Bab 106Surat Salah Alamat
Dira tidak tidur malam itu.
Sapu Angin tidak mengganggunya. Burung itu berputar dengan tenang di dalam meridiannya, satu arah, pelan, mengikuti prana seperti anak burung mengikuti induknya. Lingkaran terbakar di papan dan bayangan yang bisa masuk ke dalam tembok tanpa terlihat juga tidak.
Yang membuatnya terjaga adalah dua lembar lontar.
Ia mencoba mengejar Gendhing malam itu juga. Tetapi Gendhing sudah menghilang ke dalam gelap, dan aturan Nyai melarang Dira keluar dari dapur setelah senja. Ia berdiri di ambang pintu belakang, menatap halaman yang kosong di bawah cahaya bulan, lalu kembali ke tikarnya.
"Mungkin dia beruntung," kata Ki Jalak. "Dua lontar. Dua tempat. Kemungkinannya setengah-setengah."
Gendhing tidak pernah beruntung.
"Itu benar." Burung itu diam sebentar. "Tapi kalau dia tidak beruntung, besok akan menjadi hari yang sangat menarik."
Kau terdengar senang.
"Aku sudah dua ratus warsa tidak punya hiburan, bocah. Biarkan aku."
Gendhing kembali ke dapur sebelum fajar dengan wajah berseri-seri.
"Sudah," bisiknya, berjongkok di samping tikar Dira. "Dua-duanya. Yang satu kuselipkan di bakul Ningsih. Bakulnya ditaruh di depan pintu bilik pelayan, jadi gampang. Yang satu lagi kuselipkan di bawah pintu bilik Nyai Lembah."
"Gendhing," kata Dira pelan. "Yang mana yang kau selipkan di bakul Ningsih?"
Gendhing menatapnya. "Yang untuk Ningsih."
"Bagaimana kau tahu itu yang untuk Ningsih?"
"Karena..." Gendhing berhenti. Ia membuka mulut, lalu menutupnya. Wajahnya yang berseri-seri perlahan-lahan berubah, seperti langit yang berubah dari terang ke mendung. "Karena... yang pertama kuambil dari tikar... itu yang di sebelah kiri... dan yang di sebelah kiri itu..."
Ia menatap Dira.
"Dira. Yang di sebelah kiri itu yang mana?"
Dira tidak menjawab. Ia tidak tahu. Ia meletakkan kedua lontar itu berdampingan setelah selesai menulis, dan ia tidak memperhatikan mana yang di kiri dan mana yang di kanan.
Gendhing duduk di tanah. Pelan. Seperti karung beras yang kempis.
"Aku akan mati," katanya.
Ia tidak mati. Tetapi hampir.
Pagi itu, di dapur tetua, seratus langkah dari dapur abdi, Nyai Lembah bangun sebelum kentongan subuh seperti biasa. Ia membuka pintu biliknya. Ia menemukan sehelai lontar terselip di bawah pintu. Ia memungutnya, membukanya, dan membacanya.
Nyai Lembah bisa membaca. Juru masak kadipaten harus bisa membaca daftar belanja, daftar tamu, dan daftar hidangan. Ia membaca lontar itu sekali. Lalu sekali lagi. Lalu sekali lagi, lebih pelan.
Duh, Ningsih.
Matamu seperti bintang.
Rambutmu seperti air terjun di Sendang Kalimas.
Para pelayan kadipaten yang tidur di bilik sebelah kemudian bersaksi bahwa mereka mendengar sesuatu seperti teriakan kerbau yang diinjak gajah.
Pada waktu yang sama, di depan pintu bilik pelayan, Ningsih menemukan lontar yang lain di dalam bakulnya.
Ningsih tidak bisa membaca.
Ia menatap goresan-goresan hitam di atas lontar itu dengan dahi berkerut. Ia membaliknya. Ia menatapnya dari samping. Lalu ia membawanya ke lapangan murid luar, tempat para murid luar sedang berkumpul untuk latihan subuh, dan bertanya kepada murid luar pertama yang ia temui apakah ia bisa membacakannya.
Murid luar pertama yang ia temui adalah Satyaki.
