Sang Penelan Pusaka

Bab 101Abdi yang Mau Jadi Murid

Ki Ageng Suryadharma datang ke papan pendaftaran sebelum matahari terbit.

Bayuwisesa yang memanggilnya. Dira tidak tahu bagaimana putra ketua itu menyampaikan kabarnya, apakah ia berlari ke bilik ayahnya atau hanya mengirim seorang murid dalam, tetapi sebelum kabut fajar tersibak, Ki Ageng sudah berdiri di depan papan kayu jati itu. Di sampingnya Ki Brajanala. Di belakangnya Bayuwisesa, dengan wajah datar dan tangan di gagang Nagageni.

Dira berdiri agak jauh, di bawah pohon asam, bersandar pada tongkatnya. Tidak ada yang menyuruhnya pergi.

Ki Ageng menatap lingkaran terbakar itu lama sekali. Ia tidak menyentuhnya. Ia hanya menatap, dan sesekali menarik napas pelan melalui hidung, seperti orang yang mencoba mengenali bau.

Lalu ia menatap kata di bawahnya. Belum.

"Ki Ageng," kata Ki Brajanala pelan. "Saya bisa menyuruh tukang kayu menyerut papan ini. Atau menggantinya dengan yang baru. Sebelum murid-murid luar datang dan melihat."

"Tidak."

Ki Brajanala menunggu.

"Biarkan," kata Ki Ageng. "Biarkan semua orang melihatnya. Dan biarkan siapa pun yang membakarnya tahu bahwa kita juga melihatnya." Ia berbalik. "Mulai malam ini, dua murid dalam menjaga papan ini dari senja sampai fajar. Berpasangan. Bergiliran. Kalau ada yang mendekat, mereka memukul kentongan."

"Baik, Ki Ageng."

Ki Ageng berjalan pergi. Ketika ia melewati pohon asam, ia tidak menoleh ke arah Dira. Tetapi langkahnya melambat sedikit. Hanya sedikit. Seperti orang yang berpikir untuk mengatakan sesuatu, lalu memutuskan untuk tidak mengatakannya.

Lalu ia sudah lewat.


Mbah Karta datang ke papan itu tidak lama kemudian, membawa sapu lidi dan bergumam tentang daun-daun asam yang mengotori jalan setapak.

Ia menyapu. Pelan. Ke kiri, ke kanan. Sampai ke kaki papan. Lalu ia berhenti, bersandar pada gagang sapunya, dan menatap lingkaran terbakar itu dengan mata keruh yang berkedip-kedip.

"Siapa yang menempelkan bara di papan?" gumamnya kepada siapa pun. "Anak-anak zaman sekarang. Tidak ada kerjaan."

Lalu ia membungkuk sedikit. Mengendus. Sekali.

Dira, yang berdiri cukup dekat untuk mendengar, melihat sesuatu berubah di wajah juru masak tua itu. Bukan banyak. Hanya kerutan di antara alisnya yang menjadi sedikit lebih dalam.

"Belum," gumam Mbah Karta. Sangat pelan. Hanya untuk dirinya sendiri, atau untuk Dira. "Bagus. Kalau masih belum, berarti masih ada waktu."

Lalu ia kembali menyapu, bersiul-siul, dan berjalan pergi tanpa menoleh.


Pada hari kedua, nyanyian itu dimulai.

Dira pertama kali mendengarnya di dekat sumur, dari sekelompok anak-anak abdi yang sedang bermain lompat tali dengan tali timba bekas. Lima anak, umur tujuh atau delapan warsa, melompat-lompat bergantian sambil bernyanyi dengan suara nyaring:

Ada abdi berkaki pincang,

mau jadi murid membawa sendok,

kalau kalah jangan menangis lantang,

pulang ke dapur menggoreng kodok!

Anak-anak itu tertawa terpingkal-pingkal setiap kali sampai di kata kodok, lalu mengulanginya dari awal.

Dira berhenti di tengah jalan dengan dua timba air di tangannya.

"Kodok," kata Ki Jalak.

Aku dengar.

"Dari mana mereka tahu kodok?"

