Sang Penelan Pusaka

Bab 105Gendhing Jatuh Cinta

Namanya Ningsih.

Gendhing mengetahuinya sebelum matahari setinggi pohon kelapa. Ia mengetahuinya dengan cara yang paling tidak masuk akal: ia mengikuti rombongan Kadipaten Karanganom dari gerbang utama sampai ke lumbung, berjalan di belakang pedati terakhir dengan dua timba kosong di tangan, seperti orang yang memang ditugasi membawa timba kosong ke lumbung. Ia menunggu di balik tiang lumbung sampai gadis berkebaya hijau pupus itu dipanggil oleh Nyai Lembah.

"Ningsih! Bakulnya taruh di sana! Jangan di situ! Di sana!"

"Iya, Nyai!"

Gendhing kembali ke dapur dengan wajah seperti orang yang baru menemukan mata air di puncak kemarau panjang.

"Ningsih," katanya kepada Dira, yang sedang mengupas bawang di atas kaki kiri. "Namanya Ningsih."

"Bagus."

"Ning. Bening. Sih. Kasih." Gendhing duduk di karung beras dan menatap langit-langit dapur yang hitam karena jelaga, seperti ada bintang-bintang di sana. "Kasih yang bening. Seperti air sendang. Seperti air mata. Seperti..."

"Seperti air timba yang kau tumpahkan tadi pagi," kata Gendhis tanpa mengangkat kepala dari ulekannya.

Gendhing tidak mendengarnya. Gendhing sudah tidak mendengar apa-apa sejak pagi tadi.


Rombongan Kadipaten Karanganom datang membawa hadiah dari Tumenggung Sasradipa untuk Ujian Murid Luar.

Tiga ratus udeng biru dari kain tenun yang bagus, untuk peserta yang lulus. Dua puluh karung beras. Sepuluh tempayan minyak kelapa. Gula aren, garam, ikan asin, dan bumbu-bumbu dalam karung-karung kecil yang baunya memenuhi lumbung. Dan Nyai Lembah, juru masak kadipaten, yang akan tinggal di padepokan sampai hari ujian untuk membantu memasak bagi seratus lebih peserta dan tamu-tamu dari desa.

Bersama empat pelayannya.

Salah satunya Ningsih.

"Dua puluh hari," kata Gendhing malam itu, berbaring di atas karung beras dengan mata terbuka. "Dua puluh hari dia akan di sini. Di padepokan kita. Di dapur kita. Memasak bersama kita."

"Di dapur tetua," kata Gendhis. "Nyai Lembah memasak di dapur tetua. Bukan di dapur abdi."

"Dapur tetua cuma seratus langkah dari sini."

"Seratus langkah yang kau tidak boleh masuk."

"Cinta," kata Gendhing dengan wajah penuh tekad, "tidak menghitung langkah."

Gendhis menatap saudaranya untuk waktu yang lama. Lalu ia menoleh ke Dira dengan wajah memohon. "Pukul dia. Dengan apa saja. Tolong."


Ada satu bungkusan lagi dari rombongan itu.

Nyai Lembah sendiri yang membawanya ke dapur abdi pada sore hari pertama. Ia berdiri di ambang pintu dengan kebaya lurik ungu dan sanggul tingginya, menatap ke dalam dapur dengan wajah seperti orang yang memasuki kandang babi, sampai matanya menemukan Mbok Darsih.

Dua juru masak itu saling tatap.

Udara di dapur menjadi dingin.

"Darsih," kata Nyai Lembah.

"Lembah," kata Mbok Darsih.

"Masih memakai cabai rawit sebanyak itu di sambalmu?"

"Masih memakai mangga untuk sambal seperti untuk bubur bayi?"

Di sudut dapur, Gendhing dan Gendhis saling pandang dengan wajah ngeri. Mbah Karta, yang sedang mengasah pisau di batu asah, berhenti mengasah dan mendengarkan dengan sangat tekun.

Nyai Lembah mendengus. Lalu matanya bergeser ke sudut lain dapur. Ke tungku ketujuh. Ke pemuda kurus yang sedang berdiri di atas satu kaki sambil mengaduk kuali.

