Bab 72Harga Bunga
Air hitam di sekeliling batu itu mulai bergerak lagi.
Tidak bergolak seperti tadi. Tidak liar. Pelan. Teratur. Seperti air yang ditarik dari dasar oleh sesuatu yang sangat besar dan sangat sabar. Lengkungan-lengkungan hitam kehijauan muncul di permukaan, satu demi satu, membentuk lingkaran di sekeliling batu, makin rapat, makin dekat.
Dira tidak menoleh ke mulut lorong. Ia mendengarnya. Bunyi sisik yang bergeser di atas batu. Pasir yang dituang ke atas tikar. Dua desis yang kini berirama sama, tidak lagi saling bertentangan.
Mereka datang. Bersama.
"Bunganya," desis Ki Jalak. "Ambil bunganya. Cepat."
Dira merobek selembar daun pisang dari bungkusan bekal yang terikat di punggungnya. Tangannya bergerak cepat tetapi tidak gemetar. Ia sudah memikirkan ini sejak di balik pohon tumbang. Kalau dipegang tangan yang salah, khasiatnya hilang, kata Ki Wiradhana. Dira tidak tahu apakah itu benar. Ia tidak tahu tangan siapa yang salah. Tetapi ia tahu ia tidak mau menyentuh bunga yang membuatnya lupa namanya sendiri.
Ia membungkus kelopak-kelopak putih yang separuh terbuka itu dengan daun pisang, pelan, hati-hati, seperti membungkus telur. Lalu ia mencabut pisau kupas dari ikat pinggangnya.
Batang pipih yang menjadi tangkai bunga itu tebal dan liat, seperti pelepah lidah buaya. Pisau kupas itu tumpul setelah dua hari di hutan. Dira menggergajinya. Sekali. Dua kali. Getah bening kental merembes dari luka di batangnya, berbau seperti bunga itu sendiri, manis dan berat.
Di belakangnya, bunyi sisik itu berhenti.
"Bocah."
Tiga kali. Empat kali.
Batang itu putus.
Bunga Wijayakusuma jatuh ke dalam daun pisang di tangan kiri Dira, terbungkus rapat, cahaya putih dinginnya merembes samar dari sela-sela lipatan daun. Dira menyelipkannya ke balik kain di dadanya, di samping lontar Wulansari dan keping perunggu Tumenggung, lalu mengikat bajunya rapat-rapat.
Lalu ia berbalik.
Kedua kepala itu ada di sana. Di atas air hitam, lima langkah dari batu. Menjulang dari permukaan kolam di ujung leher-leher yang tebal, berdampingan, setinggi dua kali tinggi Dira. Tak ada lagi yang mengantuk. Tak ada lagi yang ragu. Empat mata kuning kehijauan menatapnya, pupil-pupil tegaknya menyempit menjadi garis setipis rambut. Leher kepala kanan berdarah di bawah rahangnya, bekas gigitan saudaranya sendiri. Leher kepala kiri juga.
Mereka berdesis bersamaan. Satu desis. Satu irama.
Dira menatap ke belakang dari atas bahunya. Batu di tengah kolam. Air hitam di segala arah. Lengkungan-lengkungan tubuh ular yang melingkar rapat, rapat sekali, tak lagi muncul dan tenggelam, tetapi diam di permukaan seperti pagar.
Tak ada jalan ke tepi kolam. Tak ada jalan ke lorong.
Ia mendongak.
Di atas kepalanya, sangat jauh di atas, di langit-langit gua yang tinggi seperti atap balairung, ada celah. Celah sempit di batu hitam, tempat berkas cahaya bulan masuk. Mulut kedua gua itu. Aliran udara yang ia rasakan di telapak tangannya mengalir ke sana, naik, pelan, terus-menerus, seperti asap tungku yang naik ke lubang atap dapur.
Terlalu tinggi. Lebih tinggi dari sumur kering. Dan dinding gua di sekeliling kolam itu tidak sempit seperti dinding sumur. Gua ini bundar dan luas. Tak ada dua dinding yang cukup dekat untuk melompat bolak-balik di antaranya.
Kecuali...