Dira menoleh. Di kejauhan, di bawah pohon asam yang menghadap dapur, berdiri sesosok tubuh yang selalu berdiri di sana sejak dua hari ini. Tegak. Tangan bersilang. Wajah datar.

"Ah," kata Ki Jalak.

Dira menatap Raden Bayuwisesa dari kejauhan. Raden Bayuwisesa menatapnya balik. Lalu, sangat pelan, putra ketua itu menoleh ke arah lain. Ke atap lumbung. Seperti ada sesuatu yang sangat menarik di sana.

"Dia tidak bermaksud," kata Ki Jalak, terdengar seperti sedang menahan tawa. "Kurasa dia cuma menggumamkannya sekali di dekat orang yang salah. Dan orang yang salah itu menceritakannya ke orang yang lebih salah lagi. Dan sekarang seluruh anak-anak padepokan menyanyikannya."

Aku tidak keberatan.

"Sungguh?"

Pantun itu salah, pikir Dira, mengangkat timbanya lagi. Aku tidak pernah menggoreng kodok. Mbah Karta tidak mengizinkan kodok masuk dapur.


Nyanyian itu menyebar seperti api di jerami.

Pada sore hari kedua, para murid luar menyanyikannya di lapangan, sambil berlatih kuda-kuda. Pada malam hari kedua, seseorang menyanyikannya keras-keras di depan pintu dapur, lalu lari terbirit-birit sebelum Gendhis sempat keluar dengan ulekannya. Pada pagi hari ketiga, Dira menemukan seekor kodok hidup di dalam kendi airnya.

Kodok kecil. Hijau kecokelatan. Menatapnya dari dasar kendi dengan mata bulat yang sangat tenang.

Dira menatapnya balik.

"Jangan," kata Ki Jalak.

Jangan apa?

"Jangan kau goreng. Aku tahu kau sedang memikirkannya."

Dira mengangkat kendi itu, berjalan ke parit di belakang dapur, dan menuang kodok itu ke dalam air. Kodok itu berenang pergi tanpa menoleh.

Itu baru permulaan.

Pada hari ketiga, seseorang menyembunyikan tongkatnya. Dira menemukannya sepenanak nasi kemudian di atas atap lumbung, diikat dengan tali rami seperti bendera. Pada hari keempat, garam dicampurkan ke dalam gentong air minum di dapur abdi, gentong yang biasa ia isi, dan Mbok Darsih memuntahkan airnya ke lantai sambil memaki seluruh keturunan pelakunya sampai tujuh turunan. Pada hari kelima, seseorang menggambar periuk nasi di dinding gubuk orang sakit, di samping tulisan miring yang kasar: RUMAH CALON MURID.

Dira tidak membalas.

Ia tidak membalas karena ia menghitung. Dan hitungannya mengatakan sesuatu yang menarik: orang-orang yang mengejeknya paling keras bukan orang-orang yang kuat, bukan murid dalam atau murid luar yang sudah tiga-empat warsa berlatih. Yang paling keras adalah murid luar tahun pertama. Anak-anak yang baru beberapa candra memakai udeng biru. Anak-anak yang, kalau Ujian Murid Luar dibuka bagi siapa pun, tiba-tiba tidak lagi istimewa.

"Mereka takut," kata Ki Jalak. "Bukan kepadamu. Kepada pintu yang terbuka. Kalau abdi dapur bisa jadi murid luar, apa artinya udeng biru di kepala mereka?"


Tetapi tidak hanya murid luar.

Pada hari kelima, ketika Dira sedang memecah kayu di belakang dapur, tiga abdi tua mendekatinya. Mbok Darsih. Kang Paidi. Dan seorang abdi kandang tua bernama Pak Sarmun yang jarang berbicara kepada siapa pun.

Mereka berdiri di depannya dengan wajah-wajah yang tidak marah. Itu yang membuatnya lebih buruk. Wajah-wajah yang sedih. Kecewa.

"Ngger," kata Mbok Darsih. "Kami mau bicara."

Dira meletakkan kapaknya.

"Kau anak baik," kata Mbok Darsih. "Kami semua tahu. Kau tidak pernah mencuri. Kau tidak pernah malas. Kau menimba air lebih banyak dari siapa pun. Kami semua senang waktu kau dibebaskan kemarin." Ia menghela napas. "Tapi ini lain, ngger."

