Bab 104Meridian Prana
Hari ketujuh, Dira naik jalan patah kaki dan sampai di atas dengan air lebih dari setengah tempayan.
Hanya sedikit lebih. Sejari, mungkin. Tetapi lebih.
Mbah Karta tidak menunggu di batu datar. Seperti yang ia katakan. Tetapi di atas batu itu, Dira menemukan sebungkus daun pisang. Di dalamnya, dua kepal nasi hangat dan sejumput garam.
Hari kedelapan, ia sampai dengan air tiga perempat tempayan. Hari kesembilan, ia jatuh di batu ke-tiga ratus dan menumpahkan hampir semuanya, lalu turun lagi ke sendang, mengisi lagi, dan naik lagi, dan sampai di atas ketika matahari sudah tinggi dan kentongan pagi sudah lama berbunyi, dan Gandawasa, yang sedang menggiring kambing-kambing ke padang rumput di lereng, menatapnya lewat dengan wajah yang tidak bisa dibaca.
Hari kesepuluh, ia naik dua kali.
Berdiri di atas kaki kiri di dalam dapur adalah siksaan yang lain lagi.
Dira mengupas bawang di atas kaki kiri. Ia mengaduk sayur di atas kaki kiri. Ia mencuci kuali di atas kaki kiri. Kaki kanannya ia lipat ke belakang, telapaknya menempel di betis kiri, seperti bangau yang berdiri di pematang sawah. Setiap beberapa tarikan napas, betis kirinya bergetar, lututnya goyah, dan ia harus menjejakkan kaki kanan ke tanah sekali sebelum mengangkatnya lagi.
Pada hari kedelapan, Gendhing mencoba menirunya.
"Kelihatannya gampang," kata Gendhing, melipat kaki kanannya ke belakang dan mengangkat sebuah kuali. "Aku bisa berdiri seperti ini seharian. Aku bisa..."
Ia jatuh ke dalam karung beras.
Karung itu terbuka. Beras berhamburan ke lantai seperti hujan putih. Gendhing terduduk di tengah-tengahnya, dengan kuali di kepala dan beras di rambut, menatap Dira dengan wajah sangat tersinggung.
"Kakimu curang," katanya.
"Kakiku lemah."
"Kalau begitu kakiku lebih lemah dari kakimu yang lemah, dan itu tidak adil."
Mbah Karta, yang sedang mengulek bumbu di sudut dapur, tidak menoleh. Ia hanya berkata dengan suara serak, "Gendhing. Beras itu dipungut satu-satu. Kalau ada yang hilang sebutir, kau yang jadi beras."
Gendhing memungut beras sampai matahari terbenam.
Sore-sore di sumur adalah yang paling melelahkan sekaligus yang paling menyenangkan.
Satyaki dan Wulansari datang setiap sore setelah latihan murid luar selesai. Mereka berdiri di sekeliling Dira, yang berdiri di tengah halaman kecil di samping sumur, dan mereka melemparinya. Satyaki membawa sekantong kacang rebus. Wulansari membawa sekantong kerikil sungai.
Pada sore pertama, Dira terkena empat puluh tujuh kali.
Pada sore kedua, tiga puluh dua.
Pada sore ketiga, Wulansari mulai melempar dua kerikil sekaligus, satu ke kepala dan satu ke kaki, dan Dira terkena enam puluh kali.
"Kau terlalu jahat," kata Satyaki kepada Wulansari, terkesan.
"Kangmas yang minta," kata Wulansari, melempar lagi. Kerikil itu mengenai dahi Dira. Tuk. "Aku cuma membantu."
"Kau kelihatan senang sekali membantu."
"Aku menghitung," kata Wulansari, dan sebutir kerikil lagi melesat dari tangannya, kali ini mengenai lutut kiri Dira tepat di tempat yang membuatnya hampir jatuh. "Setiap rahasia yang dia simpan dariku. Satu kerikil untuk setiap rahasia."
"Berapa rahasianya?"
"Banyak."
Satyaki, di sisi lain, adalah pelempar yang buruk. Bukan karena ia tidak bisa membidik. Karena setiap kali ia mengambil kacang rebus dari kantongnya untuk dilempar, setengahnya masuk ke mulutnya sendiri.
"Satyaki," kata Dira pada sore kedua, setelah tiga kali berturut-turut tidak ada kacang yang datang dari arah Satyaki.
"Mm?" Satyaki mengunyah.
"Kau makan senjatamu."
"Aku sedang mengisi tenaga." Satyaki menelan. "Pelempar yang lapar tidak bisa melempar dengan baik."
