-murid luar di sepanjang dinding tertawa.

Satyaki tidak menjawab. Ia menatap kaki Wisnuwara.

"Kau tahu apa yang terjadi pada murid luar yang bergaul dengan abdi?" lanjut Wisnuwara. "Dia ikut bau abdi. Dia ikut bau dapur. Dia ikut bau kambing. Dan murid-murid lain tidak mau duduk di dekatnya di ruang makan." Ia tersenyum. "Itu sebabnya kami selalu mengambil nasimu, Ceking. Supaya kau tidak perlu ke ruang makan. Kami membantumu."

Tawa lagi.

Satyaki menarik napas. Pelan. Satu arah. Bahu kirinya turun sedikit.

Wisnuwara melangkah maju.

Tendangan itu datang dari kaki kanan. Cepat. Rendah. Ke arah lutut kiri Satyaki. Persis seperti yang dikatakan Dira.

Satyaki mundur satu langkah. Ke pagar bambu.

Tendangan itu meleset. Sejengkal. Kaki Wisnuwara menyapu udara kosong di depan lutut Satyaki.

Wisnuwara berhenti. Matanya yang setengah tertutup terbuka sedikit. Lalu menyipit.

"Oh," katanya. "Ceking belajar mundur. Hebat. Abdi dapur itu mengajarimu mundur?" Ia tertawa. "Tentu saja. Abdi tahu cara mundur. Abdi hidup dengan mundur. Mundur dari tetua. Mundur dari murid. Mundur dari..."

Ia terus bicara.

Satyaki terus menarik napas. Pelan. Matanya terpejam sekarang. Wajahnya memucat. Ia sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang membuatnya takut. Dira tidak perlu bertanya apa.

Kyai Pring Kuning mulai bersinar.


"Cukup," kata Wisnuwara. Ia menoleh ke Jlitheng. "Ambil bambunya."

Jlitheng melangkah maju. Tanpa bicara. Tangannya terulur ke arah bambu kuning yang bersinar redup di tangan Satyaki.

Dan pada saat itulah, di seberang pagar bambu, di jalan setapak ke kandang, kambing Ji mengangkat kepalanya.

Kambing itu berhenti berjalan. Telinganya berdiri. Hidungnya mengendus udara. Matanya yang jahat menatap melalui celah-celah pagar bambu, ke tanah kosong di belakang asrama murid luar.

Ke Satyaki. Murid luar kurus yang membawa kacang rebus setiap sore ke sumur, dan yang setiap sore, tanpa sepengetahuan siapa pun kecuali Dira, menyisakan segenggam kacang untuk kambing bertanduk patah yang selalu menunggu di dekat pohon sawo.

Lalu ke Jlitheng. Yang tangannya terulur ke arah Satyaki.

Kambing Ji menundukkan kepalanya.

Di jalan setapak, Gandawasa berhenti menggiring dan menoleh. "Ji," katanya. "Ji, jangan..."

Ji tidak mendengarkan.

Kambing itu menerjang pagar bambu. Pagar itu sudah tua, diikat tali ijuk yang lapuk. Dua batang bambunya jebol. Ji melesat melalui celah itu seperti batu dari umban, kepala tertunduk, tanduk yang patah separuh mengarah ke depan.

Jlitheng menoleh.

Ia melihat kambing.

Murid-murid luar di sepanjang dinding asrama kemudian bersaksi bahwa mereka belum pernah mendengar suara seperti yang keluar dari mulut Jlitheng sore itu. Sesuatu di antara teriakan dan jeritan, nyaring dan panjang dan pecah, seperti suara anak babi yang dikejar anjing.

Jlitheng lari.

Ia tidak lari ke arah asrama. Ia tidak lari ke arah murid-murid luar. Ia lari ke arah yang paling jauh dari kambing itu, yang kebetulan adalah ke arah parit. Ia melompati parit. Ia mendarat di seberangnya. Ia terus lari, menyusuri parit, dengan Ji di belakangnya, sampai keduanya menghilang di balik sudut asrama ke arah kolam teratai.