"Lain bagaimana, Mbok?"

"Abdi harus tahu tempatnya," kata Kang Paidi. Suaranya pelan. "Bukan karena abdi lebih rendah. Bukan. Tapi karena kalau abdi lupa tempatnya, orang-orang di atas akan ingat. Dan mereka akan mengingatkan kita semua. Bukan cuma kau."

"Sejak namamu di papan itu," kata Pak Sarmun, dan semua orang menoleh kepadanya karena ia jarang sekali berbicara, "murid-murid luar mulai memandang kami lain. Seperti kami semua ingin naik. Seperti kami semua tidak puas. Kemarin seorang murid luar menendang timbaku dan bilang, 'Mau jadi murid juga, Pak Tua?'"

Dira tidak tahu harus berkata apa.

"Kami tidak menyuruhmu mundur," kata Mbok Darsih cepat-cepat. "Kami tidak berani menyuruh. Kami cuma... minta kau ingat, ngger. Kalau kau jatuh, kami semua ikut jatuh."

Mereka berdiri di sana sebentar lagi. Lalu mereka pergi, satu demi satu, kembali ke pekerjaan mereka.

Dira menatap kayu yang belum terbelah di depannya. Ia tidak mengangkat kapaknya untuk waktu yang lama.


"Empat puluh warsa," kata Mbok Darsih.

Dira tidak tahu sejak kapan perempuan tua itu kembali dan berdiri di ambang pintu belakang dapur. Ia berdiri di sana dengan tangan yang bertumpu pada gagang sapu, punggung yang bungkuk, wajah keriput yang selalu tampak sedikit lelah dan sedikit tersenyum.

Mbok Darsih. Abdi dapur yang sudah empat puluh warsa memasak di sini. Tadi ia datang bersama yang lain. Sekarang ia datang sendiri.

"Empat puluh warsa aku di dapur ini, ngger," katanya. "Aku datang waktu umurku dua puluh. Anak desa yang dijual ayahnya untuk dua karung gabah waktu musim paceklik."

Dira menatapnya. Ia tidak pernah tahu itu.

"Waktu aku masih muda," kata Mbok Darsih, "aku ingin sekali bisa menulis namaku. Satu kali saja. Di mana saja. Di pasir. Di dinding. Di daun lontar." Ia tersenyum kecil. "Aku tidak pernah bisa. Tidak ada yang mengajariku. Dan waktu itu, tidak ada papan di gerbang lapangan murid luar. Ujian Murid Luar yang terakhir diadakan tidak lama setelah aku datang. Aku sudah menikah. Aku sudah punya bayi. Aku tidak mendaftar."

Ia diam sebentar.

"Kemarin aku pergi ke papan itu," katanya. "Aku tidak bisa membaca apa yang tertulis di sana. Tapi Gendhing bilang yang paling atas itu namamu. Dan aku berdiri di sana lama sekali. Menatap namamu. Menatap tulisan yang tidak bisa kubaca."

Ia menatap Dira.

"Yang tadi kubilang itu benar, ngger. Kalau kau jatuh, kami semua ikut jatuh." Ia tersenyum lagi, lebih lebar. "Tapi kalau kau naik, ngger. Kalau kau naik. Mungkin, empat puluh warsa lagi, ada anak abdi lain yang tidak perlu berdiri di depan papan dan menatap tulisan yang tidak bisa dia baca."

Lalu ia berbalik dan masuk ke dapur, menyeret sapunya.

Dira berdiri di belakang dapur untuk waktu yang sangat lama. Lalu ia mengangkat kapaknya dan membelah kayu itu dengan satu ayunan.


Ada yang lain yang berubah selama hari-hari itu.

Papan pendaftaran tidak lagi kosong kecuali nama Dira.

Pada hari kedua, tiga anak desa dari Sumberwatu datang melalui gerbang depan, didampingi seorang pemuka desa, dan menulis nama mereka dengan tulisan yang besar-besar dan gemetar, dibantu oleh murid dalam yang bertugas menjaga gerbang. Pada hari ketiga, lima lagi dari desa-desa lain di kaki Lawu. Pada hari keempat, dua abdi kandang muda yang selama ini tidak pernah berani mengangkat kepala di depan murid luar, dengan wajah merah padam dan tangan gemetar, meminta Dira menuliskan nama mereka di papan.

