Sang Penelan Pusaka

Bab 68Gema Ketiga

"Tunggu," kata Ki Jalak.

Dira tidak mendengarnya. Ia mencengkeram bahu Satyaki dan mengguncangnya. Kepala Satyaki terkulai ke samping. Matanya tertutup. Bibirnya biru. Dadanya diam.

"Satyaki. Satyaki!"

"Bocah. Tunggu. Lihat."

"Dia tidak bernapas!"

"LIHAT!"

Dira melihat.

Di bawah bebat jarik yang melilit dada Satyaki, di tempat luka di bawah tulang selangka kirinya, sesuatu bersinar.

Samar. Sangat samar. Seperti cahaya pelita yang dilihat dari balik kertas tebal. Kuning keemasan. Hangat. Cahaya itu tidak diam di satu tempat. Cahaya itu bergerak, menjalar pelan di bawah kulit Satyaki, dari luka di dadanya ke bahu, ke leher, ke dada, seperti akar-akar halus yang tumbuh dalam sekejap. Seperti madu yang dituang ke dalam air dan menyebar dalam garis-garis kecil yang bercabang.

Dira melepaskan bahu Satyaki dan mundur, berlutut, menatap.

Cahaya keemasan itu menyebar ke seluruh dada Satyaki. Lalu, perlahan, ke dalam. Tenggelam. Meresap ke dalam daging, ke dalam tulang, ke dalam paru-paru yang robek di bawahnya.

Lalu padam.

Satu kejap. Dua kejap. Tiga.

Satyaki menarik napas.

Bukan napas biasa. Napas yang panjang, dalam, terlalu dalam, seperti orang yang baru keluar dari dasar sungai setelah tenggelam terlalu lama. Dadanya mengembang begitu lebar sampai bebat jarik di sekelilingnya meregang. Ia terbatuk. Sekali. Dua kali. Batuk yang basah, dan sesuatu yang merah gelap tersembur dari mulutnya ke atas lumut. Darah. Darah kental yang tadi memenuhi paru-parunya.

Lalu ia menarik napas lagi.

Tanpa desis.

Dira mendengarkan. Ia menurunkan napasnya sendiri ke bawah pusar, memutarnya, dan mendengarkan dengan seluruh tubuhnya, seperti yang diajarkan Ki Jalak. Napas Satyaki. Masuk. Keluar. Masuk. Keluar. Masih pendek. Masih lemah. Masih tersendat di dada, seperti napas Satyaki yang selalu tersendat di dada sejak pertama kali Dira mengenalnya.

Tetapi tidak ada desis. Tidak ada bunyi kendi retak. Tidak ada udara yang bocor dari dalam.

Bibirnya yang biru perlahan memudar menjadi pucat. Lalu menjadi merah muda. Sangat pucat, tetapi merah muda.

Dira jatuh terduduk di atas lumut.

Ia tidak menangis. Ia hanya duduk di sana, kedua tangannya yang berlumur darah kering tergeletak di pangkuannya, dan menatap dada Satyaki yang naik dan turun, naik dan turun, naik dan turun, seperti orang menatap air yang kembali mengalir di sungai yang ia kira sudah kering.

"Getah itu," bisik Ki Jalak. Suaranya gemetar. "Bocah. Getah itu menyambung paru-parunya. Dari dalam. Seperti akar yang menjahit tanah yang retak." Ia diam sebentar. "Aku tidak pernah tahu. Aku tidak pernah tahu getah pohon itu bisa melakukan itu. Atau aku pernah tahu, lalu lupa."

Dira tidak menjawab.

"Dan orang tua itu memberikannya kepadamu," lanjut Ki Jalak, "dibungkus daun pisang, bersama peyek dan ikan asin. Dengan pesan 'aku lupa, pokoknya jangan dimakan kecuali sudah mau mati'." Ia tertawa kecil, tawa yang pecah dan basah. "Juru masak pikun. Aku akan memukul kepalanya yang botak itu dengan sendok kayunya sendiri kalau aku punya tangan."


Matahari sudah rendah di barat ketika Dira memutuskan mereka harus pindah.

Tepi lembah kabut bukan tempat untuk bermalam. Di bawah sana, kabut putih masih bergulung-gulung, naik dan turun, berirama seperti dada yang bernapas. Kadang-kadang, kalau angin, angin yang kini bisa Dira rasakan dengan aneh di kulitnya, bertiup dari arah lembah, ia mendengar bisikan-bisikan samar dari dalam kabut. Kangmas. Kangmas.