Satyaki bisa membaca. Satyaki mengambil lontar itu dengan sopan, membukanya, dan membacanya keras-keras. Dengan suara yang jelas dan lantang. Di depan tiga puluh murid luar yang sedang berbaris untuk latihan.
"Lembah," baca Satyaki. Lalu ia berhenti. Dahinya berkerut. "Lembah? Namamu Lembah?"
"Namaku Ningsih," kata Ningsih.
"Oh." Satyaki menggaruk kepala. Lalu ia melanjutkan, karena ia sudah mulai dan merasa tidak sopan berhenti di tengah. "Besok sore, setelah kentongan kedua, di halaman belakang dapur abdi. Kau bawa sambal manggamu. Aku bawa sambal Lawuku. Kita suruh tiga tetua mencicipinya. Yang kalah tidak boleh masuk dapur yang menang selama sisa waktumu di sini. Kalau kau takut, tidak usah datang. Semua orang akan tahu kenapa."
Ia membaca nama di bagian bawah.
"Darsih."
Sunyi.
Tiga puluh murid luar menatap Ningsih. Ningsih menatap lontar itu. Lalu, perlahan, wajahnya yang manis dan selalu tersenyum berubah.
Menjadi merah. Lalu lebih merah. Lalu sangat merah.
"Mbok Darsih," kata Ningsih dengan suara yang bergetar, "menantangku?"
"Sepertinya begitu," kata Satyaki dengan sangat menyesal.
"Aku pelayan," kata Ningsih. "Aku cuma pelayan. Aku baru setahun belajar membuat sambal dari Nyai Lembah. Dan juru masak paling tua di padepokan ini menantangku? Di depan tiga tetua? Dan bilang kalau aku takut, semua orang akan tahu kenapa?"
Ia mengambil lontar itu dari tangan Satyaki. Ia melipatnya dengan sangat rapi. Ia mengangkat dagunya.
"Baik," katanya. "Aku akan datang."
Lalu ia berbalik dan berjalan pergi dengan punggung yang sangat tegak, seperti prajurit yang berangkat perang.
Satyaki menatap punggungnya. Lalu menatap tiga puluh murid luar yang masih menatap. Lalu, pelan-pelan, dengan wajah orang yang baru menyadari ia melakukan sesuatu yang sangat besar, ia berkata:
"Aku rasa aku harus mencari Dira."
Dalam waktu sepenanak nasi, seluruh padepokan tahu.
Kabar dari lapangan murid luar: Mbok Darsih, juru masak tua yang paling baik di dapur abdi, menantang seorang pelayan kadipaten berumur enam belas warsa untuk adu sambal di depan tiga tetua, dengan ancaman yang sangat kejam. Kabar dari dapur tetua: Nyai Lembah, juru masak kadipaten yang paling sombong di seluruh kaki Lawu, menemukan surat cinta untuk pelayannya, dan sedang berjalan menuju dapur abdi dengan sendok kayu di tangan dan wajah seperti dewi perang.
Kedua kabar itu sampai di dapur abdi pada saat yang hampir bersamaan.
Mbok Darsih mendengarnya dari Kang Paidi, yang berlari masuk ke dapur dengan napas tersengal. Ia berdiri di depan tungku dengan sendok sayur di tangan dan wajah yang perlahan-lahan menjadi pucat.
"Aku menantang siapa?"
"Ningsih, Mbok. Pelayan kadipaten. Yang kecil. Yang suka tertawa."
"Aku tidak menantang Ningsih! Aku menantang Lembah!"
"Tapi suratnya sampai ke Ningsih, Mbok. Dan Satyaki membacanya keras-keras di lapangan murid luar. Dan semua orang dengar. Dan Ningsih bilang dia akan datang."
Mbok Darsih menoleh perlahan. Ke sudut dapur. Ke Gendhing, yang sedang mencoba menyembunyikan dirinya di belakang karung beras, tanpa banyak keberhasilan karena karung beras itu lebih kecil darinya.
"Gendhing," kata Mbok Darsih.
"Mbok."
"Kau mengantar suratku ke mana?"
Gendhing tidak menjawab. Ia menatap Dira dengan mata memohon.
Lalu pintu depan dapur terbuka dengan keras. Begitu keras sampai pintu itu menghantam dinding dan memantul kembali, dan Nyai Lembah menahannya dengan satu tangan.
