Sang Penelan Pusaka

Bab 73Bunga yang Salah

Dira merampas bungkusan itu dari tangan Satyaki dan menutupnya.

Ia melipat daun pisang itu kembali, satu lipatan, dua lipatan, tiga, sampai cahaya putih dingin dari dalamnya tak terlihat lagi dan bau manis itu tinggal samar. Lalu ia menyelipkannya ke balik kain di dadanya dan mengikat bajunya rapat-rapat. Tangannya gemetar. Kali ini ia membiarkannya gemetar.

Lalu ia menoleh ke Satyaki.

Satyaki masih berlutut di sampingnya. Tangannya masih terangkat sedikit, seperti masih memegang bungkusan yang sudah tidak ada. Matanya menatap Dira. Kosong. Tidak takut, tidak bingung, tidak marah. Hanya kosong. Seperti mata ikan di atas talenan.

"Satyaki," kata Dira.

Satyaki tidak bereaksi.

"Satyaki. Itu namamu. Satyaki."

Satyaki memiringkan kepalanya sedikit. Seperti burung yang mendengar bunyi yang tidak ia kenal.

"Satyaki," ulangnya pelan. Kata itu keluar dari mulutnya seperti kata dari bahasa asing. Datar. Tak bermakna. "Siapa itu?"

Lalu ia berdiri.

Pelan. Tanpa mengernyit, meskipun bahu kirinya masih terbebat dan seharusnya sakit. Seperti lupa bahwa bahunya sakit. Seperti lupa bahwa ia punya bahu. Ia menoleh ke kiri, ke kanan, menatap pohon-pohon di sekelilingnya dengan mata kosong itu. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia mulai berjalan.

Ke timur. Ke arah mereka datang. Ke arah lembah kabut.

"Tahan dia!" teriak Ki Jalak.

Dira menerjang. Kaki kirinya yang mati rasa tertekuk di bawahnya, dan ia jatuh, tetapi tangannya sempat mencengkeram pergelangan kaki Satyaki. Satyaki tersandung dan jatuh ke depan, ke atas lumut. Ia tidak menjerit. Tidak meronta. Ia hanya berbaring di sana, tertelungkup, lalu mulai merangkak. Masih ke timur.

Seperti semut yang mengikuti barisan. Seperti orang yang dipanggil suara di dalam kabut.


Dira menarik Satyaki kembali dan membalik tubuhnya. Ia mencengkeram kedua bahu Satyaki, berhati-hati dengan bahu kiri yang terbebat, dan menahannya di atas lumut.

"Satyaki. Lihat aku."

Mata kosong itu menatapnya.

"Kau Satyaki. Dari Sumberwatu. Ayahmu petani padi. Ibumu tahu nama semua tumbuhan obat di kaki Lawu. Kau sulung dari lima bersaudara. Kau murid luar Argasuryan. Pusakamu Kyai Pring Kuning." Dira mengguncangnya sedikit. "Kau memasak bubur untukku kemarin. Dengan jahe dan daun salam hutan. Kau bilang daun salam hutan lebih wangi karena tumbuhnya susah."

Tak ada apa-apa. Tak ada kilatan pengenalan. Tak ada kerutan di dahi. Mata itu hanya menatap, kosong, seperti menatap dinding.

"Bocah," kata Ki Jalak pelan. "Kata-kata tidak akan cukup. Bunga itu tidak menghapus kata-kata. Bunga itu menghapus sesuatu yang lebih dalam. Yang di bawah kata-kata."

Lalu apa?

Ki Jalak diam sebentar. Lalu, sangat pelan, hampir seperti bertanya kepada dirinya sendiri:

"Kidung itu."

Dira menatap Satyaki.

"Kidung Pepeling. Yang menenangkan Sapu Angin. Yang memulihkan namanya. Dia lupa namanya selama bertahun-tahun di dalam kabut, bocah, dan kidung itu mengembalikannya dalam satu bait. Aja nganti kowe lali marang jenengmu." Ki Jalak berhenti. "Aku tidak tahu apakah kidung itu bekerja pada manusia. Aku tidak tahu apakah kidung itu bekerja pada apa pun selain yang tinggal di dalam dirimu. Tapi bocah, apa lagi yang kau punya?"

