Sang Penelan Pusaka

Bab 103Tiga Puluh Hari

"Pertama," kata Ki Jalak, "tongkatmu."

Dira menatap tongkat yang bersandar di dinding dekat tungku ketujuh. Tongkat kayu sawo buatan Gandawasa, dengan ujung berkain perca yang dioles getah nangka oleh Mbah Karta. Tongkat yang menemaninya sejak pulang dari Hutan Larangan. Tongkat yang dipakai Ki Wiradhana untuk memfitnahnya, dan dipakai Mbah Karta untuk membebaskannya.

Kenapa dengan tongkatku?

"Mulai besok, kau tidak memakainya lagi."

Ki Jalak, kaki kiriku baru bisa berdiri enam hari.

"Justru karena itu." Burung jalak kebo itu berjalan mondar-mandir di atas potongan dahannya, seperti guru yang berjalan di depan murid-muridnya. "Selama ada tongkat, tubuhmu akan bersandar padanya. Kaki kirimu akan malas. Kaki yang malas tidak akan pernah kuat. Kau tidak bisa memikul dua tempayan naik seribu anak tangga dengan satu tangan memegang tongkat."

Dira tidak bisa membantahnya.

"Kedua." Ki Jalak berhenti mondar-mandir. "Selama di dalam dapur, kau berdiri di atas kaki kiri. Hanya kaki kiri. Mengupas bawang, kaki kiri. Mengaduk sayur, kaki kiri. Mencuci kuali, kaki kiri. Kaki kanan boleh menyentuh tanah kalau kau hampir jatuh. Sekali. Lalu angkat lagi."

Seharian?

"Seharian. Seperti bangau di sawah."

"Ketiga," lanjut Ki Jalak sebelum Dira sempat protes. "Setiap pagi, begitu fajar menyingsing, sebelum ada yang bangun, kau turun ke Sendang Kalimas lewat jalan patah kaki. Dengan pikulan. Dua tempayan. Kau isi penuh di sendang, lalu kau bawa naik ke dapur. Jalan patah kaki tidak seribu anak tangga. Tapi lebih curam, dan licinnya jahat. Kalau kau bisa naik jalan patah kaki tanpa menumpahkan setengah tempayan, Tangga Seribu akan terasa seperti jalan ke jamban."

Berapa kali?

"Hari pertama, satu kali. Hari kelima, dua kali. Hari kesepuluh, tiga kali." Ki Jalak memiringkan kepalanya. "Hari kedua puluh, kau akan naik lima kali sebelum kentongan subuh."

Dira menatap kegelapan Balai Sukma.

Kau bilang aku tidak akan suka, katanya. Sejauh ini aku memang tidak suka.

"Oh, bocah." Ki Jalak mengembangkan bulunya. "Aku belum sampai ke bagian yang tidak akan kau sukai."


"Keempat. Setiap sore, di sumur belakang dapur, kau berdiri di tengah. Satyaki dan adikmu berdiri di sekelilingmu dan melemparimu."

Melempari apa?

"Apa saja. Kerikil. Kacang. Kulit kacang. Gumpalan tanah. Kalau perlu, ulekan Gendhis." Ki Jalak tampak sangat puas dengan pikirannya sendiri. "Kau tidak boleh menangkis dengan tangan. Kau tidak boleh lari. Kau hanya boleh bergerak dengan kakimu. Langkah Jalak Ngumbara. Enam langkah yang sudah kau kuasai. Kau menghindar, menghindar, menghindar, sampai matahari terbenam."

Kenapa?

"Karena ujian ketiga adalah adu tanding. Dan dalam adu tanding, kau akan berhadapan dengan orang yang punya pusaka. Atau tenaga. Atau dua-duanya. Kau tidak punya pusaka yang bisa kau tunjukkan, dan tenagamu masih Prana Awal. Satu-satunya yang kau punya adalah kakimu dan matamu." Ki Jalak mengetuk dahan dengan paruhnya. "Dan ketika kau sudah bisa menghindar dari tiga orang yang melemparimu sekaligus, kita akan menambah satu orang lagi."

Siapa?

"Kita lihat nanti."

"Kelima. Membaca angin." Suara Ki Jalak berubah, lebih tenang. "Hadiah Sapu Angin. Kau sudah bisa merasakan aliran udara di kulitmu. Tapi kau belum bisa membacanya. Kau tahu ada angin, tapi kau tidak tahu angin itu datang dari mana, melewati apa, dan kenapa ia berbelok di tempat ia berbelok. Kalau ujian kedua benar labirin, seperti yang dikatakan orang-orang, kau akan membutuhkannya."

