Bab 102Rival di Dapur
Tidak ada yang bergerak.
Dandang yang dijatuhkan Gendhing masih berguling pelan di lantai tanah, makin lambat, makin lambat, sampai akhirnya berhenti di kaki tungku ketujuh dengan bunyi teng yang kecil. Bara di dalam tungku berdenyut. Di dipan bambu di sudut, Mbah Karta mendengkur, panjang dan teratur, terlalu teratur.
Raden Bayuwisesa melangkah masuk. Ia menutup pintu di belakangnya.
Lalu ia berdiri di tengah dapur abdi, dan untuk sesaat, ia tampak tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan dirinya sendiri.
Dira bisa melihatnya. Putra ketua padepokan, pemilik Kyai Nagageni, murid dalam tingkat Prana Puncak, berdiri di antara rak-rak kuali yang berjelaga dan karung-karung beras yang menggembung, di bawah langit-langit yang hitam oleh asap bertahun-tahun, dan matanya bergerak ke sana kemari seperti orang yang tersesat di pasar. Ke tungku-tungku. Ke tumpukan kayu bakar. Ke gantungan bawang merah yang menjuntai dari balok atap. Ke Gendhing, yang masih mematung dengan mulut terbuka. Ke Gendhis, yang perlahan-lahan menyembunyikan ulekan di balik punggungnya.
"Kalian," kata Bayuwisesa kepada si kembar. "Keluar."
Gendhis menarik lengan Gendhing. Mereka berdua berjalan ke pintu belakang, menunduk, cepat-cepat. Pintu belakang terbuka. Lalu tertutup.
Lalu, tanpa suara, terbuka lagi sejengkal.
Dira melihatnya dari sudut matanya. Bayuwisesa tidak.
"Duduk," kata Dira.
Bayuwisesa menatapnya.
"Maaf, Raden." Dira menunduk. "Maksud saya, silakan duduk, Raden. Di dapur ini tidak ada tikar untuk tamu. Tapi ada dingklik."
Ia menunjuk sebuah dingklik kayu di samping tungku ketujuh. Dingklik yang biasa dipakai Mbah Karta untuk duduk sambil meniup api. Rendah. Sangat rendah. Hanya sejengkal dari tanah.
Bayuwisesa menatap dingklik itu. Lalu ia menatap Dira. Lalu, dengan gerakan yang sangat hati-hati, seperti orang yang belum pernah duduk di atas sesuatu yang lebih rendah dari lututnya sendiri, ia menurunkan tubuhnya ke atas dingklik itu.
Lututnya hampir menyentuh dagunya.
Ia duduk di sana, kaku, tegak, dengan kedua lutut terangkat tinggi seperti belalang, Kyai Nagageni miring di pinggangnya dengan ujung warangka yang menancap ke tanah.
Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak membuat bunyi seperti kendi yang tersumbat.
Jangan tertawa, pikir Dira.
"Aku tidak tertawa. Aku sedang... bernapas."
Dari celah pintu belakang yang terbuka sejengkal, terdengar bunyi kecil. Seperti seseorang yang tersedak sesuatu. Lalu bunyi tamparan pelan. Lalu sunyi.
Bayuwisesa tidak menoleh. Ia menatap Dira dengan wajah yang sangat datar, wajah orang yang sudah memutuskan untuk tidak menyadari bahwa ia sedang duduk seperti belalang.
"Hapus namamu," katanya.
Dira tidak menjawab.
"Dari papan itu," kata Bayuwisesa. "Besok pagi. Sebelum orang-orang datang ke lapangan. Hapus namamu. Kalau tintanya tidak bisa hilang, coret. Aku akan bilang kepada ayahku bahwa kau mundur karena kakimu. Tidak ada yang akan bertanya."
"Kenapa, Raden?"