Di tangan yang lain, ia mengacungkan sehelai lontar.
"SIAPA," teriak Nyai Lembah, "YANG BERNAMA GENDHING?"
Gendhing tidak menjawab. Tetapi karena seluruh dapur menoleh ke arah karung beras yang terlalu kecil, jawabannya menjadi jelas.
Nyai Lembah berjalan ke arah karung beras itu. Pelan. Dengan langkah yang berat dan pasti, seperti kerbau yang berjalan di lumpur. Ia berhenti di depan Gendhing dan menatapnya dari atas.
"Kau," katanya. "Kau yang menulis ini?"
"Saya... saya tidak bisa menulis, Nyai."
"Lalu siapa yang menulis?"
Gendhing menatap Dira. Mbok Darsih menatap Dira. Gendhis, yang baru masuk dari pintu belakang dengan ulekan di tangan, menatap Dira. Bahkan Mbah Karta, yang sedang mengasah pisau di sudut, berhenti mengasah dan menatap Dira.
Nyai Lembah menoleh perlahan.
Dira berdiri di samping tungku ketujuh, di atas kaki kiri, dengan pengaduk kayu di tangan. Ia menurunkan kaki kanannya ke tanah.
"Saya, Nyai," katanya.
Nyai Lembah menatapnya lama. Lalu ia menatap lontar di tangannya. Lalu kembali menatap Dira.
"Abdi yang menukar piring," katanya pelan. "Tentu saja. Tentu saja kau." Ia mengacungkan lontar itu. "Kau tahu apa yang kau tulis? Kau tahu apa yang ditulis di sini tentang pelayanku? Tentang anak perempuan yang dititipkan ibunya kepadaku?" Suaranya naik. "Hatiku seperti dandang yang mendidih terus sejak pertama melihatnya, dan tidak ada yang bisa menurunkannya dari tungku kecuali dia!"
Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak jatuh dari potongan dahannya. Lagi.
Di sudut dapur, Gendhis menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang.
"Itu kata-kata Gendhing, Nyai," kata Dira. "Bukan kata-kata saya. Saya cuma menulis."
"Dandang!" Nyai Lembah menoleh kepada Gendhing. "Hatimu dandang?"
"Dandang yang mendidih, Nyai," kata Gendhing dengan suara sangat kecil. "Itu artinya saya sangat..."
"Aku tahu artinya!"
Pada saat itulah Mbok Darsih menyela.
"Lembah," katanya. "Kalau kau sudah selesai berteriak kepada anak-anakku, aku mau tanya satu hal."
Nyai Lembah menoleh kepadanya.
"Surat itu," kata Mbok Darsih, "harusnya sampai ke pelayanmu. Dan suratku harusnya sampai kepadamu. Tapi anak bodoh ini menukarnya." Ia menunjuk Gendhing dengan sendok sayur tanpa menoleh. "Jadi sekarang pelayanmu mengira aku menantangnya adu sambal. Dan dia bilang dia akan datang. Nanti sore. Setelah kentongan kedua."
Nyai Lembah terdiam.
"Ningsih menerima tantangan itu?"
"Di depan tiga puluh murid luar," kata Kang Paidi dari ambang pintu, dengan nada orang yang menyampaikan kabar terpenting di dunia. "Dengan dagu terangkat. Seperti prajurit."
Nyai Lembah menatap Mbok Darsih. Mbok Darsih menatap Nyai Lembah. Udara di dapur menjadi dingin lagi, seperti kemarin ketika mereka pertama kali bertemu.
Lalu, sangat pelan, sudut bibir Nyai Lembah bergerak.
"Anak itu," katanya. "Anak itu baru setahun belajar dariku. Dan dia menerima tantangan dari juru masak empat puluh warsa. Di depan tiga tetua." Ia mendengus. "Bodoh. Sangat bodoh."
"Sangat bodoh," setuju Mbok Darsih.
"Dan sangat berani."
"Sangat berani."
Mereka saling tatap lagi. Kali ini, sesuatu di antara mereka berubah. Bukan hangat. Belum. Tetapi tidak lagi dingin.
