Sang Penelan Pusaka

Bab 69Sumpah Satyaki

Dira tidak segera mengulurkan tangannya.

Ia duduk di samping bara yang tinggal merah redup, tangan kanannya tertelungkup di atas lutut, dan menatap Satyaki. Satyaki menatap balik. Wajahnya pucat seperti nasi yang terlalu lama direndam air, rambutnya kusut, bibirnya pecah-pecah. Tetapi matanya tetap mata Satyaki. Tajam. Tenang. Seperti mata orang yang sudah tahu jawabannya dan hanya ingin mendengarnya diucapkan.

"Bocah," kata Ki Jalak pelan. "Sudah waktunya."

Kau selalu bilang begitu.

"Dan kau selalu bilang belum. Dan sekarang bocah itu hampir mati menangkis pusaka liar untukmu, dengan tongkat yang ditertawakan seluruh altar. Lalu dia bangun dari kematian dengan getah pohon yang terbakar ratusan warsa lalu di perutnya, dan hal pertama yang dia minta adalah melihat tanganmu." Ki Jalak berhenti. "Kalau bukan sekarang, kapan?"

Dira menatap tangannya sendiri.

Lalu ia membaliknya. Telapak tangan menghadap ke atas. Dan ia mengulurkannya kepada Satyaki.

Garis tipis putih keperakan di tengah telapak tangan itu tampak jelas dalam cahaya fajar yang kelabu. Lurus. Sepanjang ruas jari telunjuk. Seperti bekas luka lama yang sudah sembuh bertahun-tahun.

Satyaki menatapnya lama. Lalu ia mengangkat tangan kirinya, pelan, dengan susah payah, karena bahu kirinya masih terbebat jarik, dan menyentuh garis itu dengan ujung jarinya.

"Kemarin sore," katanya, "di sini ada lubang. Aku lihat. Keris itu masuk. Darahmu menyembur." Ia mengusap garis itu dengan ibu jarinya. "Sekarang tinggal ini."

"Ya."

"Dan kerisnya?"

Dira tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyentuh dadanya sendiri dengan tangan kiri.

Satyaki menatap tangan itu. Lalu menatap wajah Dira. Lalu, perlahan, ia menurunkan tangannya dan bersandar ke dinding batu di belakangnya, dan memejamkan mata.

"Ceritakan," katanya. "Semuanya. Dari awal."


Dira menceritakannya.

Tidak semuanya. Tidak dinding beku di Balai Sukma, tidak sesuatu yang besar dan tidur di baliknya, tidak garis biru yang bercabang seperti akar di lehernya. Ada hal-hal yang ia sendiri belum mengerti, dan ia tidak mau memberikan sesuatu yang belum ia mengerti kepada orang yang baru saja hampir mati.

Tetapi ia menceritakan yang lain.

Upacara pemilihan pusaka, ketika tak satu pun pusaka mau mendekat dan cahaya fajar membelok di sekitar kepalanya. Gudang rongsokan. Keris kecil yang retak dari ujung ke pangkal, dengan burung jalak terukir di ganjanya. Bunyi tik seperti paruh burung yang mengetuk dahan. Telapak tangan yang terulur, dan keris itu masuk ke dalamnya seperti batu yang dijatuhkan ke kolam.

Suara di dalam dadanya. Suara yang galak dan cerewet dan pelupa dan suka kacang.

Kata Wadah yang naik dari dasar dirinya.

Napas yang diajarkan suara itu. Langkah Jalak Ngumbara. Tulang lengan yang dipatahkan dan ditata kembali. Tungku ketujuh. Sumur kering. Malam purnama di atap dapur. Gema-gema: kacang, siulan, dan kini kegelisahan yang membuatnya berdiri dan duduk seratus kali semalaman.

Satyaki mendengarkan dengan mata terpejam. Ia tidak memotong sekali pun. Hanya sesekali alisnya bergerak, atau napasnya tertahan sebentar, atau sudut bibirnya berkedut.

Ketika Dira selesai, matahari sudah naik setinggi pucuk pohon di timur. Berkas-berkas cahaya keemasan menembus sela-sela dahan dan jatuh di mulut celah batu, di atas bara yang sudah padam.

Satyaki membuka mata.

"Jadi," katanya. "Waktu kau bilang ada yang bersiul, malam waktu aku memergokimu berlatih di belakang gudang..."

"Itu dia."

"Dan siulan Mbah Karta..."

"Itu juga yang membuatnya bingung."

Satyaki mengangguk pelan. Lalu ia terdiam lama, menatap langit-langit batu di atas kepalanya.