Lalu bunyi BYUR.

Lalu sunyi.

Lalu embik kambing yang terdengar sangat, sangat puas.


Wisnuwara menatap ke arah kolam teratai dengan mulut terbuka.

Lalu ia menoleh kepada Gembus. Wajahnya merah karena marah. "Tindih dia!"

Gembus melangkah maju. Tubuhnya yang bulat dan berat bergerak seperti kerbau yang menuju kubangan. Ia mengangkat kedua tangannya, siap menerkam Satyaki dan menindihnya ke tanah.

Satyaki tidak mundur. Ia merogoh kantong di pinggangnya dengan tangan kiri, mengeluarkan sesuatu, dan melemparkannya.

Bukan ke arah Gembus. Ke samping. Ke tanah. Ke dekat dinding asrama, tiga langkah dari tempat Gembus berdiri.

Sebungkus daun pisang. Terbuka ketika jatuh. Di dalamnya, setumpuk peyek kacang. Peyek kacang buatan Mbah Karta. Peyek kacang untuk selamatan Jumat Legi yang sudah lewat, sisa yang disimpan di tempayan di rak paling tinggi di dapur, yang diselundupkan Gendhing tadi pagi dengan risiko nyawanya sendiri.

Bau gurih kacang dan tepung beras yang digoreng dengan minyak kelapa menyebar di udara sore.

Gembus berhenti.

Hidungnya bergerak. Kepalanya menoleh. Matanya jatuh pada peyek-peyek yang berserakan di tanah, berkilat keemasan di bawah matahari sore.

"Gembus!" teriak Wisnuwara.

Gembus menatap Satyaki. Lalu menatap peyek. Lalu menatap Satyaki lagi. Wajahnya yang bulat dan lembek menunjukkan pergulatan batin yang sangat hebat.

Lalu ia berjongkok di samping peyek-peyek itu dan mulai makan.


Tinggal Wisnuwara.

Ia berdiri di sana, sendirian, di tengah tanah kosong, dengan wajah yang semakin merah. Murid-murid luar di sepanjang dinding tidak lagi tertawa kepada Satyaki. Mereka tertawa kepadanya.

"Kau," desis Wisnuwara. "Kau dan abdi dapur itu..."

Ia merogoh sesuatu dari balik ikat pinggangnya. Sebungkus kain kecil. Ia membukanya dengan satu tangan, dan sebelum ada yang bisa melihat apa isinya, ia melemparkan isinya ke wajah Satyaki.

Serbuk. Merah kecokelatan. Dari jarak empat langkah, Dira mencium baunya bahkan dari atas atap lumbung. Cabai rawit kering yang ditumbuk halus, dicampur abu dapur.

Sama seperti serbuk yang dilemparkan Gandawasa ke wajah Dira pada malam pesan palsu itu, sebelum segalanya berubah.

Serbuk itu melesat ke wajah Satyaki dalam awan kecil berwarna merah.

Dan sejengkal dari wajahnya, sejengkal dari Kyai Pring Kuning yang bersinar keemasan, awan serbuk itu berhenti.

Melayang. Berputar pelan di udara, seperti debu yang tertahan angin.

Lalu berbalik.

Seluruhnya. Setiap butir serbuk cabai dan abu dapur itu berbalik arah dan melesat kembali ke arah pelemparnya, lebih cepat dari ketika dilempar, dan menghantam wajah Wisnuwara tepat di mata, hidung, dan mulutnya yang masih terbuka di tengah kalimat.

Wisnuwara menjerit.

Ia jatuh berlutut. Kedua tangannya mencakar wajahnya sendiri. Matanya memerah dan berair. Ia batuk, bersin, batuk lagi, dan dari mulutnya keluar bunyi-bunyi yang tidak bisa disebut kata-kata.

Satyaki membuka matanya.

Ia menatap Wisnuwara, yang berlutut di depannya. Berlutut. Seperti yang selalu disukai Wisnuwara dari lawan-lawannya.

Lalu Satyaki melakukan sesuatu yang tidak diajarkan Dira.