Bagaimana caranya?

"Setiap malam, di samping tungku ketujuh, kau duduk dengan mata tertutup. Mbah Karta akan membuka dan menutup pintu-pintu dapur. Pintu depan. Pintu belakang. Pintu gudang beras. Jendela kecil di atas rak. Kau harus menebak mana yang dibuka, hanya dari udara yang bergerak di kulitmu."

Mbah Karta mau melakukan itu?

"Aku tidak tahu." Ki Jalak berhenti. "Itu tugasmu untuk memintanya."


"Keenam," kata Ki Jalak.

Lalu ia diam.

Lama.

Ki Jalak?

"Keenam," ulang burung itu, lebih pelan. "Langkah ketujuh."

Dira berhenti bernapas.

Ia ingat. Di jalan patah kaki, berpasar-pasar yang lalu, ketika ia masih belum berkultivasi dan Ki Jalak membuka laci-laci ingatan di Balai Sukma satu demi satu, hati-hati sekali. Langkah Jalak Ngumbara. Tujuh langkah. Enam yang pertama ia pelajari dengan susah payah, dengan lutut yang lecet dan pergelangan kaki yang terkilir. Enam langkah orang yang tidak punya prana, yang mencoba berbuat curang dengan memakai semua yang ada di sekitarnya. Batu. Dahan. Dinding. Pundak lawan.

Dan langkah ketujuh. Yang asli. Yang tidak membutuhkan batu atau dahan atau dinding.

Kau menghentakkan prana dari telapak kakimu ke udara di bawahnya. Udara itu menjadi padat sesaat, sekeras batu, cukup untuk dipijak satu kali. Lalu kau melompat lagi dari sana.

Menginjak udara.

Di bilah bambu hitungannya, di celah batu bata tungku ketujuh, ada satu goresan kosong yang ia sisakan untuk langkah itu. Nanti, kalau aku sudah sampai Prana.

Sekarang aku sudah sampai Prana, katanya.

"Prana Awal," kata Ki Jalak. "Prana Awal tidak cukup untuk menginjak udara. Prana Madya pun belum tentu cukup. Murid dalam di padepokan ini belajar langkah seperti itu bertahun-tahun." Ia diam lagi. "Tapi aku ingat sesuatu, bocah. Sejak malam itu, sejak kau menembus Prana Awal dan sesuatu di balik dinding beku mendinginkan apimu, aku mulai ingat lebih banyak. Laci-laci yang dulu terkunci mulai terbuka sendiri."

Ingat apa?

"Langkah ketujuh tidak membutuhkan banyak prana. Hanya membutuhkan prana yang tepat. Di tempat yang tepat. Pada saat yang tepat. Sebanyak setetes embun. Tidak lebih." Ki Jalak menatapnya. "Orang-orang yang belajar bertahun-tahun itu gagal karena mereka menghentakkan terlalu banyak. Mereka menendang udara seperti menendang pintu. Udara tidak suka ditendang. Udara suka diketuk."

Jadi aku bisa mempelajarinya? Dalam dua puluh lima hari?

"Aku tidak tahu." Burung itu mengembangkan bulunya. "Mungkin. Kalau kau tidak mati duluan karena lima rencana yang pertama."

Itu bagian yang tidak akan kusukai?

"Bukan." Ki Jalak memiringkan kepalanya. "Bagian yang tidak akan kau sukai adalah yang ketujuh."


"Ketujuh," kata Ki Jalak. "Kau makan sepuluh piring sehari."

Dira menatap burung itu.

Itu bagian yang tidak akan kusukai?

"Bukan. Itu bagian yang akan kau sukai. Aku cuma ingin kau punya satu hal yang menyenangkan sebelum aku memberitahumu bagian yang tidak akan kau sukai."

Ki Jalak.

"Kedelapan."

Burung itu menatapnya lurus-lurus. Tidak ada canda di matanya yang kecil dan hitam.

"Setiap malam, setelah membaca angin, sebelum tidur, kau membuka pintu untuk Sapu Angin."

Membuka pintu?

"Kau biarkan dia keluar. Sepenuhnya. Seperti di atas atap bilik tetua, waktu kau melawan pemuda bercincin itu. Tapi kali ini kau tidak melemparkannya ke luar. Kau biarkan dia berputar di dalam tubuhmu. Di meridianmu. Sepanjang malam. Sampai fajar."