Dira menarik napas.

Lalu ia bernyanyi.


Turua, turu, cah bagus...

Suaranya serak. Pecah di beberapa tempat. Suara orang yang tidak tidur dua malam, yang baru saja memanjat keluar dari gua ular dengan racun di betisnya. Bukan suara Wulansari yang jernih dan pelan di depan tungku ketujuh. Bukan suara siapa pun yang pantas menyanyikan lagu nina bobo.

Tetapi ia bernyanyi juga.

...lintang sumebar ing langit peteng...

Satyaki tidak bergerak. Matanya masih kosong.

...sanadyan donya lali marang kowe...

Lalu sesuatu bergerak di mata itu. Sangat kecil. Seperti riak di permukaan sumur yang dalam, ketika sebutir kerikil jatuh dari bibirnya.

...aja nganti kowe lali marang jenengmu.

Satyaki berkedip.

Sekali. Pelan.

Dira tidak berhenti. Ia mengulangnya dari awal. Turua, turu, cah bagus. Dan sambil bernyanyi, ia meraih tangan kanan Satyaki dan meletakkannya di atas Kyai Pring Kuning, yang tergeletak di lumut di samping mereka. Ia menekan jari-jari Satyaki melingkari batang bambu kuning itu.

Demi tongkat yang tidak terpotong.

Lalu ia merogoh bungkusan bekal dengan tangan yang lain dan mengeluarkan sejumput nasi jagung yang sudah dingin dan keras, sisa bekal dari Mbah Karta. Ia menekannya ke telapak tangan kiri Satyaki.

Demi nasi yang kau bagi.

...aja nganti kowe lali marang jenengmu.

Di bawah jari-jari Satyaki, Kyai Pring Kuning bergetar. Ujungnya yang diikat kain merah kusam bersinar. Kuning pucat dulu, seperti kunang-kunang yang sakit. Lalu lebih terang. Kuning keemasan. Seperti tadi pagi ketika Satyaki bersumpah. Seperti cahaya getah Ringin Sungsang yang menjalar di bawah kulitnya.

Satyaki berkedip lagi. Lalu lagi. Matanya bergerak. Ke tongkat di tangan kanannya. Ke nasi jagung di tangan kirinya. Ke wajah Dira.

Bibirnya bergerak.

"...Sumber..."

Dira tidak berhenti bernyanyi.

"...Sumberwatu," bisik Satyaki. Lalu, perlahan, seperti orang yang meraba-raba dinding dalam gelap mencari pintu: "...Ibu. Ibu di Sumberwatu. Lima... lima adik. Bukan. Empat adik. Aku yang kelima. Aku yang pertama." Ia mengernyit. "Aku... Sat... Satya..."

"Satyaki," bisik Dira.

"Satyaki." Mata itu menjadi jernih. Pelan, seperti air keruh yang mengendap. Lalu tajam. Lalu sepenuhnya mata Satyaki lagi. Ia menatap Dira lama. Lalu menatap nasi jagung di tangan kirinya. Lalu menatap tongkat di tangan kanannya, yang ujungnya masih bersinar keemasan sebelum perlahan memudar.

"Dira," katanya. Suaranya serak. "Kau Dira. Abdi dapur. Yang tidak bisa memasak."

Dira tertawa. Atau menangis. Ia tidak yakin yang mana. Mungkin keduanya.

"Yang menggosongkan nasi tiga kali sepekan," kata Satyaki, masih menatap nasi jagung di tangannya dengan dahi berkerut. "Kenapa aku memegang nasi?"

"Itu," kata Ki Jalak dengan suara yang bergetar lega, "adalah hal pertama yang dia ingat tentangmu, bocah. Bahwa kau tidak bisa memasak. Aku tidak tahu harus tersinggung untukmu atau bangga padanya."


Satyaki butuh waktu selama orang mengunyah sekapur sirih untuk pulih sepenuhnya. Ia duduk bersandar ke batang pohon tumbang, Kyai Pring Kuning di pangkuannya, dan mengunyah nasi jagung dingin itu pelan-pelan sambil sesekali menggumamkan nama-nama. Nama ibunya. Nama adik-adiknya. Nama sawah ayahnya. Nama gurunya di padepokan, nama Wisnuwara yang dulu merebut jatah makannya, nama kambing bermata jahat yang menggigit Wulansari.