"Kau," katanya. "Abdi yang menukar piring."

Dira berhenti mengaduk. Ia menurunkan kaki kanannya ke tanah dan menunduk.

Nyai Lembah berjalan ke arahnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik kebayanya. Sebuah bungkusan kecil berbalut kain mori putih, diikat tali rami.

"Dari Gusti Tumenggung," katanya. "Beliau mendengar ada ujian. Beliau juga mendengar ada abdi dapur yang mendaftar paling pertama. Beliau tidak bilang apa-apa lagi. Beliau cuma menyuruhku memberikan ini."

Dira menerimanya dengan kedua tangan. Ia membuka tali raminya. Membuka kain morinya.

Sepasang terompah kulit kerbau. Sederhana. Tanpa hiasan. Kulitnya tebal dan lentur, talinya dijahit dengan benang kulit yang kuat. Di bagian dalam salah satu terompah, ditoreh kecil-kecil dengan ujung pisau, ada sebuah bentuk. Bunga teratai. Sama seperti di kepingan perunggu yang diberikan Tumenggung Sasradipa kepadanya berpasar-pasar yang lalu.

Di bawah bunga teratai itu, ditoreh dua kata.

Kanggo undhak-undhakan.

Untuk anak tangga.

Dira menatap terompah itu lama. Tenggorokannya terasa sempit.

"Beliau bilang," kata Nyai Lembah, lebih pelan, dengan nada yang tiba-tiba tidak lagi sombong, "abdi yang pernah menyelamatkan nyawanya tidak boleh naik seribu anak tangga dengan kaki telanjang." Ia berdeham. "Itu kata beliau. Bukan kataku. Aku tetap pikir kau abdi yang kurang ajar karena menjatuhkan piring di depan tamu."

Lalu ia berbalik, menatap Mbok Darsih sekali lagi dengan tatapan yang bisa membuat santan pecah, dan pergi.


Pada hari kedua belas, Gendhing mulai bertindak.

Ia bangun sebelum Dira. Itu saja sudah keajaiban. Ketika Dira kembali dari jalan patah kaki dengan pikulan di pundak, ia menemukan Gendhing sudah mandi, sudah memakai baju lurik terbaiknya, dan sudah mengoleskan minyak kelapa ke rambutnya sampai mengilat seperti kulit ikan bandeng.

"Bagaimana?" tanya Gendhing, berputar di depan Dira.

"Kau bau minyak goreng."

"Itu bau orang yang serius."

Ia pergi ke dapur tetua membawa seikat kayu bakar, yang sama sekali tidak diminta siapa pun. Ia kembali tak lebih lama dari orang mengunyah sekapur sirih, tanpa kayu bakar, dengan wajah merah padam dan mata berbinar-binar.

"Dia bilang terima kasih," bisiknya kepada Dira. "Dia bilang terima kasih, Kang. Kang! Dia memanggilku Kang!"

"Semua orang memanggil laki-laki yang lebih tua Kang, Gendhing."

"Tapi tidak dengan suara seperti itu!"

Pada hari ketiga belas, ia membawa air. Pada hari keempat belas, ia membawa sayur yang sudah dipotong-potong, meski Nyai Lembah sudah memotong sayurnya sendiri. Pada hari kelima belas, ia mencoba membawa bakul Ningsih dari lumbung ke dapur tetua, tersandung akar pohon asam, dan menumpahkan seluruh isi bakul, tiga puluh butir telur bebek, ke tanah.

Tidak ada satu pun yang utuh.

Nyai Lembah mengejarnya keliling halaman dengan sendok kayu. Gendhing lari ke kandang dan bersembunyi di belakang Gandawasa. Gandawasa, yang sedang memberi makan kambing, menatapnya lama. Lalu kembali memberi makan kambing tanpa berkata apa-apa. Kambing Ji mengembik.

Ningsih, kata para abdi yang melihatnya, tertawa sampai harus duduk di tanah.