Dira diam.

Kenapa?

"Karena meridianmu baru dibuka enam malam, bocah. Mereka masih seperti selokan yang baru dikeruk. Tanahnya masih lembek. Dindingnya masih rapuh. Kalau kau memaksakan prana mengalir deras di hari ujian, dindingnya akan runtuh." Ki Jalak mengatupkan paruhnya. "Sapu Angin akan mengeraskan dindingnya. Seperti angin yang mengeringkan tanah liat. Setiap malam. Sedikit demi sedikit."

Itu tidak terdengar buruk.

"Itu karena kau belum mencobanya." Suara Ki Jalak menjadi sangat pelan. "Gema ketiga, bocah. Gelisah bila diam. Kau ingat sepasar setelah menelan Sapu Angin? Kau tidak bisa duduk diam. Kau berdiri dan duduk seratus kali sehari. Kau tidak bisa bersemadi. Kau hanya tidur sekejap-sekejap."

Dira ingat.

"Itu waktu Sapu Angin masih tidur di dalam dirimu," kata Ki Jalak. "Bayangkan kalau dia bangun. Berputar. Sepanjang malam. Di dalam meridianmu."

Dira membayangkannya.

Aku tidak akan bisa tidur.

"Kau akan tidur," kata Ki Jalak. "Sedikit. Sekejap-sekejap. Seperti burung di dahan yang bergoyang ditiup badai. Selama dua puluh lima malam." Ia diam sebentar. "Aku bilang kau tidak akan suka."


Di Balai Sukma, di atas potongan dahan yang lain, Sapu Angin mengangkat kepalanya dari bawah sayap.

Matanya yang kecil dan bulat berkilat. Ia menatap Ki Jalak. Lalu menatap Dira. Lalu, perlahan, bulu-bulunya yang kelabu kebiruan mulai mengembang. Satu demi satu. Seperti anak burung yang baru diberi tahu bahwa ia boleh terbang ke mana pun ia suka, sepanjang malam, setiap malam, selama dua puluh lima malam.

"Cicit," kata Sapu Angin.

Sangat pelan. Sangat bahagia.

Dira memejamkan matanya.


Pagi berikutnya, sebelum kentongan subuh, Dira berdiri di ambang pintu kandang kambing.

Fajar baru menyingsing segaris tipis di ufuk timur. Udara dingin dan basah. Di dalam kandang, kambing-kambing masih meringkuk di atas jerami. Di sudut kandang, di atas tikar pandan yang dulu milik Mbah Sarju, Gandawasa tidur dengan kambing Ji di sampingnya.

Gandawasa membuka mata ketika Dira berdiri di ambang pintu. Ia tidak terkejut. Ia hanya menatap.

Lalu matanya turun ke tongkat di tangan Dira.

Dira melangkah masuk. Ia berjalan tanpa bertumpu pada tongkat itu. Kaki kirinya bergetar di setiap langkah, tetapi menapak. Ia berhenti di depan tikar Gandawasa dan mengulurkan tongkat itu dengan kedua tangan. Seperti abdi menyerahkan sesuatu kepada tetua.

"Tongkatmu, Kakang," katanya. "Kau bilang kupinjamkan. Jangan dijatuhkan lagi. Aku tidak menjatuhkannya. Sekarang aku mengembalikannya."

Gandawasa menatap tongkat itu lama. Lalu ia duduk, mengambilnya, dan meletakkannya di atas lututnya. Ia meraba ujungnya. Kain perca. Getah nangka yang keras.

"Kau ikut ujian," katanya. Bukan pertanyaan.

"Iya, Kakang."

Gandawasa mengangguk pelan. Ia tidak menatap Dira. Ia menatap tongkat di pangkuannya.

"Tangga Seribu," katanya. "Aku pernah naik sampai separuh. Waktu umur enam belas. Disuruh mengantar air untuk tetua yang bersemadi di Watu Gilang. Dua tempayan. Aku muntah dua kali di tengah jalan. Airnya tinggal seperempat waktu aku sampai. Aku dicambuk lima kali karena itu." Ia mendengus pelan. "Seribu anak tangga. Jangan lihat ke atas. Lihat kakimu. Kalau kau lihat ke atas, kau akan menghitung berapa yang belum, dan kau akan menyerah."

"Terima kasih, Kakang."

Gandawasa diam. Lalu, setelah lama, ia bertanya dengan suara yang sangat pelan. Begitu pelan sampai Dira hampir tidak mendengarnya.