Selama orang mengunyah sekapur sirih.

Dira menatapnya dan teringat.

Kertapati. Murid dalam yang pingsan di pos jaga malam purnama. Waktu dibangunkan, dia tidak ingat namanya sendiri selama orang mengunyah sekapur sirih.

"Satyaki," katanya pelan. "Apa yang kau rasakan? Waktu kau mencium bunga itu?"

Satyaki berhenti mengunyah. Ia menatap ke depan, ke arah pepohonan yang mulai terang oleh cahaya pagi.

"Manis," katanya. "Lalu ringan. Seperti kepalaku diangkat dari leherku. Lalu..." Ia mengerutkan kening. "Lalu tidak ada apa-apa. Bukan gelap. Bukan terang. Tidak ada apa-apa. Seperti aku tidak pernah ada. Dan ada sesuatu di timur. Sesuatu yang memanggil. Bukan suara. Bukan kata-kata. Cuma... tarikan. Seperti air yang ditarik ke dasar sumur."

"Ke lembah kabut."

"Mungkin." Satyaki menelan nasi jagungnya. "Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa-apa waktu itu. Aku tidak tahu aku siapa."

Dira mengeluarkan bungkusan daun pisang dari balik kain di dadanya. Ia tidak membukanya. Ia hanya menatapnya, menimbangnya di tangannya.

"Ki Wiradhana bilang," katanya, "siapa pun yang memakan sari bunga ini akan mengingat kembali apa yang telah ia lupakan."

Satyaki menatap bungkusan itu. Lalu menatap Dira.

"Dia bohong," katanya datar.

"Dia bohong," kata Ki Jalak, dengan nada yang sama datarnya.


Dira membuka bungkusan itu. Pelan. Hanya satu lipatan. Cukup untuk melihat, tidak cukup untuk mencium.

Ia tidak mendekatkan wajahnya. Ia menahan napasnya, mengendapkannya di bawah pusar seperti batu di dasar kolam, dan menatap bunga di dalamnya dari jarak satu lengan.

Bunga Wijayakusuma. Kelopak putih terbuka lebar. Benang-benang kuning pucat seperti mahkota. Dan di tengahnya, biji hitam berkilat seukuran kemiri, seperti mata.

"Bocah," kata Ki Jalak tiba-tiba. Suaranya aneh. Jauh. Seperti suara dari dasar sumur. "Wijayakusuma yang sejati... aku ingat. Sedikit. Sedikit sekali. Wijayakusuma yang sejati tidak putih seperti ini. Putih seperti susu. Hangat. Harumnya seperti pagi, seperti embun di sawah. Dan di tengahnya tidak ada biji hitam. Di tengahnya ada... ada cahaya. Kuning. Seperti matahari kecil."

Dira menatap kelopak-kelopak itu. Putih. Tetapi bukan putih susu. Putih yang dingin. Putih yang pucat. Putih seperti...

Tulang, pikirnya. Putih seperti tulang-tulang di sekeliling kolam.

"Ini bukan Wijayakusuma," bisik Ki Jalak. "Atau ini dulunya Wijayakusuma. Lalu sesuatu terjadi padanya. Seseorang melakukan sesuatu padanya."

Dira memikirkan gua itu. Kolam air hitam yang diam. Tulang-tulang kecil yang bertumpuk-tumpuk di tepinya. Burung, tikus, musang, kijang muda. Ratusan. Binatang-binatang yang datang karena bau manis itu, yang menghirupnya, yang lupa siapa mereka, lupa harus lari, lupa harus makan, lalu mati di sana. Di tepi kolam. Di depan bunga yang terus mekar.

Dan lingkaran-lingkaran abu dupa hitam. Sembilan lingkaran. Masing-masing tiga puntung.

Seseorang sering datang ke sini. Membakar dupa. Di depan bunga ini. Berkali-kali.

"Ki Jalak," bisik Dira. "Bau biji hitam itu."