Dira menuliskannya. Dengan aksara yang sama rapinya. Darmo. Abdi kandang. Tukiran. Abdi kandang.

Mereka berdiri di depan papan itu lama sekali setelah Dira selesai, menatap nama mereka sendiri yang tidak bisa mereka baca.

Pada hari kelima, ada dua puluh tiga nama di papan.

Dan pada sore hari kelima, Dira melihat seseorang berdiri di depan papan itu.

Gandawasa.

Ia berdiri di sana dengan jerami di rambut dan bau kandang di bajunya, menatap papan itu. Tidak menulis. Tidak meminta siapa pun menuliskan namanya. Hanya berdiri dan menatap. Menatap nama Dira di baris paling atas. Menatap nama-nama di bawahnya. Menatap ruang kosong di bagian paling bawah papan.

Lama sekali.

Kambing Ji berdiri di sampingnya, mengunyah daun asam yang jatuh.

Lalu Gandawasa berbalik dan berjalan kembali ke kandang. Ia tidak melihat Dira. Atau ia melihat, dan memutuskan untuk tidak menoleh.

"Bocah," kata Ki Jalak pelan. "Kau lihat wajahnya?"

Aku lihat.

"Itu wajah orang yang ingin sesuatu, dan tahu dia tidak boleh menginginkannya." Burung itu diam sebentar. "Dulu dia kepala dapur. Sekarang dia abdi kandang. Dia turun derajat karenamu, bocah. Meski dia sendiri yang memilihnya."

Aku tahu.

"Orang seperti itu," kata Ki Jalak, "paling mudah didatangi oleh orang yang menawarkan jalan naik."

Dira menatap punggung Gandawasa yang menjauh. Ia ingin memanggilnya. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan.

Ia tidak memanggilnya.


Malam hari kelima, dapur sepi.

Mbah Karta sudah mendengkur di dipannya. Mbok Darsih dan abdi-abdi lain sudah kembali ke barak. Hanya Gendhing dan Gendhis yang masih di sana, menyelesaikan cucian dandang terakhir dari hukuman mereka. Gendhing bersiul-siul tidak jelas. Gendhis mengomel tentang tangannya yang keriput karena terlalu lama di air.

Dira duduk bersila di samping tungku ketujuh, mengupas kacang rebus. Sejak Ki Jalak masuk ke dalam dirinya, ia tidak bisa berhenti makan kacang. Kacang adalah satu-satunya hal yang membuat tangannya tidak gemetar setelah lima hari diejek seluruh padepokan.

Lalu pintu depan dapur terbuka.

Pintu itu hanya dibuka. Pelan. Oleh tangan yang tidak pernah membuka pintu dapur abdi seumur hidupnya.

Gendhing berhenti bersiul. Dandang di tangannya merosot, menghantam lantai tanah dengan bunyi DUNG yang menggema di seluruh dapur, lalu berguling ke arah tungku.

Gendhis membeku dengan kain lap di tangan.

Di dipannya, dengkuran Mbah Karta berhenti sebentar, lalu dilanjutkan lagi, sedikit lebih pelan dari sebelumnya.

Di ambang pintu, berdiri Raden Bayuwisesa.

Ia tidak memakai beskap murid dalamnya. Ia memakai kain biasa, kain gelap tanpa sulaman, seperti orang yang tidak ingin dikenali di tengah jalan. Tetapi Kyai Nagageni masih terselip di pinggangnya. Dan wajahnya, di bawah cahaya bara tungku ketujuh, tetap wajah yang sama. Datar. Matanya sedingin air sumur di subuh hari.

Ia menatap Gendhing, yang masih mematung di samping dandang yang berguling. Ia menatap Gendhis, yang perlahan-lahan menurunkan kain lapnya. Ia menatap Mbah Karta yang mendengkur.

Lalu ia menatap Dira.

"Abdi dapur," katanya. "Kita perlu bicara."