Dira menatap dinding gua di belakang batu, di sisi yang paling jauh dari mulut lorong. Dinding itu tidak rata. Dinding itu miring ke dalam, menjorok ke atas kolam seperti punggung orang yang membungkuk. Dan di permukaannya, retakan-retakan panjang menjalar dari bawah ke atas, seperti retakan di tebing hitam di luar. Seperti urat. Retakan yang cukup lebar untuk jari-jari tangan. Untuk jari-jari kaki.
Retakan itu berakhir dua langkah dari batu tempat ia berdiri. Di atas air.
Dua langkah. Bisa dilompati. Kalau ada pijakan di antaranya.
"Bocah," kata Ki Jalak pelan, "aku tahu apa yang kau pikirkan, dan aku ingin kau tahu bahwa aku sangat, sangat tidak setuju."
Kepala kanan ular itu menarik lehernya ke belakang. Seperti busur yang ditarik.
Kepala kanan selalu duluan, pikir Dira. Selalu.
Kepala kanan menyerang.
Dira tidak menghindar ke samping. Ia tidak berguling. Ia melompat. Ke depan. Ke atas. Ke arah kepala yang menyerang.
Jalak Mematuk Batu. Hentakan pendek ujung kaki. Tubuhnya melayang di atas rahang yang terbuka lebar, di atas dua taring melengkung yang berkilat basah, dan telapak kaki kanannya mendarat di atas kepala ular itu. Tepat di antara kedua matanya. Di atas sisik-sisik yang menonjol seperti alis yang marah.
Kepala itu tersentak ke atas karena terkejut. Seperti kuda yang tiba-tiba dinaiki.
Dan Dira menggunakan sentakan itu.
Ia melompat dari atas kepala ular itu. Ke belakang. Ke arah dinding gua yang miring. Tubuh Raga Puncak-nya melayang di atas air hitam, lebih tinggi dan lebih jauh dari yang pernah ia lompati, didorong oleh sentakan kepala ular yang marah di bawah kakinya.
Dan angin menyembur dari telapak tangan kanannya. Ke bawah. Ke belakang.
Cicit!
Jari-jari tangan kirinya menghantam dinding batu hitam. Mencari. Menemukan retakan. Menyusup ke dalamnya. Mencengkeram.
Ia menggantung di dinding gua, satu tangan di dalam retakan, kakinya terayun di atas air hitam.
Di bawahnya, kepala kanan ular itu menggeleng-geleng, mendesis marah, kebingungan, mencari mangsa yang tadi ada di atas kepalanya dan kini tidak ada.
Kepala kiri tidak kebingungan.
Dira melihatnya dari sudut matanya. Kepala kiri, yang selalu menunggu, yang selalu ragu, yang selalu tertinggal di belakang saudaranya. Kepala itu tidak mengikuti sentakan kepala kanan. Kepala itu tidak melihat ke atas, ke tempat Dira melompat. Kepala itu melihat ke dinding. Ke tempat Dira mendarat. Seperti sudah tahu dari tadi ke mana Dira akan pergi.
Kepala kiri menunggu, pikir Dira, terlambat. Dan yang menunggu, melihat.
Kepala kiri menyerang.
Dira menarik tubuhnya ke atas dengan satu tangan, mencari retakan berikutnya dengan tangan yang lain, mengayunkan kakinya ke atas, menjauhi air. Tidak cukup cepat. Sekejap saja terlambat. Seperti sekejap yang terlambat ketika ia menjatuhkan diri setelah ditampar Gandawasa. Seperti sekejap yang terlambat ketika ia melihat tangan kiri Gandawasa bergerak di bibir sumur.
Rahang itu menutup di betis kirinya.
Taring-taring yang melengkung sepanjang jari kelingking menembus kulit, menembus daging, berhenti di tulang. Tulang Raga Puncak, yang ditempa napas gunung di bawah bulan purnama. Taring itu tidak bisa menembus tulang. Tetapi taring itu tidak perlu menembus tulang.
Dira merasakan sesuatu mengalir masuk ke dalam betisnya. Dingin. Dingin yang lain dari dingin air kolam. Dingin yang hidup. Seperti cairan yang menyebar di dalam daging, merayap, mencari jalan, seperti akar-akar hitam yang tumbuh dalam sekejap.
Ia menjerit.
Lalu ia menendang. Kaki kanannya, yang bebas, menghantam kepala kiri itu tepat di mata. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tendangan tubuh Raga Puncak, sekeras palu. Kepala itu tersentak, rahangnya membuka sedikit, dan Dira menarik kaki kirinya keluar.