Ki Jalak diam.

Dira melepaskan napasnya sedikit. Hanya sedikit. Hanya cukup untuk mencium sejumput udara di atas bunga itu, lalu menahan lagi.

Manis. Berat. Melati. Kenanga. Madu.

Dan di bawahnya. Di tengahnya. Dari biji hitam berkilat itu.

Dingin. Seperti abu dupa yang dibakar di tempat yang tak pernah kena matahari.

Bukan samar. Tidak lagi samar. Sangat kuat. Sangat jelas. Bau yang sama yang ia cium di bilik penyimpanan tetua, di peti kayu kecil di rak tengah. Bau yang sama yang dicium Ki Jalak di bawah bau dupa cendana dan arak beras Ki Wiradhana, di kebun obat. Bau yang sama dari garis asap hitam yang bergoyang seperti kepala ular di atas Hutan Larangan pada malam purnama.

Dira menutup bungkusan itu.

"Dupa hitam," katanya pelan. "Dupa hitam dibuat dari ini."

Satyaki tidak berkata apa-apa.

"Biji hitam itu," lanjut Dira. "Dikeringkan. Ditumbuk. Dicampur sesuatu. Lalu dibakar. Dan siapa pun yang mencium asapnya..."

"Lupa," bisik Satyaki. "Seperti Kertapati. Seperti orang-orang desa yang ditemukan kembali." Ia menatap bungkusan di tangan Dira. "Seperti aku tadi."

"Dan Ki Brajanala menemukan lingkaran abu di hutan malam purnama. Menghancurkannya. Memutus asapnya." Dira menatap ke timur, ke arah padepokan yang tak terlihat di balik pepohonan. "Dan beberapa hari kemudian, Ki Wiradhana mengirim abdi dapur ke jantung Hutan Larangan untuk mengambil bunga ini."

"Karena persediaannya habis," kata Satyaki.

"Karena persediaannya habis."

"Dan bocah," kata Ki Jalak pelan, "dia bilang bunga ini untuk menyembuhkan Kertapati. Untuk orang-orang desa yang lupa diri."

Dira memejamkan mata.

Kalau dipegang tangan yang salah, khasiatnya hilang. Bawa langsung ke bilikku. Jangan diberikan kepada siapa pun selain aku.

Kalau Ki Wiradhana benar-benar memberikan sari bunga ini kepada Kertapati, yang sudah lupa nama ibunya dan cara memegang sendok, Kertapati tidak akan mengingat kembali. Kertapati akan lupa sisanya.

Semuanya.


Mereka duduk dalam diam lama sekali.

Matahari naik. Berkas-berkas cahaya keemasan menembus sela-sela dahan dan jatuh di atas lumut di sekeliling mereka. Di kejauhan, tebing hitam berkilau dalam cahaya pagi, licin dan dingin seperti batu asah.

"Kita tidak bisa memberikannya," kata Satyaki akhirnya.

"Tidak."

"Tapi kalau kau pulang tanpa bunga..."

"Dia akan mengirimku lagi. Atau mengirim orang lain. Atau dia tidak akan repot-repot mengirim siapa-siapa, dan aku akan tergelincir di anak tangga ketiga suatu malam dan tidak bangun lagi." Dira menatap bungkusan di tangannya. "Dia harus menerima bunga. Dia harus percaya dia menerima bunga."

"Bunga palsu?"

"Tidak ada bunga lain seperti ini. Dia akan tahu."

"Kalau begitu..." Satyaki terdiam. Ia menatap bungkusan itu lama, dengan mata yang tajam dan tenang, mata yang selalu tahu jawabannya sebelum pertanyaannya diucapkan. Lalu ia merogoh bungkusan bekalnya sendiri, bungkusan yang ia bawa dari Sumberwatu, berisi periuk tanah liat kecil, batu titik, garam, jahe, dan bumbu-bumbu lain yang dibawa seorang sulung yang terbiasa memasak untuk empat adiknya.

Ia mengeluarkan sesuatu dan meletakkannya di telapak tangannya. Bulat. Kecil. Kecokelatan. Seukuran biji kemiri.

Karena memang biji kemiri.