"Kau sudah makan setengah kantong."
"Berarti aku sudah setengah bertenaga."
Dan sementara itu, di kejauhan, di bawah pohon asam yang menghadap dapur, selalu ada sosok yang berdiri tegak dengan tangan bersilang. Raden Bayuwisesa. Mengawasi. Tidak pernah mendekat. Tidak pernah berkata apa-apa. Hanya mengawasi.
Pada sore ketiga, Dira melihat sesuatu yang aneh. Ketika Wulansari melempar dua kerikil sekaligus dan Dira menghindar ke kiri dengan langkah kedua Jalak Ngumbara, tubuh di bawah pohon asam itu bergerak sedikit. Kepala sedikit miring. Seperti orang yang memperhatikan sesuatu yang menarik.
Masalahnya mulai pada hari kesembilan.
Selama tiga hari pertama di sumur, Dira menghindar hanya dengan kakinya. Dengan enam langkah Jalak Ngumbara yang sudah ia kuasai. Tetapi enam langkah itu tidak cukup cepat untuk menghindari kerikil Wulansari yang semakin hari semakin jahat. Jadi pada hari kesembilan, tanpa sadar, ia melakukan apa yang ia lakukan di dapur ketika Bayuwisesa melempar kulit kacang.
Ia menarik prana.
Dari mata air di bawah pusarnya. Ke kaki. Untuk bergerak lebih cepat.
Dan ia bergerak lebih cepat. Jauh lebih cepat. Kerikil Wulansari melesat melewati tempat kepalanya berada sekejap sebelumnya. Satyaki berhenti mengunyah. Wulansari berhenti melempar.
Lalu sesuatu di betis kiri Dira terasa seperti tersobek.
Lebih dalam dari otot atau tulang. Seperti ada selokan kecil di dalam kakinya, selokan yang baru dikeruk, dan prana yang ia tarik terlalu deras menghantam dindingnya seperti air bah. Dindingnya runtuh. Sedikit. Hanya sedikit. Tetapi rasanya seperti seseorang menusukkan jarum panas dari lutut sampai ke tumit.
Ia jatuh.
Hidungnya berdarah. Ia tidak tahu kenapa hidungnya ikut berdarah, karena yang sakit adalah kakinya. Tetapi darah menetes dari hidungnya ke tanah, merah dan hangat, dan Wulansari berlari ke arahnya dengan wajah pucat.
"Bodoh," kata Ki Jalak. Suaranya tidak marah. Lelah. "Aku sudah bilang, bocah. Meridianmu masih seperti tanah liat yang belum kering. Kau tidak bisa menuang prana ke sana seperti menuang air dari gentong."
Lalu bagaimana?
"Aku tidak tahu."
Dira menatap langit sore yang mulai jingga dengan darah di bibirnya.
Kau tidak tahu?
"Aku tahu bagaimana caranya bagi orang yang meridiannya sudah kuat. Aku tahu bagaimana caranya bagi orang yang dibesarkan di padepokan sejak umur lima warsa, yang meridiannya dibuka pelan-pelan oleh guru selama sepuluh warsa." Ki Jalak diam sebentar. "Aku tidak tahu bagaimana caranya bagi abdi dapur yang meridiannya didobrak paksa dalam satu malam dan baru berumur sepuluh hari."
Malam-malam bersama Sapu Angin tidak membantu.
Setiap malam, setelah membaca angin, Dira membuka pintu untuk burung sriti kecil itu. Dan setiap malam, Sapu Angin melesat keluar dari potongan dahannya dengan kegembiraan yang tidak berkurang sedikit pun, berputar-putar di dalam meridian Dira, menyusuri lengan, kaki, tulang punggung, berulang-ulang, sampai fajar.
Dan setiap malam, Dira tidak bisa tidur.
Ia berbaring di samping tungku ketujuh dengan mata terbuka. Kakinya mengetuk-ngetuk tikar. Jari-jarinya bergerak sendiri. Setiap kali ia hampir terlelap, sesuatu di dalam dirinya tersentak bangun, seperti orang yang bermimpi jatuh. Ia bangun dan duduk. Berbaring lagi. Bangun lagi. Seratus kali dalam semalam.
Pada malam kesembilan, Mbah Karta berbicara dari dipannya tanpa membuka mata:
"Kalau kau bangun dan duduk sekali lagi, Le, aku akan mengikatmu ke tungku dengan tali kambing."
"Maaf, Mbah."
"Kau mengetuk-ngetukkan kakimu seperti tukang kendang mabuk."
