Sang Penelan Pusaka

Bab 107Guru Satyaki

"Ajari aku," kata Satyaki.

Pagi hari kedelapan belas. Dira baru saja naik dari jalan patah kaki untuk kedua kalinya, dengan dua tempayan yang airnya hampir penuh dan bahu yang tidak lagi berdarah karena kulitnya sudah menebal seperti kulit kerbau. Ia menurunkan pikulan di samping sumur, dan Satyaki sudah berdiri di sana. Sendirian. Tanpa kantong kacang. Dengan Kyai Pring Kuning di tangan dan wajah yang sangat serius.

"Ajari apa?" tanya Dira.

"Semuanya." Satyaki menatap tempayan-tempayan itu. "Aku melihatmu. Dua pasar ini. Aku melemparimu dengan kacang setiap sore, dan setiap sore kau terkena lebih sedikit. Kemarin Wulan melempar tiga kerikil sekaligus dan kau cuma kena satu. Kau naik jalan patah kaki dua kali sebelum kentongan subuh, dan Kang Paidi bilang dulu dia cuma sanggup naik sekali sepasar." Ia menelan ludah. "Dan Raden Bayuwisesa bilang kau sudah Prana."

"Raden Bayuwisesa bilang begitu?"

"Tidak kepadaku. Kepada seseorang di asrama murid dalam. Aku mendengarnya waktu mengantar air." Satyaki menggeleng. "Itu tidak penting. Yang penting..."

Ia berhenti. Ia menatap tanah.

"Aku sudah setahun menjadi murid luar, Dira," katanya pelan. "Setahun. Dan aku masih di Raga Madya. Teman-teman seangkatanku sudah di Prana Awal. Beberapa sudah di Prana Madya. Dan kau, abdi dapur yang beberapa candra lalu bahkan belum berkultivasi, sudah melewatiku."

"Satyaki..."

"Aku tidak iri." Satyaki mengangkat kepalanya. Matanya merah. "Sungguh. Aku tidak iri. Aku senang. Kau sahabatku. Tapi aku..." Ia menggenggam Kyai Pring Kuning lebih erat. "Aku tidak mau terus menjadi anak kurus dengan tongkat penggembala bebek yang cuma bisa berteriak maling sambil lari. Aku mau bisa melakukan sesuatu. Waktu Gajahsora menendang Wulan, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Waktu Kala... waktu orang-orang berjubah hitam itu di candi tua, yang bisa kulakukan cuma berteriak."

"Teriakanmu menyelamatkan nyawaku."

"Lain kali mungkin teriakan tidak cukup." Satyaki menatapnya lurus-lurus. "Ajari aku, Dira. Apa pun yang kau pelajari. Bagaimana pun caramu belajar. Aku tidak akan bertanya dari mana kau mempelajarinya. Aku sudah bersumpah demi nasi dan tongkat yang tidak terpotong. Aku tidak akan bertanya."


Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak diam lama.

Ki Jalak?

"Aku sedang berpikir."

Tentang apa?

"Tentang apa yang bisa diajarkan oleh orang yang belajar dari keris retak, kepada orang yang dipilih oleh bambu kuning." Burung itu mengembangkan bulunya. "Kau tidak bisa mengajarinya Langkah Jalak Ngumbara, bocah. Langkah itu langkahku. Butuh gema jalak di dalam tubuh. Kau tidak bisa mengajarinya membaca angin. Itu hadiah Sapu Angin. Kau tidak bisa mengajarinya apa pun yang datang dari Balai Sukma."

Lalu apa yang bisa kuajarkan?

"Apa yang kau pelajari bukan dari Balai Sukma." Ki Jalak memiringkan kepalanya. "Menghitung. Mengaduk santan. Dan bagaimana caranya menang ketika kau lebih lemah dari semua orang."


Mereka mulai dengan napas.

Dira membawa Satyaki ke dapur. Ke tungku ketujuh. Ia menyuruh Satyaki duduk bersila di tikar dan menarik napas seperti biasa, seperti yang diajarkan pembimbingnya di lapangan murid luar.