"Kalau dia mau datang," kata Nyai Lembah, "dia tidak boleh datang sendirian. Aku yang mengajarinya membuat sambal mangga. Kalau dia kalah, aku yang malu."
"Kalau begitu," kata Mbok Darsih, "kita berdua datang. Dan kita lihat siapa yang mengajari lebih baik."
Sore itu, setelah kentongan kedua, halaman belakang dapur abdi lebih ramai dari pasar desa pada hari pasaran.
Abdi-abdi. Murid-murid luar. Beberapa murid dalam yang pura-pura kebetulan lewat. Pelayan-pelayan kadipaten. Pengawal-pengawal kadipaten. Kambing Ji, yang entah bagaimana melepaskan diri dari kandang dan berdiri di tengah kerumunan sambil mengunyah ujung kain seseorang.
Di tengah halaman, di atas sebuah meja kayu yang diangkut dari dapur, berdiri dua cobek batu. Di cobek yang satu, sambal Lawu buatan Mbok Darsih. Merah tua, kasar, berbau terasi bakar dan cabai rawit yang dibakar di bara. Di cobek yang lain, sambal mangga buatan Ningsih. Kuning kemerahan, halus, berbau manis dan asam dengan sedikit pedas.
Di belakang cobek Mbok Darsih, berdiri Mbok Darsih dengan sendok sayur. Di belakang cobek Ningsih, berdiri Ningsih dengan dagu terangkat, dan di belakangnya, seperti gunung yang menjaga desa, berdiri Nyai Lembah dengan sendok kayu.
Dan di depan meja, tiga tetua.
Mbok Darsih yang mengundang mereka, kemarin, ketika suratnya masih ditujukan untuk Nyai Lembah. Ki Sastrapawira, tetua kurus yang mencium noda jelaga di sidang halaman. Ki Brajanala, yang berdiri dengan tangan bersilang dan wajah yang tampak seperti ia lebih suka berada di tempat lain. Dan Ki Tirtakusuma.
Tidak ada yang mengundang Ki Tirtakusuma. Ia datang sendiri, karena ia mendengar kata sambal.
"CICIPI!" teriak Ki Tirtakusuma. "AKU MAU CICIPI SEKARANG! SEBELUM AKU MATI!"
Mereka mencicipi.
Ki Sastrapawira mencicipi sambal Lawu dengan sejumput nasi. Matanya berair. Wajahnya memerah. Ia batuk tiga kali, minum air dari kendi, lalu mengangguk pelan. "Jujur," katanya serak. "Sambal yang jujur."
Ia mencicipi sambal mangga. Ia mengunyah pelan. Alisnya terangkat. "Halus," katanya. "Seperti tamu yang tahu sopan santun."
Ki Brajanala mencicipi keduanya tanpa ekspresi apa pun. Lalu ia berkata, "Yang merah kalau perutmu kosong. Yang kuning kalau perutmu sakit." Dan ia tidak berkata apa-apa lagi.
Ki Tirtakusuma mencicipi sambal Lawu. Ia tidak batuk. Ia tidak berair mata. Ia mengunyah dengan mulut ompongnya, menelan, lalu berteriak, "KURANG PEDAS!"
Seluruh halaman tertawa.
Ia mencicipi sambal mangga. Ia mengunyah. Menelan. Lalu berteriak, "KURANG PEDAS JUGA!"
Lalu, sebelum ada yang bisa menghentikannya, ia mengambil sendok, menyendok sambal Lawu, menyendok sambal mangga, mencampurkan keduanya di atas nasinya, mengaduknya, dan memakannya.
Halaman itu sunyi.
Ki Tirtakusuma mengunyah. Lama sekali. Matanya yang hampir buta menatap langit sore.
"NAH," teriaknya akhirnya. "INI BARU SAMBAL!"
Ia menoleh kepada Mbok Darsih dan Nyai Lembah, atau ke arah yang ia kira tempat mereka berdiri, yang sebenarnya adalah kambing Ji.
"KALIAN BERDUA BODOH," teriaknya kepada kambing itu. "BERTENGKAR SOAL SAMBAL. KAWINKAN SAJA SAMBAL KALIAN! SELESAI!"
Kambing Ji mengembik.
Ningsih yang pertama tertawa.