"Maaf, Mbah."
Mbah Karta mendengus. Lalu, setelah lama, ia berbicara lagi. Dengan suara yang masih serak, tetapi tidak lagi mengantuk.
"Besok pagi, setelah kau naik jalan patah kaki, jangan langsung ke sumur. Bantu aku memasak."
Mereka memasak sayur lodeh.
Dira tidak mengerti kenapa. Sayur lodeh bukan masakan sulit. Ia sudah membantu memasaknya ratusan kali sejak menjadi abdi dapur. Nangka muda, kacang panjang, terong, daun melinjo, tempe, dan santan. Banyak santan.
Tetapi Mbah Karta tidak menyuruhnya memotong sayur. Mbah Karta menyuruhnya membuat santan.
Dira memarut kelapa di atas kaki kiri. Ia memeras parutan itu dengan air hangat, sekali, dua kali, sampai yang keluar dari kain saringan berwarna putih kental seperti susu. Santan kental. Ia menuangnya ke dalam mangkuk tembikar.
"Sekarang," kata Mbah Karta, "tuang ke kuali."
Kuali tanah liat sudah di atas tungku ketujuh. Apinya besar. Bumbu halus yang ditumis di dalamnya sudah harum.
Dira menuang santan itu. Semuanya. Sekaligus.
Santan itu mendidih seketika. Lalu pecah. Butiran-butiran minyak terpisah dari airnya, mengambang di permukaan seperti mata ikan, dan santan yang tadinya putih kental berubah menjadi cairan keruh yang menggumpal-gumpal.
Mbah Karta menatap kuali itu. Lalu menatap Dira.
"Pecah," katanya.
"Iya, Mbah."
"Buang. Buat lagi."
Dira membuat lagi. Memarut, memeras, menuang ke mangkuk. Lalu ia berdiri di depan kuali, ragu.
"Apinya," kata Mbah Karta. "Kecilkan."
Dira menarik beberapa batang kayu dari tungku. Apinya mengecil. Menjadi bara yang berdenyut merah.
"Tuang sedikit. Seperempat saja."
Dira menuang seperempat.
"Aduk."
Dira mengaduk. Ke kiri, ke kanan, ke kiri.
"Satu arah." Suara Mbah Karta tajam. "Jangan bolak-balik. Santan tidak suka diaduk bolak-balik. Satu arah. Pelan. Jangan berhenti."
Dira mengaduk satu arah. Searah dengan jalannya matahari. Pelan.
Santan itu tidak mendidih. Santan itu menghangat pelan-pelan, mengental, menyatu dengan bumbu, berubah warna menjadi kuning muda yang lembut.
"Tuang lagi. Seperempat."
Dira menuang lagi. Mengaduk. Satu arah. Pelan.
"Kuali tanah liat," kata Mbah Karta, sambil mengupas bawang di dingklik tanpa menatap Dira, "yang baru dibeli dari pasar, tidak boleh langsung dipakai memasak dengan api besar. Tahu kenapa?"
"Retak, Mbah."
"Retak. Tanah liatnya masih muda. Belum kenal api. Kuali baru harus diajari dulu. Direndam air beras semalam. Lalu dipanaskan dengan api kecil, kosong, sampai hangat. Lalu didinginkan. Lalu dipanaskan lagi, sedikit lebih panas. Tujuh hari. Baru setelah itu kuali itu boleh dipakai menanak nasi." Ia membuang kulit bawang ke tumpukan sampah. "Kuali yang langsung dipanaskan di api besar, retak di hari pertama. Kuali yang diajari pelan-pelan, bisa dipakai lima puluh warsa."
Dira berhenti mengaduk.
"Jangan berhenti," kata Mbah Karta.
Dira mengaduk lagi. Satu arah. Pelan.
Tetapi di dalam kepalanya, sesuatu yang sangat terang baru saja menyala.
Malam itu, ia tidak membuka pintu untuk Sapu Angin dengan cara yang sama.
Ia duduk bersila di samping tungku ketujuh. Matanya tertutup. Ia turun ke Balai Sukma, ke lantai batu hitam, ke potongan dahan tempat burung sriti kecil itu sudah menunggu dengan mata berbinar dan sayap setengah terbuka.
Tunggu, kata Dira.
Sapu Angin memiringkan kepalanya.
Malam ini, jangan melesat. Jangan berputar ke mana-mana. Ikut aku.
Lalu Dira menarik prana dari mata air di bawah pusarnya.