"Karena kau bodoh kalau tidak melakukannya." Bayuwisesa menatap tungku ketujuh. Cahaya bara memantul di matanya yang dingin. "Lingkaran itu. Di samping namamu. Ayahku menjaga papan itu dengan dua murid dalam setiap malam. Tetapi tadi malam, aku berjaga sendiri sebentar, sebelum giliran pertama. Aku berdiri di bawah pohon asam dan menunggu." Ia berhenti. "Kau tahu apa yang kulihat?"
Dira menggeleng.
"Tidak ada," kata Bayuwisesa. "Tidak ada apa-apa. Tidak ada yang datang. Tidak ada yang lewat. Dan lingkaran itu tetap di sana, dan masih hangat waktu kusentuh. Sudah empat hari. Masih hangat." Ia menoleh ke Dira. "Yang membakarnya bisa masuk ke dalam tembok padepokan ini tanpa terlihat. Dengan gerbang yang ditutup. Dengan penjaga di setiap sudut. Dan dalam dua puluh lima hari, gerbang padepokan akan dibuka lebar-lebar. Seratus lebih orang dari desa-desa akan masuk. Orang-orang yang tidak kita kenal. Ujian akan diadakan di tempat terbuka. Di tangga bukit. Di lapangan. Di depan semua orang."
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Lututnya hampir menyentuh dadanya.
"Kalau aku orang yang membakar lingkaran itu," katanya pelan, "aku akan menunggu hari ujian. Lalu aku akan masuk bersama seratus orang lainnya. Lalu aku akan menunggu sampai kau sendirian di tangga, atau di semak, atau di mana saja yang tidak terlihat oleh tetua. Dan aku tidak perlu repot-repot memfitnahmu lagi."
Dapur itu sunyi.
"Raden," kata Dira pelan. "Kenapa Raden peduli?"
Bayuwisesa tidak langsung menjawab.
"Aku tidak peduli," katanya akhirnya. "Aku sudah bilang di tiang hukuman. Tugasku menjaga rumah ini, bukan menjaga kau." Ia menegakkan punggungnya di atas dingklik yang terlalu rendah. "Tapi ayahku menyuruhku mengawasimu. Kalau kau mati di hari ujian, di bawah pengawasanku, ayahku akan menatapku dengan cara yang tidak kusukai. Dan aku tidak mau ditatap seperti itu karena seorang abdi dapur."
"Bohong," bisik Ki Jalak. "Setengahnya bohong. Yang setengahnya lagi dia sendiri belum tahu."
"Lagi pula," kata Bayuwisesa, lebih pelan, "kalau kau ikut ujian dan jatuh di tangga pertama, abdi-abdi itu ikut jatuh bersamamu. Mbok Darsih. Kang Paidi. Dua abdi kandang yang namanya kau tuliskan di papan." Ia menatap Dira. "Dan kalau kau ikut dan lulus, murid-murid luar akan membencimu sampai kau tua. Kau akan berlatih di lapangan yang sama dengan anak-anak yang menyanyikan pantun kodok itu. Setiap hari. Selama bertahun-tahun." Ia berhenti. "Tidak ada jalan yang baik untukmu di ujian ini, abdi dapur. Hapus namamu."
Dira menatap bara di tungku ketujuh.
Ia memikirkan Mbok Darsih, berdiri di depan papan dan menatap tulisan yang tidak bisa ia baca. Ia memikirkan Darmo dan Tukiran, dengan wajah merah padam dan tangan gemetar. Ia memikirkan Mbah Sarju, yang tertidur di balai pengobatan dan menjadi semakin kurus setiap hari. Ia memikirkan benang hitam yang mengalir di udara pagi dari atap balai pengobatan ke bilik-bilik tetua.
"Raden," katanya. "Kalau saya menghapus nama saya, apakah lingkaran itu akan hilang?"
Bayuwisesa tidak menjawab.
"Kalau saya tinggal di dapur ini selama dua puluh lima hari, menanak nasi dan mengupas bawang dan tidur di samping tungku ketujuh, apakah orang yang membakar lingkaran itu akan berhenti mencari saya?"