Gadis berkebaya hijau pupus itu, yang sejak pagi berdiri dengan dagu terangkat dan punggung tegak seperti prajurit, tiba-tiba menutup mulutnya dengan kedua tangan, dan tawanya keluar dari sela-sela jarinya. Tawa yang terdengar sampai ke dapur tetua. Tawa yang membuat Gendhing, yang bersembunyi di balik pohon sawo sepanjang sore, menahan napas.
Lalu Mbok Darsih tertawa. Lalu Nyai Lembah, dengan enggan, dengan bibir yang berkedut-kedut, lalu dengan seluruh tubuhnya yang bulat. Lalu seluruh halaman.
Ki Sastrapawira, dengan wajah yang sangat serius, mencicipi campuran sambal itu sendiri. Lalu ia mengangguk.
"Ki Tirta benar," katanya.
Dan begitulah lahirnya sambal yang kelak dikenal di seluruh kaki Lawu sebagai Sambal Kawin. Pedas di depan, manis di belakang. Kasar di lidah, halus di tenggorokan.
Ketika kerumunan mulai bubar, Ningsih berjalan ke pohon sawo.
Gendhing melihatnya datang. Ia mencoba bersembunyi lebih dalam di balik batang pohon, tetapi batang pohon sawo, meskipun besar dan bengkok, tidak cukup besar untuk menyembunyikan orang yang wajahnya semerah cabai rawit.
Ningsih berhenti di depan pohon itu. Ia tidak menatap Gendhing. Ia menatap dahan-dahan sawo.
"Kang Gendhing," katanya.
Gendhing tidak bisa bicara.
"Nyai Lembah membacakan suratmu untukku tadi siang," kata Ningsih. "Semuanya. Dua kali. Sambil berteriak." Ia diam sebentar. "Dandang?"
"Dandang yang mendidih," bisik Gendhing.
Ningsih menatapnya. Lalu, sangat pelan, ia tersenyum. Senyum yang kecil dan malu-malu, yang sangat berbeda dari tawanya yang keras.
"Mbak Gendhis bilang," katanya, "awalnya kau mau bilang mataku seperti telur pindang."
Gendhing menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Aku suka telur pindang," kata Ningsih.
Lalu ia berbalik dan berlari kembali ke dapur tetua, kepangnya bergoyang-goyang di punggungnya. Gendhing berdiri di balik pohon sawo dengan wajah di dalam kedua tangannya untuk waktu yang sangat lama.
Ketika akhirnya ia menurunkan tangannya, ia menatap Dira, yang berdiri di ambang pintu belakang dapur dengan pengaduk kayu di tangan.
"Dira," katanya dengan suara serak. "Dia suka telur pindang."
"Aku dengar."
"Dia suka telur pindang."
Dira tertawa malam itu sampai rusuknya sakit.
Tetapi sebelum tertawa, sebelum kembali ke dapur, ada sesuatu yang ia lihat. Sesuatu yang membuat tawanya, ketika akhirnya keluar, terasa sedikit lebih pendek dari yang seharusnya.
Di tepi kerumunan yang bubar, di bawah pohon asam di kejauhan, jauh dari tawa dan sambal dan kambing yang mengembik, berdiri dua sosok.
Yang satu tua, berjanggut putih, berbeskap hitam bersulam matahari. Ki Wiradhana.
Yang lain besar, berbahu lebar, dengan jerami di rambut dan bau kandang yang bisa dicium dari sini.
Gandawasa.
Mereka tidak menonton adu sambal. Mereka berdiri berhadapan, berbicara dengan suara yang terlalu pelan untuk didengar. Ki Wiradhana berbicara. Gandawasa mendengarkan, dengan kepala tertunduk.
Lalu Ki Wiradhana mengangkat tangannya yang keriput dan meletakkannya di bahu Gandawasa. Lembut. Seperti seorang kakek menepuk cucunya.
Gandawasa tidak menepis tangan itu.
Mereka berjalan pergi bersama. Ke arah timur. Ke arah bilik-bilik tetua.
"Bocah," kata Ki Jalak pelan. Ia sudah berhenti tertawa.
Aku lihat.
"Orang yang menawarkan jalan naik," kata Ki Jalak, "sudah datang."