"Dia tertawa," kata Gendhing malam itu dengan nada orang yang baru mendengar wahyu. "Dia tertawa melihatku jatuh. Itu tanda. Perempuan yang tertawa melihatmu jatuh itu perempuan yang memperhatikanmu."

"Atau perempuan yang menganggapmu lucu seperti monyet," kata Gendhis.

"Monyet juga bisa dicintai!"


Pada hari keenam belas, Gendhing datang kepada Dira dengan wajah yang sangat serius.

Dira sedang duduk di samping sumur, terengah-engah, setelah sesi lemparan sore yang sangat buruk. Wulansari sudah pulang ke asrama murid luar. Satyaki sudah pulang juga, dengan kantong kacang yang kosong dan perut yang kenyang. Bahu, lengan, dan dahi Dira penuh bekas merah kecil-kecil dari kerikil sungai.

Gendhing berjongkok di depannya.

"Kau bisa menulis," katanya.

Dira menatapnya dengan curiga. "Iya."

"Seluruh padepokan tahu kau bisa menulis. Tulisanmu di papan itu lebih bagus dari tulisan juru tulis kadipaten. Raden Bayuwisesa sendiri yang bilang." Gendhing menelan ludah. "Aku mau kau menuliskan sesuatu untukku."

"Gendhing..."

"Surat." Gendhing menggenggam kedua tangan Dira. Tangannya berkeringat. "Surat untuk Ningsih. Aku yang bicara. Kau yang menulis. Lalu aku yang memberikannya."

"Ningsih bisa membaca?"

Gendhing terdiam. Ia tidak memikirkan itu.

"Dia pelayan kadipaten," katanya akhirnya. "Pelayan kadipaten pasti bisa membaca. Kadipaten itu tempat orang-orang pintar."

"Itu tidak ada hubungannya sama sekali," kata Ki Jalak.

"Dan kalau dia tidak bisa membaca," lanjut Gendhing dengan logika orang yang sedang jatuh cinta, "dia akan meminta orang lain membacakannya. Dan orang itu akan tahu betapa aku mencintainya. Dan orang itu akan menceritakannya kepada orang lain. Dan seluruh kadipaten akan tahu. Itu lebih baik lagi."

Dira menatap kawannya.

"Bocah," kata Ki Jalak. "Aku tahu kau sedang lelah. Aku tahu kau cuma punya empat belas hari lagi sebelum seribu anak tangga dan seseorang yang membakar lingkaran di papan. Tapi aku mohon. Aku mohon dengan sangat. Tuliskan surat itu."

Kenapa?

"Karena aku ingin tahu apa yang akan dia katakan."


Mereka menulisnya malam itu di samping tungku ketujuh, di atas selembar daun lontar yang dicuri Gendhing dari lumbung. Dira menggoreskan aksara dengan ujung pisau kecil, lalu menggosok goresan itu dengan jelaga dari dinding tungku supaya hitam dan terbaca.

Gendhing mendikte. Dengan mata terpejam dan tangan di dada.

"Ningsih," katanya. "Tidak. Tunggu. Duh, Ningsih. Pakai duh. Supaya terdengar sedih."

Dira menulis Duh, Ningsih.

"Matamu," kata Gendhing, "seperti... seperti..." Ia membuka mata dan menatap sekeliling dapur, mencari ilham. Matanya jatuh pada tampah di atas meja. "Seperti telur pindang."

Dira berhenti menulis.

"Gendhing."

"Telur pindang itu cokelat dan bulat dan berkilat. Seperti matanya."

"Kau tidak bisa bilang matanya seperti telur pindang."

"Kenapa tidak?"

"Karena," kata Gendhis dari dipan di sudut, di mana ia berbaring dengan wajah ditutup kain karena tidak sanggup mendengarkan, "kalau ada laki-laki yang bilang mataku seperti telur pindang, aku akan memukul kepalanya dengan ulekan sampai bentuknya seperti telur pindang."

Gendhing berpikir. "Seperti bintang?"

"Lebih baik."

Dira menulis matamu seperti bintang.