Bayuwisesa tidak menjawab.
"Mbah Sarju tidak pernah mendaftar ujian apa pun, Raden," kata Dira. "Dia cuma abdi kandang yang pikun. Dia tidur di antara kambing-kambing. Dia tidak pernah keluar dari kandang itu selama tiga puluh warsa." Ia menatap putra ketua itu. "Dan sekarang dia tidur di balai pengobatan dan tidak bangun."
Ia menunduk lagi. Seperti abdi menunduk kepada tetua.
"Bersembunyi tidak menyelamatkan Mbah Sarju, Raden. Saya tidak tahu apa yang bisa menyelamatkan saya. Tapi saya tahu bukan itu."
Bayuwisesa diam untuk waktu yang sangat lama.
Lalu, tanpa peringatan, tangannya bergerak.
Cepat. Sangat cepat. Dira tidak melihat tangannya bergerak. Ia hanya melihat sesuatu yang kecil melesat dari jari-jari Bayuwisesa, dari jarak dua langkah, lurus ke arah wajahnya. Sesuatu yang kecil dan kecokelatan, berputar di udara, berdesing seperti batu dari umban. Kulit kacang. Salah satu kulit kacang rebus yang Dira kupas tadi, yang berserakan di lantai di samping tungku.
Tangan Dira bergerak sendiri.
Ia tidak memutuskan untuk menggerakkannya. Ia tidak berpikir. Mata air hangat di bawah pusarnya berdenyut sekali, dan sesuatu mengalir dari sana ke bahu kanannya, ke lengannya, ke telapak tangannya, ke garis-garis telapak tangan tempat Sapu Angin tidur. Tangannya terangkat. Jari-jarinya menutup.
Kulit kacang itu berhenti di dalam genggamannya. Sejengkal dari hidungnya.
Dira menatap tangannya sendiri. Lalu ia membukanya. Kulit kacang itu tergeletak di telapak tangannya, sedikit hangat, retak di ujungnya karena ditangkap terlalu keras.
Bayuwisesa menatapnya.
"Prana," katanya. Bukan pertanyaan.
Dira tidak menjawab.
"Enam hari yang lalu," kata Bayuwisesa pelan, "kau jatuh di pasir seperti karung goni di depan lima ratus orang. Kau tidak bisa berdiri di atas kaki kirimu. Kau masih Raga, aku bisa melihatnya dari cara kau bernapas." Matanya menyipit. "Sekarang kau menangkap kulit kacang yang kulempar dengan prana. Apa yang terjadi?"
"Saya makan lima piring, Raden."
"Benar, Raden!"
Suara itu datang dari pintu belakang. Nyaring. Antusias. Lalu segera tercekik, seperti ada yang membekap mulutnya dengan telapak tangan.
Bayuwisesa menoleh ke pintu belakang. Pintu itu tertutup rapat. Sangat rapat. Terlalu rapat.
Ia menatap pintu itu lama. Lalu ia kembali menatap Dira. Wajahnya tidak berubah. Tetapi sudut bibirnya, sekali lagi, bergerak. Sedikit sekali.
"Lima piring," ulangnya datar.
"Dan satu dandang kecil, Raden."
Bayuwisesa bangkit dari dingklik.
Ia melakukannya dengan kesulitan yang sangat berwibawa. Lututnya berbunyi. Warangka Nagageni menggores lantai tanah. Ketika akhirnya ia berdiri tegak lagi, ia merapikan kainnya dengan satu gerakan tangan dan menatap Dira dari atas, seperti tidak pernah duduk seperti belalang.
"Ujian pertama," katanya, "selalu sama sejak zaman pendiri. Tangga Seribu."
Dira mengangkat kepalanya.