"Dia bisa mendengarku?" tanyanya akhirnya. "Kerisnya. Yang di dalam dadamu. Dia bisa mendengar apa yang kukatakan sekarang?"

"Bisa."

"Dan dia bicara kepadamu?"

"Terus-menerus. Dia tidak pernah berhenti bicara."

"Fitnah," kata Ki Jalak.

Satyaki menatap dada Dira. Ia menatapnya dengan sangat serius, dengan kening berkerut, seperti orang yang sedang berusaha melihat ikan di dasar kolam yang keruh.

"Apa yang dia katakan tentang aku?" tanyanya.

Dira ragu. "Macam-macam."

"Contohnya?"

"Dia bilang kau terlalu pintar. Dia bilang kau akan jadi maling paling hebat di seluruh Jawadwipa." Dira berhenti. "Lalu dia berubah pikiran. Sekarang dia bilang kau akan jadi panglima."

Satyaki diam. Lalu, perlahan, sudut bibirnya bergerak ke atas.

"Dan tongkatku?"

"Tongkat jemuran," kata Ki Jalak.

"Dia..." Dira berhenti. "Dia punya beberapa nama untuk tongkatmu."

"Seperti?"

"Tongkat jemuran."

Satyaki menatap dada Dira lagi. Lama. Lalu ia berkata, sangat sopan, langsung ke arah dada itu, seperti berbicara kepada seorang tetua:

"Kyai. Tongkat jemuran ini kemarin menangkis pusaka yang memotong ranting seperti memotong rambut. Dan tidak tergores sedikit pun."

Hening.

"Hm," kata Ki Jalak.

"Apa katanya?" tanya Satyaki.

"Dia bilang hm."

"Itu artinya apa?"

"Itu artinya," kata Ki Jalak dengan suara orang yang sangat terpaksa, "bahwa tongkat itu mungkin, mungkin, sedikit lebih dari tongkat jemuran. Dan bahwa bocah ini tidak sopan karena mengungkitnya di depanku. Tapi aku menghormatinya. Sedikit."

Dira menyampaikannya. Kata demi kata.

Satyaki tertawa. Tawa yang pendek dan serak, yang membuatnya mengernyit kesakitan dan memegangi dadanya yang terbebat. Tetapi ia tertawa juga. Untuk pertama kalinya sejak Dira mengenalnya, Satyaki tertawa sungguhan.


Lalu tawanya reda, dan wajahnya kembali datar. Lebih datar dari biasanya. Serius seperti batu.

"Getah itu," katanya. "Yang kau berikan padaku waktu aku mati."

Dira menatapnya.

"Aku tahu aku mati," kata Satyaki pelan. "Atau hampir. Aku ingat napasku berhenti. Aku ingat semuanya jadi gelap dan dingin. Lalu ada sesuatu di mulutku. Manis. Seperti madu. Tapi juga seperti..."

"Besi."

"Besi." Satyaki mengangguk. "Lalu aku bermimpi."

"Mimpi apa?"

Satyaki diam sebentar, seperti orang yang mencoba mengingat sesuatu yang sangat jauh.

"Pohon," katanya. "Pohon yang sangat besar. Lebih besar dari padepokan. Lebih besar dari gunung. Dahannya naik sampai ke atas awan. Dan akarnya..." Ia mengerutkan kening. "Akarnya aneh. Akarnya tidak di tanah. Akarnya turun dari langit. Dari atas. Menjuntai seperti rambut. Ribuan. Dan aku berdiri di bawahnya, di antara akar-akar itu, dan ada seseorang..."

Ia berhenti.

"Seseorang?"

"Seseorang duduk di bawah pohon itu. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Dia bersiul." Satyaki menatap Dira. "Siulan jalak, Dira. Siulan yang sama dengan siulan Mbah Karta. Dan siulanmu."

Di Balai Sukma, Ki Jalak tidak bernapas. Dira bisa merasakannya. Diam yang sangat dalam, seperti diam di dasar sumur.

"Lalu ada yang menjawab siulannya," lanjut Satyaki. "Dari atas. Dari dahan-dahan. Seekor burung. Burung jalak. Dan aku bangun."

Lama tak ada yang berbicara.

Lalu Dira menarik bilah bambu dari ikat pinggangnya, bilah yang selalu ia bawa sejak meninggalkan dapur, dan menyerahkannya kepada Satyaki. Satyaki membacanya pelan, huruf demi huruf.

Ringin Sungsang. Beringin terbalik. Akar di langit. Puncak Lawu, di atas kawah. Ki Jalak lahir di sana. Dipetik dari dahannya, bukan ditempa.