Tidak banyak. Seperempat. Seperti seperempat santan yang dituang ke kuali. Ia tidak menariknya ke kaki. Ia tidak menariknya ke tangan. Ia hanya menariknya keluar dari mata air, lalu menggerakkannya. Pelan. Ke tulang ekor. Ke tulang punggung. Ke bahu kanan. Ke lengan kanan. Ke telapak tangan. Lalu kembali. Ke bahu kiri. Ke lengan kiri. Ke telapak tangan kiri. Lalu turun. Ke pinggul. Ke kaki kanan. Ke kaki kiri. Ke betis yang sobek tadi siang.
Lalu kembali ke mata air.
Satu putaran. Satu arah. Searah jalannya matahari. Pelan.
Dan di belakang prana itu, mengikuti seperti anak burung mengikuti induknya, terbang Sapu Angin. Tidak melesat. Tidak berputar ke mana-mana. Hanya mengikuti. Setiap kali prana melewati dinding selokan yang rapuh, Sapu Angin mengepakkan sayapnya pelan di sana, dan Dira merasakan dinding itu mengering sedikit. Mengeras sedikit. Seperti tanah liat yang dikeringkan angin.
Tidak ada rasa sakit.
Ia melakukannya lagi. Putaran kedua. Sedikit lebih cepat. Lalu ketiga. Lalu keempat.
Di putaran ketujuh, ia menambahkan seperempat lagi.
Masih tidak ada rasa sakit. Hanya hangat. Hangat yang mengalir seperti santan yang menyatu dengan bumbu.
"Bocah," bisik Ki Jalak. Suaranya penuh keheranan. "Bocah, apa yang kau lakukan?"
Mengaduk santan, kata Dira.
Ki Jalak diam untuk waktu yang sangat lama.
"Juru masak tua itu," katanya akhirnya. "Juru masak tua itu baru saja mengajarimu sesuatu yang aku tidak tahu cara mengajarkannya. Dengan sayur lodeh."
Dari dipan bambu di sudut dapur, Mbah Karta mendengkur. Panjang. Teratur. Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam empat malam, Dira tertidur sebelum tengah malam. Bukan sekejap-sekejap. Tidur yang dalam. Sementara prana dan Sapu Angin terus berputar di dalam dirinya, satu arah, pelan, sampai fajar.
Ia bangun dengan tubuh yang terasa ringan.
Ia naik jalan patah kaki dua kali sebelum kentongan subuh. Kedua kalinya, ia sampai di atas dengan air tiga perempat tempayan, dan ia tidak muntah.
Ketika ia kembali ke dapur dengan pikulan di pundak, ia menemukan Gendhing berdiri di ambang pintu belakang. Mematung. Dengan dua timba air di tangan dan wajah yang sangat aneh. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya membesar. Pipinya merah.
Dira menurunkan pikulannya.
"Gendhing?"
Gendhing tidak menjawab. Ia menatap ke arah halaman depan padepokan, ke arah gerbang utama. Dari sana terdengar bunyi-bunyian. Langkah kaki banyak orang. Derit roda pedati. Ringkik kuda. Suara-suara yang memanggil dan menyahut.
Dira mengikuti arah tatapannya.
Melalui gerbang utama padepokan yang terbuka lebar, masuk sebuah rombongan. Pedati-pedati yang ditarik kerbau, penuh karung beras dan gulungan kain. Pengawal-pengawal berpakaian prajurit. Pemikul-pemikul dengan pikulan. Dan di bagian depan, berjalan di samping pedati pertama dengan kebaya lurik ungu dan sanggul tinggi berhias tusuk konde perak, seorang perempuan setengah baya bertubuh bulat yang Dira kenal.
Nyai Lembah. Juru masak Kadipaten Karanganom.
Tetapi Gendhing tidak menatap Nyai Lembah.
Gendhing menatap gadis yang berjalan di belakang Nyai Lembah. Seorang pelayan muda, mungkin enam belas atau tujuh belas warsa, berkebaya hijau pupus, dengan bakul di pinggang dan rambut panjang yang dikepang satu. Ia sedang tertawa kepada pelayan lain di sampingnya. Tawanya terdengar sampai ke dapur.
Kedua timba di tangan Gendhing terlepas.
Air tumpah ke tanah. Membasahi kaki Gendhing. Membasahi kaki Dira. Mengalir ke parit.
Gendhing tidak menyadarinya.
"Dira," bisiknya, tanpa melepaskan tatapannya dari gadis berkebaya hijau itu. Suaranya serak dan bergetar, seperti suara orang yang baru saja ditusuk tombak. "Dira. Aku rasa aku sedang sekarat."