Taring-taring itu tercabut dari dagingnya dengan bunyi yang tidak akan pernah ia lupakan.
Ia memanjat.
Ia tidak ingat bagaimana. Ia hanya ingat retakan demi retakan. Jari-jari tangan yang menyusup ke celah batu hitam yang licin dan dingin. Kaki kanan yang mencari pijakan. Kaki kiri yang tergantung lemas, berat, mati rasa dari lutut ke bawah, dan dari bekas gigitan di betisnya darah menetes ke air hitam di bawah, satu tetes, dua tetes, tiga.
Dan angin.
Aliran udara yang naik dari kolam ke celah di langit-langit. Aliran yang tadi ia rasakan pelan, seperti asap tungku. Sapu Angin menangkapnya. Atau aliran itu menangkap Sapu Angin. Dira tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa setiap kali ia menarik tubuhnya ke atas, ada sesuatu yang mendorongnya dari bawah. Tidak kuat. Tidak cukup untuk mengangkatnya. Tetapi cukup untuk membuat tubuhnya terasa sedikit lebih ringan. Seperti burung yang naik bersama udara hangat di atas sawah di siang hari, tanpa perlu mengepakkan sayap.
Ki Jalak bersiul. Siulan jalak kebo. Pelan. Berirama. Satu, dua, naik. Satu, dua, naik.
Di bawahnya, kedua kepala ular itu menjulur ke atas, berdesis, menyerang. Rahang-rahang yang terbuka menghantam dinding batu hitam di bawah kakinya, sekali, dua kali, makin jauh, makin jauh. Leher mereka tidak cukup panjang. Tubuh mereka tidak bisa memanjat dinding yang miring ke dalam.
Lalu kepala Dira menyentuh udara dingin.
Udara malam. Udara yang berbau daun dan tanah dan embun, bukan bunga dan dupa dan ular.
Ia menarik dirinya melalui celah sempit di langit-langit gua. Bahunya tergores batu. Pinggulnya tersangkut sesaat. Lalu ia keluar, dan berguling di atas batu hitam yang datar dan dingin di bawah langit malam yang bertabur bintang, di bawah bulan yang tidak lagi purnama.
Ia ada di atas tebing hitam.
Lama ia hanya berbaring di sana, telentang, menatap bintang-bintang, terengah-engah.
"Kakimu," kata Ki Jalak. Suaranya tegang. "Bocah. Kakimu. Sekarang."
Dira bangkit duduk. Ia menarik kain jariknya ke atas lutut kiri.
Dua lubang. Kecil, rapi, berjarak dua jari, di sisi dalam betis kirinya. Darah merembes dari keduanya, tetapi bukan darah merah. Darah yang terlalu gelap. Hampir hitam. Dan di sekeliling kedua lubang itu, kulitnya sudah mulai berubah warna. Ungu kebiruan. Bengkak. Menyebar perlahan dari lubang ke segala arah, seperti tinta yang diteteskan ke kain basah.
"Isap," kata Ki Jalak. "Isap racunnya. Ludahkan. Jangan telan."
Dira membungkuk dan menempelkan mulutnya ke kedua lubang di betisnya. Ia mengisap. Rasanya pahit, logam, amis. Ia meludahkannya ke batu. Hitam. Mengisap lagi. Meludah lagi. Lagi. Lagi. Sampai yang keluar dari lubang-lubang itu merah, bukan hitam.
Lalu ia membuka bungkusan bekal Mbah Karta. Bungkusan merah sudah kosong sejak ia membalur luka Satyaki. Bungkusan kuning sudah kosong sejak ia memberikan isinya kepada Satyaki. Tinggal satu.
Yang hijau untuk racun.
Ia membuka bungkusan hijau. Pasta kental berwarna hijau tua, berbau daun sirih, kunyit, bawang putih, dan sesuatu yang tajam dan pahit seperti empedu. Ia mengoleskannya ke kedua lubang di betisnya. Banyak. Semuanya.
Pasta itu membakar seperti api. Dira menggigit lengan bajunya supaya tidak menjerit.
Lalu, perlahan, panasnya mereda. Menjadi hangat. Menjadi sejuk. Dan rasa dingin hidup yang merayap di dalam dagingnya, akar-akar hitam yang tumbuh, melambat.