Gendhing mendikte lagi. Dan lagi. Rambut Ningsih seperti air terjun di Sendang Kalimas. Suara tawanya seperti gamelan di malam purnama. Jalannya seperti angsa di kolam teratai, sebelum ikan-ikannya mati, tambah Gendhing dengan wajah sedih, dan Dira memutuskan untuk tidak menulis bagian itu. Kebaya hijaunya seperti sawah di musim tanam. Dan hati Gendhing, kata Gendhing, seperti dandang yang mendidih terus sejak pertama melihatnya, dan tidak ada yang bisa menurunkannya dari tungku kecuali dia.

Dira menulis semuanya.

Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak berbaring telentang di atas potongan dahannya dengan kedua sayap terbentang, bahunya berguncang tanpa suara.

"Dandang," bisiknya. "Hatinya dandang. Bocah. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa."

Sapu Angin, di potongan dahan yang lain, menatap Ki Jalak dengan bingung.


Ada satu hal lagi yang ditulis Dira malam itu.

Tidak lama setelah Gendhing selesai mendikte, ketika Dira sedang menggosok aksara terakhir dengan jelaga, Mbok Darsih masuk ke dapur. Ia membawa selembar lontar lain dan wajah yang sangat bertekad.

"Ngger," katanya kepada Dira. "Kau bisa menulis. Tuliskan sesuatu untukku."

Dira dan Gendhing saling pandang.

"Untuk Lembah," kata Mbok Darsih. Rahangnya mengeras. "Tadi siang dia bilang di depan semua pelayannya bahwa sambal Lawu itu makanan orang gunung yang tidak punya lidah. Aku mau menantangnya. Secara terhormat. Tulis begini."

Ia mendikte. Dengan suara yang bergetar karena marah.

Lembah. Besok sore, setelah kentongan kedua, di halaman belakang dapur abdi. Kau bawa sambal manggamu. Aku bawa sambal Lawuku. Kita suruh tiga tetua mencicipinya. Yang kalah tidak boleh masuk dapur yang menang selama sisa waktumu di sini. Kalau kau takut, tidak usah datang. Semua orang akan tahu kenapa.

Darsih.

Dira menuliskannya. Ia menggosoknya dengan jelaga. Lalu ia meletakkan kedua lontar itu di atas tikar di sampingnya, berdampingan, sementara ia membersihkan pisau kecil dan jari-jarinya yang hitam karena jelaga.

Dua lembar lontar. Ukurannya sama. Diikat dengan tali ijuk yang sama.

"Aku yang mengantar punyaku," kata Gendhing, melompat berdiri, "besok pagi. Sebelum dia bangun. Aku akan menyelipkannya di bakulnya."

"Dan punyaku," kata Mbok Darsih, "antarkan juga, Gendhing. Ke bilik Lembah. Sekalian. Kau kan memang mau ke dapur tetua."

"Baik, Mbok!"

Gendhing menyambar satu lontar dari tikar, lalu menyambar yang lain, menyelipkan keduanya di balik bajunya, dan lari keluar dapur dengan kegembiraan orang yang tidak bisa menunggu sampai besok pagi. Mbok Darsih mengikutinya keluar, masih bergumam tentang orang gunung dan lidah.

Dira masih membersihkan jari-jarinya.

Lalu ia berhenti.

Ia menatap tikar di sampingnya. Kosong. Dua lontar itu sudah dibawa Gendhing. Dua lontar dengan ukuran yang sama dan tali ijuk yang sama.

Gendhing tidak bisa membaca.

Mbok Darsih tidak bisa membaca.

Dan Dira, yang bisa membaca, tidak memberi tanda apa pun di luar lontar-lontar itu. Tidak satu goresan pun. Tidak satu simpul yang berbeda.

"Bocah," kata Ki Jalak pelan. Ia sudah berhenti tertawa. Ia duduk tegak di atas potongan dahannya dengan mata yang sangat lebar. "Bocah. Gendhing tahu yang mana yang untuk Ningsih?"

Dira menatap pintu dapur yang terbuka. Di luar, di bawah cahaya bulan, Gendhing sudah tidak terlihat.

Tidak, kata Dira.