"Seribu anak tangga batu di lereng bukit di belakang padepokan. Dari kaki bukit sampai ke Watu Gilang di puncaknya. Setiap peserta memikul dua tempayan air di pundak. Satu di depan, satu di belakang. Peserta yang sampai di puncak dengan air kurang dari setengah tempayan, gugur. Peserta yang sampai setelah matahari tergelincir, gugur." Bayuwisesa menatapnya. "Kaki kirimu baru bisa berdiri enam hari. Seribu anak tangga, abdi dapur. Dengan dua tempayan."
"Kenapa Raden memberitahu saya?"
"Karena aku tidak mau kau kalah karena tidak tahu," kata Bayuwisesa. "Kalau kau kalah, aku mau kau kalah karena memang kalah. Supaya tidak ada yang bisa bilang abdi dapur itu sebenarnya bisa menang, kalau saja dia diberi tahu."
Ia berjalan ke pintu depan. Membukanya. Lalu berhenti di ambang pintu, tidak menoleh.
"Dan kalau kau lulus," katanya, "kalau entah bagaimana kau lulus dan menjadi murid luar, aku akan memintamu berlatih tanding denganku. Di lapangan murid luar. Di depan semua murid. Supaya semua orang tahu di mana tempatmu."
"Baik, Raden."
"Itu bukan tawaran, kodok. Itu peringatan."
Lalu ia pergi.
Pintu belakang terbuka. Gendhing dan Gendhis berjatuhan masuk, bertumpuk satu di atas yang lain, karena keduanya bersandar ke pintu itu terlalu keras.
"Kau dengar dia?" bisik Gendhing, masih berbaring di atas Gendhis. "Kau dengar? Dia bilang peringatan! Putra Ki Ageng! Dia memperingatkanmu! Di dapur kita!"
"Turun dari atasku."
"Dan dia duduk di dingklik Mbah Karta! Seperti belalang! Aku hampir mati menahan tawa!"
"Kau tidak menahannya. Kau berteriak benar, Raden."
"Aku cuma mendukung kebenaran!"
"TURUN DARI ATASKU."
Gendhing turun. Gendhis bangkit dengan ulekan di tangan dan wajah yang menjanjikan pembalasan.
Di dipan bambu di sudut dapur, dengkuran Mbah Karta berhenti. Juru masak tua itu tidak membuka matanya. Ia hanya berbicara, dengan suara serak orang yang setengah tidur:
"Anak itu jujur. Jarang ada yang jujur di padepokan ini." Ia menggaruk perutnya. "Dingklikku jangan dipinjamkan ke dia lagi. Kakinya terlalu panjang. Nanti patah."
Lalu ia mendengkur lagi.
Dira duduk di samping tungku ketujuh lama setelah si kembar kembali ke barak.
Ia menatap kulit kacang di telapak tangannya. Retak di ujungnya. Sedikit hangat.
Tangga Seribu, pikirnya. Dua tempayan. Kaki kiri yang baru bisa berdiri enam hari. Dan seseorang di luar sana yang bisa masuk ke dalam tembok tanpa terlihat, menunggu.
Dua puluh lima hari.
"Bocah," kata Ki Jalak.
Suaranya aneh. Ada sesuatu di dalamnya yang belum pernah Dira dengar dari burung itu sebelumnya. Sesuatu seperti semangat. Sesuatu seperti orang tua yang baru saja teringat masa mudanya.
Apa?
"Aku punya rencana."
Dira menatap kegelapan Balai Sukma. Di atas potongan dahannya, burung jalak kebo itu berdiri tegak dengan bulu-bulu mengembang dan mata yang berkilat.
"Dua puluh lima hari," kata Ki Jalak. "Seribu anak tangga. Labirin, kalau benar kata orang tentang ujian kedua. Adu tanding. Dan seseorang yang membakar lingkaran di papan." Ia mengepakkan sayapnya sekali. "Aku sudah menghitungnya, bocah. Dari tadi. Selama putra ketua itu duduk seperti belalang. Dan aku punya rencana."
Rencana apa?
Ki Jalak memiringkan kepalanya.
"Kau tidak akan suka."