Satyaki menarik napas.

Dira mendengarkan. Napas itu masuk lewat hidung, tersendat di tengah dada, seperti air yang tersangkut di leher kendi, lalu turun lagi, lalu tersendat lagi, lalu keluar lewat mulut dengan bunyi seperti siulan bocor.

Ia sudah mendengar napas itu berkali-kali. Di Hutan Larangan. Di candi tua. Di balik balok batu ketika Satyaki menunggu dengan tiga kerikil. Napas yang selalu tersendat. Ia tidak pernah bertanya kenapa.

"Sejak kapan napasmu seperti itu?" tanya Dira.

"Seperti apa?"

"Tersendat. Di tengah dada."

Satyaki terdiam. "Sejak kecil," katanya akhirnya. "Waktu umur tujuh, aku jatuh dari pohon nangka. Dadaku menghantam akar. Dua rusukku patah. Kata dukun di desaku, rusuknya sembuh tapi miring. Sejak itu napasku begini." Ia mengangkat bahu. "Pembimbingku bilang itu sebabnya aku lambat. Napas yang tersendat tidak bisa menarik prana dengan baik. Katanya aku harus menarik napas lebih dalam. Lebih keras. Memaksanya lewat."

"Dan?"

"Dan setiap kali aku memaksanya, dadaku sakit. Kadang aku batuk darah." Satyaki tertawa kecil. "Pembimbingku bilang itu tandanya aku kurang berusaha."

Dira menatap kawannya lama.

Seperti tulang lenganku dulu, pikirnya. Patah waktu umur tujuh warsa. Sembuh sendiri. Tanpa ditata. Tumbuh miring.

Ia teringat malam ketika Ki Jalak pertama kali masuk ke dalam dirinya. Ketika ia merasakan setiap tulang di tubuhnya yang tipis, rapuh, bengkok. Ketika Ki Jalak mengomel tentang meridiannya yang seperti selokan tersumbat daun busuk.

"Bocah," kata Ki Jalak pelan. "Kau tahu apa yang akan kau katakan."

Aku tahu.

"Satyaki," kata Dira. "Pembimbingmu salah."


"Kau tidak bisa menuang santan sekaligus ke kuali panas," kata Dira. "Santannya pecah."

Satyaki menatapnya. "Apa?"

"Kau tidak bisa memaksa napas lewat jalan yang bengkok. Sama seperti air. Kalau selokan berbelok dan kau menuang air terlalu deras, airnya meluap. Merusak dinding selokan." Dira berpikir sebentar. "Kau harus mengikuti beloknya. Pelan. Satu arah."

Ia duduk di depan Satyaki. Ia mengambil tangan kawannya dan meletakkannya di dada Satyaki sendiri, di tempat napasnya tersendat.

"Tarik napas lagi. Pelan. Sangat pelan. Jangan dipaksa. Kalau terasa tersendat, berhenti. Jangan dorong. Tunggu. Lalu cari jalan lain. Sedikit ke kiri, atau sedikit ke kanan. Seperti air yang mencari celah di antara batu."

Satyaki menatapnya dengan curiga. Lalu ia memejamkan mata dan menarik napas.

Pelan.

Napas itu masuk. Turun. Tersendat di tengah dada.

"Berhenti," kata Dira. "Jangan dorong."

Satyaki berhenti. Wajahnya menegang.

"Sekarang cari celahnya. Kau yang tahu dadamu sendiri. Ke kiri? Ke kanan?"

Lama sekali. Satyaki duduk diam dengan napas tertahan. Wajahnya mulai memerah. Lalu, perlahan sekali, Dira melihat bahu kiri Satyaki turun sedikit. Sangat sedikit. Dadanya bergeser. Seperti orang yang memiringkan kendi supaya airnya bisa mengalir lewat sisi yang lain.

Napas itu lewat.

Satyaki membuka matanya. Lebar.

"Dira," bisiknya. "Dira. Aku... itu tidak sakit."