Ia berjongkok. Ia mengambil kendi air yang selalu ia bawa di pinggangnya. Ia membuka tutupnya dan menuangkan air ke wajah Wisnuwara. Pelan. Membasuh serbuk cabai dari matanya.

"Jangan digosok, Kang," katanya. "Nanti makin perih. Dibasuh saja. Banyak-banyak."

Wisnuwara menatapnya dengan mata merah dan berair, wajah basah, mulut terbuka.

Satyaki menyerahkan kendi itu kepadanya. Lalu ia berdiri, mengambil Kyai Pring Kuning yang sudah berhenti bersinar, dan berjalan pergi. Melewati Gembus yang masih makan peyek. Melewati murid-murid luar yang sudah berhenti tertawa dan kini menatapnya dengan wajah yang sangat aneh.


Di atas atap lumbung, Dira melepaskan napas yang tidak sadar ia tahan.

"Bocah," kata Ki Jalak pelan. "Bagian dengan kendi air itu."

Aku tidak mengajarinya itu.

"Aku tahu." Burung itu diam lama. "Itu yang membuatnya lebih baik dari kau."

Dira tersenyum.

Ia menyelipkan sehelai ijuk lagi ke atap lumbung, untuk berjaga-jaga, lalu merayap turun. Ketika ia sampai di tanah, Raden Bayuwisesa sudah berdiri di kaki tangga bambu lumbung.

Mereka saling tatap.

"Memperbaiki ijuk," kata Dira.

"Tentu," kata Bayuwisesa.

Ia berbalik untuk pergi. Lalu berhenti.

"Akal di atas pusaka," katanya tanpa menoleh. "Itu kata-kata pendiri padepokan ini. Ditulis di batu yang sama dengan lawang menga. Di baris kedua. Tidak banyak yang membacanya karena baris itu tertutup lumut." Ia diam sebentar. "Kurasa aku tahu sekarang kenapa ditulis di sana."

Lalu ia pergi.


Malam itu, Dira tidur nyenyak di samping tungku ketujuh.

Ia bangun sebelum fajar untuk turun ke jalan patah kaki seperti biasa. Ia mengambil pikulan dan dua tempayan. Ia berjalan keluar dari dapur, melewati halaman, melewati pohon asam.

Ia berhenti di depan papan pendaftaran.

Ia tidak tahu kenapa ia berhenti. Mungkin karena kebiasaan. Mungkin karena setiap pagi ia menatap lingkaran terbakar di samping namanya, untuk mengingatkan dirinya sendiri mengapa ia naik jalan patah kaki.

Papan itu sudah penuh sekarang. Seratus nama lebih. Anak-anak desa. Abdi-abdi muda. Beberapa murid luar tahun pertama yang ingin naik lebih cepat.

Dan di bagian paling bawah papan, di baris terakhir, ada satu nama yang kemarin tidak ada.

Nama yang ditulis dengan aksara yang sangat rapi. Sangat indah. Lebih indah dari aksara Dira sendiri. Dengan lekuk-lekuk yang halus dan lengkung-lengkung yang anggun, seperti tulisan orang yang sudah menulis selama puluhan warsa.

Gandawasa.

Abdi kandang.

Dira menatap nama itu lama.

Gandawasa tidak bisa menulis.

"Bocah," bisik Ki Jalak. "Lihat da-nya."

Dira melihat. Aksara da di tengah nama itu. Perutnya bulat. Sempurna. Seperti periuk nasi.

Tetapi di ujung lengkungnya, ada satu goresan kecil yang tidak perlu. Sebuah kait kecil. Seperti ekor yang melengkung ke atas. Hiasan orang yang sudah terlalu lama menulis dan tidak bisa lagi menulis tanpa memamerkannya.

Dira pernah melihat kait kecil seperti itu.

Di selembar daun lontar bercap, yang dibawa Sutarga ke dapur pada malam ingkung. Surat izin. Ditulis dan dicap oleh tetua pengawas dapur.

Ki Wiradhana.