Tidak berhenti. Melambat.
"Ramuan itu menahannya," kata Ki Jalak pelan. "Tapi bocah, itu bisa ular berkepala dua. Aku tidak tahu racun seperti apa itu. Aku tidak tahu apakah ramuan juru masak itu cukup."
"Berapa lama?"
Ki Jalak tidak menjawab.
Ia turun dari tebing hitam di sisi selatan, tempat batu-batu besar yang runtuh dari atas membentuk tangga-tangga kasar yang menurun ke hutan. Pelan. Sangat pelan. Kaki kirinya mati rasa sampai ke lutut, dan setiap kali ia bertumpu di atasnya, kakinya tertekuk seperti batang ilalang. Ia turun dengan dua tangan dan satu kaki, seperti binatang yang terluka.
Bintang-bintang bergeser di langit. Bulan tenggelam di balik punggung gunung di barat.
Ketika ia akhirnya sampai di batang pohon tumbang yang berlumut, langit di timur sudah mulai memucat. Abu-abu kebiruan, seperti abu tungku.
Satyaki masih di sana. Duduk bersandar di batang pohon, Kyai Pring Kuning di pangkuannya, mata terbuka lebar, wajah pucat. Ia tidak tidur. Dira bisa melihatnya. Mata yang merah, tegang, terjaga sepanjang malam.
Ketika melihat Dira merangkak keluar dari kegelapan, Satyaki bangkit. Terlalu cepat. Ia mengernyit, memegangi bahu kirinya yang terbebat, tetapi tetap bangkit.
"Kakimu," katanya.
"Ular." Dira jatuh terduduk di samping batang pohon tumbang. "Kepala kiri. Yang selalu menunggu."
Satyaki berlutut di sampingnya dan menarik jarik Dira ke atas. Ia menatap dua lubang kecil di betis itu, kulit ungu kebiruan yang bengkak di sekelilingnya, pasta hijau yang sudah mengering. Wajahnya tidak berubah. Tetapi tangannya, ketika menyentuh kulit di sekitar luka itu, gemetar.
"Ramuan Mbah Karta?"
"Yang hijau. Semuanya."
Satyaki mengangguk pelan. Ia mengikat lutut kiri Dira dengan sobekan jarik, kencang, di atas betis. Simpulnya simpul medan perang yang diajarkan ayahnya. Lalu ia duduk di samping Dira, punggung mereka bersandar ke batang pohon tumbang yang sama.
"Dapat?" tanyanya.
Dira membuka kain di dadanya dan mengeluarkan bungkusan daun pisang itu.
Cahaya putih dingin merembes dari sela-sela lipatannya. Samar. Lebih redup dari semalam. Dan bau manis yang berat itu merembes keluar juga, memenuhi udara di antara mereka.
Satyaki menatap bungkusan itu. Lalu, pelan, ia mengulurkan tangan kanannya.
"Boleh kulihat?"
Dira ragu. Sesaat saja. Lalu ia menyerahkannya.
Satyaki membuka lipatan daun pisang itu dengan hati-hati, satu per satu, seperti membuka bungkusan nasi.
Di dalamnya, Bunga Wijayakusuma sudah mekar sempurna. Kelopak-kelopaknya yang putih terbuka lebar, melengkung keluar seperti jari-jari tangan yang terentang, seperti tangan yang menawarkan sesuatu. Benang-benang kuning pucat di tengahnya menjulang seperti mahkota. Dan di tengah mahkota itu, sesuatu yang gelap. Bulat. Seukuran biji kemiri. Hitam berkilat, seperti mata.
Bau manis itu menyembur keluar. Melati. Kenanga. Madu.
Satyaki menunduk sedikit untuk melihat lebih dekat.
"Satyaki, jangan..."
Terlambat.
Satyaki menghirup napas. Panjang. Dalam. Matanya sedikit terpejam, seperti orang yang mencium bunga di pagi hari.
Lalu matanya terbuka.
Dan mata itu, mata Satyaki yang selalu tajam, yang selalu tenang, yang selalu tahu jawabannya sebelum pertanyaannya diucapkan, kosong.
Kosong sama sekali. Seperti sumur yang airnya sudah habis.
Ia menatap Dira dengan mata yang kosong itu. Lama. Seperti menatap orang asing di pasar.
"Siapa kau?" tanya Satyaki.