"Lagi."

Satyaki menarik napas lagi. Pelan. Berhenti di tempat yang tersendat. Memiringkan bahunya. Lewat.

Lagi. Lagi.

Pada napas kesepuluh, ia tidak perlu berhenti lagi. Napas itu masuk, turun, berbelok sedikit di tengah dada mengikuti rusuk yang miring, dan terus turun ke bawah pusar. Pelan. Tanpa bunyi siulan bocor. Tanpa tersendat.

Satyaki menangis.

Bukan menangis keras. Air mata hanya mengalir begitu saja dari matanya yang terpejam, menuruni pipinya, sementara ia terus menarik napas dan mengeluarkannya. Pelan. Satu arah.

"Bocah," kata Ki Jalak sangat pelan. "Kau baru saja melakukan sesuatu yang tidak dilakukan pembimbingnya selama setahun."

Aku cuma mengulang apa yang dikatakan Mbah Karta.

"Itu yang dilakukan guru yang baik," kata Ki Jalak. "Mengulang apa yang dikatakan guru yang lebih baik."


Mereka berlatih napas itu selama tiga hari. Setiap pagi, setelah Dira naik jalan patah kaki. Setiap sore, sebelum senja, sebelum Satyaki harus kembali ke asrama murid luar.

Pada hari kedua puluh, Satyaki datang ke dapur dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan apa pun.

"Prana," katanya. "Dira. Tadi pagi di lapangan, waktu kuda-kuda. Aku merasakannya. Di bawah pusar. Hangat. Seperti bara kecil." Ia tertawa. "Belum Prana Awal. Belum. Tapi aku merasakannya. Untuk pertama kalinya dalam setahun."

Dira tersenyum.

"Dan pembimbingku," lanjut Satyaki dengan mata berbinar, "pembimbingku melihat napasku tidak bunyi lagi dan bertanya apa yang terjadi. Aku bilang aku belajar dari juru masak." Ia tertawa lebih keras. "Dia mengira aku bercanda."


Lalu mereka beralih ke Kyai Pring Kuning.

"Tongkat penggembala bebek," kata Satyaki dengan pahit, mengangkat bambu kuning sepanjang lengannya itu. "Itu yang dibilang semua orang waktu dia melayang ke tanganku di altar. Semua pusaka lain di rak itu keris, tombak, pedang. Pusaka yang bisa menebas. Dan yang memilihku sebatang bambu."

"Dia menyala," kata Dira. "Di candi tua. Seperti matahari kecil."

"Kalau aku takut. Atau lapar." Satyaki mendengus. "Pusaka yang menyala kalau pemiliknya takut. Hebat sekali. Sangat berguna untuk menakut-nakuti musuh. Lihat, aku sedang ketakutan!"

"Dia juga menolak Sapu Angin," kata Dira pelan. "Di Hutan Larangan. Waktu Sapu Angin masih liar dan menyerangmu. Bambu itu membelokkannya."

Satyaki terdiam.

"Dan dia menyimpan biji hitam itu," lanjut Dira, lebih pelan lagi. "Biji Wijayakusuma yang asli. Di dalam rongganya. Biji yang dicari Ki Wiradhana. Dan selama biji itu di dalam bambumu, tidak ada yang bisa menciumnya. Bahkan pengendus. Bahkan Ki Wiradhana sendiri, yang menatap tongkatmu lama sekali di halaman."

Satyaki menatap bambu kuning di tangannya. Seperti baru pertama kali melihatnya.

Ia membaliknya pelan-pelan. Ia meraba buku-bukunya yang halus. Ia mengetuk rongganya dengan buku jari, dan bunyinya pelan dan bulat, seperti ketukan di pintu rumah orang yang sudah dikenal lama.

"Bocah," kata Ki Jalak tiba-tiba. "Kau ingat dongeng Mbok Darsih?"

Yang mana? Mbok Darsih punya seribu dongeng.

"Yang tentang bambu kuning. Yang dia ceritakan waktu Gendhing takut tidur sendirian setelah mendengar suara di jamban."