"Umur berapa batasnya?"

Dira menatapnya.

"Ujian itu," kata Gandawasa, masih menatap tongkat. "Kata Ki Ageng, lima belas sampai berapa?"

"Dua puluh lima, Kakang."

Gandawasa tidak berkata apa-apa. Ia mengangguk sekali. Pelan. Lalu ia berbaring lagi, memunggungi Dira, dengan tongkat itu di sampingnya. Kambing Ji mengangkat kepala, menatap Dira dengan mata jahatnya, lalu meletakkan kepalanya kembali di bahu Gandawasa.

Dira berdiri di sana sebentar. Lalu ia berbalik dan keluar.

"Bocah," bisik Ki Jalak. "Umurnya dua puluh dua. Masih tiga warsa di bawah batas."

Aku tahu.


Pikulan bambu itu lebih berat dari yang ia kira.

Dua tempayan tanah liat, masing-masing sebesar kepala kerbau, tergantung di kedua ujungnya dengan tali ijuk. Kosong. Bahkan kosong pun, beratnya membuat bahu kanan Dira melesak.

Ia berjalan ke ujung lereng di belakang padepokan, ke mulut jalan patah kaki. Jalan setapak itu menurun tajam di depannya, berkelok-kelok seperti ular yang menggeliat, batu-batunya licin oleh embun, menghilang ke dalam kabut di bawah sana. Di dasarnya, jauh, Sendang Kalimas.

Turun lebih mudah. Kaki kirinya bergetar di setiap batu, dan sekali ia hampir tergelincir ke jurang di sebelah kanan, tetapi tempayan-tempayan itu kosong, dan ia sampai di sendang ketika langit sudah mulai terang.

Ia mengisi kedua tempayan itu sampai penuh. Air sendang dingin dan jernih seperti air mata.

Lalu ia mengangkat pikulannya.

Bahunya menjerit. Lututnya bergetar. Kaki kirinya tertekuk, lalu menegak lagi, lalu tertekuk lagi. Air memercik dari kedua tempayan dan membasahi kakinya.

Ia mendongak. Menatap jalan patah kaki yang mendaki di depannya, berkelok-kelok, hilang ke dalam kabut di atas sana.

Jangan lihat ke atas, kata Gandawasa. Lihat kakimu.

Ia menunduk. Ia menatap kakinya. Ia melangkah.

Satu batu. Dua batu. Tiga.

Lima puluh batu kemudian, air di tempayan depan sudah berkurang seperempat, karena ia tergelincir dua kali. Seratus batu kemudian, bahunya berdarah di bawah pikulan. Dua ratus batu kemudian, ia berhenti, berlutut, dan muntah ke semak-semak. Persis seperti Gandawasa. Ia hampir tertawa.

Ia bangkit. Ia melangkah lagi.

Ketika akhirnya ia sampai di mulut jalan patah kaki, di tepi lereng di belakang padepokan, matahari sudah setinggi tombak dan langit sudah biru. Kakinya tidak lagi terasa seperti kakinya. Bahunya tidak lagi terasa seperti bahunya. Ia menurunkan pikulan dan menatap kedua tempayan itu.

Setengah. Kurang sedikit dari setengah.

Gugur, pikirnya.

"Hari pertama," kata Ki Jalak. "Masih ada dua puluh empat lagi."

Lalu Dira mendongak. Dan ia melihat bahwa ia tidak sendirian.

Di atas sebongkah batu datar di tepi lereng, tempat jalan patah kaki bermula, duduk seorang laki-laki tua. Bungkuk. Berselendang lusuh. Mengunyah sirih dengan mulut setengah ompong, dan meludahkan air sirih yang merah ke semak-semak dengan sangat tepat.

Di sampingnya, di atas batu, berdiri dua tempayan tanah liat. Penuh. Sampai ke bibirnya. Basah di bagian luar oleh embun dan air sendang yang masih dingin.

Tidak ada setetes pun yang tumpah.

Mbah Karta menatap Dira. Lalu menatap dua tempayan Dira yang tinggal setengah. Lalu kembali menatap Dira. Ia mengunyah sirihnya pelan-pelan.

"Lambat," katanya.

Lalu ia bangkit, mengangkat pikulannya sendiri ke pundaknya dengan satu tangan, dan berjalan kembali ke dapur. Bersiul. Tanpa setetes air pun yang memercik.

"Besok," katanya tanpa menoleh, "aku tidak menunggu."