"Yang dia inginkan bukan bunganya," kata Satyaki pelan. "Bunganya cuma bungkus. Yang dia inginkan bijinya. Sarinya." Ia mengangkat kemiri itu ke depan mata Dira. "Kelopaknya kita berikan. Asli. Wanginya asli. Semuanya asli. Kecuali yang di tengah."

Dira menatap kemiri itu. Lalu menatap Satyaki.

"Kalau dibakar sebentar di bara," lanjut Satyaki, "kemiri jadi hitam. Berkilat. Kalau digosok dengan getah dari kelopak bunganya, baunya akan sama. Sedikit. Cukup untuk orang yang menciumnya sambil lalu."

Dira tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap murid luar berwajah datar dengan bahu terbebat dan tongkat jemuran di pangkuannya.

"Bocah," kata Ki Jalak, dengan suara yang penuh takjub. "Aku sudah memutuskan. Aku salah. Bocah ini tidak akan menjadi panglima."

Lalu apa?

"Dia akan menjadi penasihat raja. Atau raja. Atau orang yang membuat raja-raja ketakutan."


Mereka menyalakan api kecil dengan batu titik Satyaki. Mereka membakar kemiri itu di atas bara sampai kulitnya hitam pekat dan berkilat, lalu membiarkannya dingin. Dira membuka bungkusan bunga dengan napas tertahan, mengambil biji hitam yang asli dari tengahnya dengan ujung pisau kupas, dan menggantinya dengan kemiri yang sudah hitam. Ia menggosokkan getah dari pangkal kelopak bunga itu ke permukaan kemiri, pelan, merata, sampai kemiri itu berkilat dan baunya bercampur.

Lalu ia membungkus bunga itu kembali dengan daun pisang.

Biji hitam yang asli tergeletak di atas sehelai daun talas di atas batu. Bulat. Hitam berkilat. Seperti mata yang menatap ke langit.

"Di mana kita menyembunyikannya?" tanya Dira.

Satyaki tidak menjawab. Ia mengangkat Kyai Pring Kuning dari pangkuannya dan membuka ikatan kain merah kusam di ujungnya. Di bawah ikatan itu, ujung batang bambu kuning itu terbuka. Berongga. Seperti semua bambu.

"Bambu itu kosong di dalamnya," katanya. "Semua orang tahu. Tak ada yang pernah memeriksa tongkat bebek."

Ia membungkus biji hitam itu dengan sehelai daun talas kecil, memasukkannya ke dalam rongga bambu, mengikat kembali kain merah kusam di ujungnya. Kencang. Simpul tiga lilitan. Ia belajar simpul itu dari ayahnya.

Ujung Kyai Pring Kuning bersinar sekali. Kuning pucat. Lalu redup.

"Dia tidak suka," kata Satyaki.

"Tidak ada yang suka benda itu."

"Dia akan menyimpannya. Untukku."


Ketika Dira bangkit untuk berangkat, kakinya tidak mau menahannya.

Kaki kirinya tertekuk di bawahnya seperti batang ilalang yang patah, dan ia jatuh terduduk lagi di atas lumut. Ia mencoba lagi. Kakinya tertekuk lagi.

"Bocah," kata Ki Jalak. Suaranya mendadak sangat tenang. Terlalu tenang. "Lihat kakimu."

Dira menarik jarik di atas lutut kirinya.

Di bawah lutut, kulit di sekeliling dua lubang kecil di betisnya sudah tidak lagi ungu kebiruan. Sudah hitam. Hitam keunguan, seperti memar yang sangat tua. Dan dari sana, dari betisnya, sebuah garis menjalar ke atas. Satu garis. Gelap. Tipis. Timbul di bawah kulit seperti urat. Menjalar naik melewati lutut, melewati ikatan sobekan jarik yang dibuat Satyaki dengan simpul medan perang, dan terus naik ke paha.

Seperti garis biru di lehernya yang bercabang seperti akar.

Hanya saja garis yang ini hitam.

Dan garis yang ini, ketika Dira menatapnya, bergerak. Sangat pelan. Sejengkal lagi ke atas. Menuju pinggul. Menuju perut. Menuju dada.

Menuju jantung.