Dira ingat.

Pring kuning, kata Mbok Darsih waktu itu, dengan suara berbisik yang terdengar sampai ke barak sebelah. Orang-orang tua di desa menanam bambu kuning di pojok-pojok pekarangan. Kenapa? Karena bambu kuning itu tolak bala. Lelembut tidak bisa lewat. Roh jahat tidak bisa masuk. Sihir apa pun yang dikirim ke rumah itu akan menabrak bambu kuning dan berbalik ke pengirimnya.

Dira menatap Kyai Pring Kuning.

"Satyaki," katanya pelan. "Pusakamu bukan tongkat penggembala bebek."

"Lalu apa?"

"Tolak bala."


Mereka mengujinya sore itu di sumur.

Wulansari datang dengan kantong kerikilnya seperti biasa. Kali ini Dira tidak berdiri di tengah. Satyaki yang berdiri di tengah, dengan Kyai Pring Kuning di tangannya dan wajah yang sangat gugup.

"Lempar," kata Dira.

Wulansari melempar. Kerikil biasa. Satyaki mengangkat bambunya dan menangkis dengan canggung. Kerikil itu memantul ke tanah.

"Lagi," kata Dira. "Kali ini Satyaki, jangan menangkis. Biarkan saja. Tapi pegang bambunya. Dan pikirkan..." Ia berpikir. "Pikirkan sesuatu yang membuatmu takut. Sesuatu yang benar-benar membuatmu takut."

Satyaki memejamkan mata. Dira melihat wajahnya memucat. Ia tidak bertanya apa yang dipikirkan kawannya. Tetapi ia bisa menebak. Mata merah di candi tua. Kabut putih di Hutan Larangan yang membuatnya lupa namanya sendiri.

Kyai Pring Kuning mulai bersinar.

Redup. Kuning keemasan. Seperti cahaya pelita di balik kain tipis.

"Lempar," kata Dira kepada Wulansari.

Wulansari melempar. Kerikil itu melesat ke arah dada Satyaki.

Dan sejengkal dari dada Satyaki, sejengkal dari bambu kuning yang bersinar redup itu, kerikil itu berhenti.

Tidak jatuh. Berhenti. Melayang di udara sekejap, berputar pelan, seperti daun yang tertahan angin.

Lalu berbalik.

Kerikil itu melesat kembali ke arah datangnya. Sama cepatnya. Lurus ke arah Wulansari.

Tuk.

Kerikil itu mengenai dahi Wulansari. Tepat di tengah. Persis di tempat yang sama dengan kerikil yang dulu ia lempar ke dahi Dira pada sore ketiga.

Wulansari berdiri membeku, tangan di dahi, mulut menganga.

Satyaki membuka matanya. Ia menatap Wulansari. Ia menatap bambunya. Ia menatap Wulansari lagi.

"Itu bukan aku!" teriaknya. "Wulan, sumpah, itu bukan aku! Itu bambunya!"

Di bawah pohon asam di kejauhan, sosok tegak yang selalu berdiri di sana dengan tangan bersilang, menurunkan tangannya.

Dira menatap Kyai Pring Kuning, yang masih bersinar redup di tangan kawannya. Lalu ia tersenyum. Senyum yang lebar. Senyum yang belum pernah ia rasakan sejak namanya ditulis di papan dan seluruh padepokan menertawakannya.

"Satyaki," katanya. "Kau tahu apa artinya ini?"

"Artinya Wulan akan membunuhku?"

"Artinya," kata Dira, "di ujian nanti, siapa pun yang mencoba memukulmu dengan sesuatu yang tidak bersih, akan memukul dirinya sendiri."

Wulansari menurunkan tangannya dari dahi. Ada benjolan kecil di sana, merah, sebesar kacang. Ia menatap Satyaki dengan mata menyipit.

Lalu, perlahan, ia tersenyum juga.

"Lagi," katanya, mengambil kerikil lain dari kantongnya. "Kali ini aku lempar tiga."