Satyaki mengangkat wajahnya.

"Kau menulis ini," katanya.

"Supaya dia tidak lupa."

Satyaki menatap bilah bambu itu lagi. Lalu menatap dada Dira. Lalu menatap bilah bambu itu lagi.

"Kau menulis nama tempat kelahiran sebilah keris," katanya pelan, "supaya keris itu tidak lupa di mana dia lahir."

"Ya."

Satyaki mengembalikan bilah itu dengan kedua tangan. Pelan. Hati-hati. Seperti orang yang mengembalikan sesuatu yang suci.

"Aku sudah lama ingin tahu kenapa aku mau berteman dengan abdi dapur yang tidak bisa memasak," katanya. "Sekarang aku tahu."


Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak Dira duga.

Ia mengulurkan tangan kanannya, tangan yang tidak terbebat, dan meraih Kyai Pring Kuning yang tergeletak di samping tubuhnya. Tongkat bambu kuning sebesar jempol, sepanjang lengan, ujungnya diikat kain merah kusam. Ia meletakkannya melintang di atas pangkuannya.

Lalu ia meletakkan telapak tangannya di atas tongkat itu.

"Dengarkan," katanya.

Dira diam.

"Di Sumberwatu," kata Satyaki, "kami tidak bersumpah dengan darah. Ayahku bilang darah itu murah. Orang bisa berdarah karena tersandung batu. Kami bersumpah dengan dua hal. Dengan nasi, karena nasi adalah hidup. Dan dengan apa pun yang paling kami sayangi, karena kalau sumpah itu dilanggar, yang paling kami sayangi itu akan pergi."

Ia menatap Dira lurus-lurus.

"Kau membagi nasimu denganku di belakang gudang rongsokan, waktu tak ada orang lain di padepokan yang mau melihatku. Itu nasi. Dan yang paling kusayangi di dunia ini, selain ibuku dan adik-adikku di Sumberwatu, adalah tongkat jemuran ini." Sudut bibirnya bergerak sedikit. "Yang kemarin menangkis pusaka dan tidak tergores."

Ia menekan telapak tangannya ke tongkat bambu itu.

"Demi nasi yang kau bagi," katanya pelan dan jelas. "Demi tongkat yang tidak terpotong. Apa yang kudengar pagi ini akan mati bersamaku. Tidak akan kuceritakan kepada siapa pun. Tidak kepada ibuku. Tidak kepada guruku. Tidak kepada Ki Ageng. Tidak kepada siapa pun yang bertanya, dengan cara apa pun mereka bertanya. Kalau aku melanggarnya, biar tongkat ini pergi dari tanganku dan tidak pernah kembali."

Di bawah telapak tangannya, Kyai Pring Kuning bergetar.

Sekali. Pelan. Lalu ujungnya yang diikat kain merah kusam bersinar. Bukan kuning pucat seperti kunang-kunang yang sakit. Kuning keemasan. Hangat. Terang. Seperti cahaya yang menjalar di bawah kulit Satyaki ketika getah Ringin Sungsang menyambung paru-parunya. Cahaya itu bertahan selama satu tarikan napas, menerangi celah batu yang remang-remang, lalu memudar perlahan.

Satyaki menatap tongkatnya. Lalu menatap Dira.

"Dia mendengar," bisiknya.

"Dia mendengar," kata Ki Jalak, dengan suara yang sangat pelan dan, untuk pertama kalinya, penuh hormat. "Pusaka menjadi saksi. Itu sumpah yang lama sekali tidak kudengar. Orang-orang zaman sekarang sudah lupa caranya."

Dira tidak tahu harus berkata apa. Jadi ia berkata satu-satunya hal yang terpikir.

"Terima kasih."

"Jangan berterima kasih." Satyaki bersandar lagi ke dinding batu, menutup mata. Wajahnya kembali datar. "Aku cuma minta satu hal."

"Apa?"

"Kalau suatu hari kau jadi pendekar," kata Satyaki, matanya masih terpejam, "pendekar besar, yang namanya disebut-sebut di pasar dan dinyanyikan dalang, jangan lupa siapa yang memasakkan bubur untukmu waktu kau cuma abdi dapur yang menggosongkan nasi tiga kali sepekan."

Dira tertawa.

"Aku," kata Ki Jalak, "akan mengingatkannya. Setiap hari. Seribu kali kalau perlu."


Mereka berangkat menjelang siang.

Dira ingin menggendong Satyaki kembali ke padepokan. Satyaki menolak. Bukan karena gengsi. Karena akal.

"Kembali ke mana?" katanya, berdiri dengan bersandar pada Kyai Pring Kuning seperti tongkat orang tua, wajahnya mengernyit setiap kali bahu kirinya bergerak. "Lewat lembah kabut? Kita tidak bisa lewat sana lagi. Garam Mbah Karta tinggal sedikit. Memutar ke utara? Celeng Wesi ada di utara. Memutar ke selatan? Lingkaran dupa hitam ada di selatan." Ia menatap ke barat, ke arah pepohonan yang makin tinggi dan makin rapat. "Satu-satunya jalan yang kita tahu aman adalah jalan ke depan. Lagi pula..."

"Lagi pula?"

"Lagi pula aku ingin tahu," kata Satyaki, "kenapa orang tua berjanggut itu begitu menginginkan bunga ini, sampai dia rela mengirim abdi dapur ke jantung Hutan Larangan untuk mengambilnya." Ia menatap Dira. "Kau tidak ingin tahu?"

Dira ingin tahu.

Mereka berjalan ke barat, pelan, sangat pelan, berhenti setiap seratus langkah supaya Satyaki bisa bernapas. Dira berjalan di depan, tangan kanannya sesekali terangkat sedikit ke udara, merasakan aliran udara yang halus di sela jari-jarinya. Ke barat. Selalu ke barat. Aliran udara itu mengalir ke barat seperti air mengalir ke hilir, dan Dira mengikutinya.

Kakinya tidak pernah berhenti bergerak, bahkan ketika mereka beristirahat. Kalau ia duduk, kakinya mengetuk-ngetuk tanah. Kalau ia berdiri, ia mondar-mandir. Satyaki menatapnya dengan alis terangkat setiap kali, tetapi tidak berkata apa-apa.

Hanya sekali, ketika mereka beristirahat untuk keempat kalinya dan Dira sudah berdiri dan duduk tujuh kali selama orang mengunyah sekapur sirih, Satyaki membuka mata dan berkata datar:

"Burung sriti itu. Yang di dalam dadamu. Bilang padanya aku sedang mencoba tidur."

Matahari bergeser ke barat. Pepohonan makin tinggi, makin tua, makin gelap. Tanah mulai naik, lalu naik lagi, berbatu-batu. Lalu, tiba-tiba, pepohonan itu habis.

Di depan mereka berdiri dinding.

Bukan dinding buatan manusia. Tebing. Tebing batu hitam yang menjulang lurus ke atas, begitu tinggi sehingga Dira harus mendongak sampai tengkuknya sakit untuk melihat puncaknya. Batu itu hitam pekat, licin, berkilau seperti batu asah yang digosok bertahun-tahun, dengan retakan-retakan panjang yang menjalar dari atas ke bawah seperti urat. Tak ada lumut yang tumbuh di permukaannya. Tak ada tumbuhan. Bahkan Hutan Larangan pun seperti takut menyentuhnya.

Tebing hitam.

Dan di kakinya, di antara dua bongkah batu besar yang runtuh dari atas, ada sebuah celah. Gelap. Sempit. Setinggi dua orang, selebar satu orang dewasa. Dari dalamnya merembes keluar udara dingin, dan bersama udara dingin itu, sebuah bau.

Wangi.

Bau bunga. Manis, lembut, dan berat, seperti melati yang mekar di tengah malam, seperti kenanga yang direndam madu. Bau yang begitu harum sehingga Dira merasa kepalanya ringan, dan untuk sesaat ia lupa pada kakinya yang pegal, pada matanya yang perih, pada Satyaki yang bersandar di tongkatnya dengan wajah pucat.

"Bocah," kata Ki Jalak tiba-tiba. Suaranya aneh. Waspada. "Bau itu."

Wijayakusuma, pikir Dira. Bunganya. Kita sampai.

"Bukan." Ki Jalak diam sebentar. "Ya. Itu bau bunga. Tapi di bawahnya. Di bawah wanginya. Cium lagi."

Dira menghirup udara dingin yang merembes dari celah itu. Manis. Lembut. Berat. Melati. Kenanga. Madu.

Dan di bawahnya, sangat samar, hampir tak ada, sesuatu yang lain.

Dingin.

Seperti abu dupa yang dibakar di tempat yang tak pernah kena matahari.

Lalu, dari dalam kegelapan celah itu, sesuatu berkilat. Dua titik kecil. Kuning kehijauan. Tinggi, setinggi kepala orang dewasa.

Lalu dua titik lagi. Lebih rendah. Di samping yang pertama.

Empat mata. Menatap mereka dari dalam gelap.