Ia menggendong Satyaki di punggungnya. Murid luar itu tidak berat. Atau mungkin tubuh Raga Puncak membuat apa pun terasa tidak berat. Dira mengikat Kyai Pring Kuning di punggungnya dengan sisa tali ijuk, menyampirkan bungkusan bekal di bahunya, dan berjalan ke barat, menjauh dari lembah, mencari tempat yang lebih tinggi.

Ia menemukannya ketika cahaya terakhir hampir hilang. Sebongkah batu besar yang menjorok dari lereng seperti atap, menaungi celah kering di bawahnya, cukup untuk dua orang berbaring. Lantai celah itu tertutup daun-daun kering, bukan lumut basah. Dan dari tempat itu, ia bisa melihat ke tiga arah tanpa bisa didekati dari belakang.

Ia membaringkan Satyaki di atas daun-daun kering, menyelimutinya dengan sisa jarik, dan menyalakan api kecil di mulut celah dengan batu titik dari bungkusan Satyaki.

Lalu ia duduk di samping api.

Lalu ia berdiri.

Lalu ia duduk lagi.

Lalu ia berdiri dan berjalan ke tepi celah, menatap ke arah lembah kabut yang kini tak terlihat dalam gelap, lalu berjalan kembali dan duduk.

Lalu ia berdiri dan menambahkan sebatang ranting ke api, meskipun apinya masih besar.

Lalu ia duduk.

Kakinya mulai mengetuk-ngetuk tanah.


"Bocah," kata Ki Jalak.

"Apa?"

"Kau sedang apa?"

"Menjaga Satyaki."

"Kau sudah berdiri dan duduk sebelas kali sejak api menyala. Aku menghitung."

Dira menatap kakinya. Kaki kanannya mengetuk-ngetuk tanah dengan irama yang cepat dan tidak beraturan, tuk-tuk-tuk-tuk-tuk, seperti burung pelatuk yang gugup. Ia menghentikannya dengan sengaja. Kakinya diam.

Lalu kaki kirinya yang mulai mengetuk.

Ia menghentikannya juga. Lalu jari-jari tangannya mulai mengetuk-ngetuk lutut.

"Aku tidak bisa diam," katanya pelan, heran.

"Aku tahu."

"Kenapa aku tidak bisa diam?"

Ki Jalak diam sebentar. Lalu ia menghela napas yang bukan napas, panjang, lelah, seperti orang tua yang mendapati cucunya baru saja memecahkan kendi kesayangannya.

"Karena," katanya, "ada burung sriti tidur di dahanku."

Dira berhenti mengetuk.

"Sriti tidak pernah diam, bocah. Sriti tidak pernah hinggap di tanah. Sriti tidur sambil terbang. Sriti makan sambil terbang. Sriti kawin sambil terbang." Ki Jalak berhenti. "Lupakan yang terakhir. Intinya, sriti tidak pernah diam. Dan sekarang ada sriti di dalam dirimu."

"Gema," bisik Dira.

"Gema ketiga. Kacang dariku. Siulan dariku. Dan sekarang..." Ki Jalak berhenti lagi. Di Balai Sukma, Dira merasakan pusaka tua itu menoleh, menatap sesuatu di sampingnya dengan tatapan yang sangat tidak senang. "Dan sekarang gelisah. Dari dia. Yang tidur di dahanku. Yang membelah dahanku. Dan yang barusan, dalam tidurnya, MEMAKAN PEYEKKU."

"Kau punya peyek di Balai Sukma?"

"Aku punya peyek di Balai Sukma. Aku tidak tahu dari mana. Peyek itu muncul setiap kali kau makan peyek. Itu peyekku. Dan dia memakannya. Dalam tidur. Sambil bercicit." Ki Jalak menggeram, kalau seekor jalak bisa menggeram. "Rumahku yang tenang sekarang punya penghuni baru yang tidak bisa diam, yang mematuk, yang membelah dahan, yang mencuri peyek. Bocah, aku tua. Aku tidak cocok tinggal bersama anak muda."

Dira menutup mulutnya dengan tangan.

Tetapi bahunya berguncang. Dan sebelum ia bisa menahannya, tawa keluar dari balik telapak tangannya. Pelan. Lalu lebih keras. Ia tertawa, sendirian di depan api kecil di mulut celah batu di jantung Hutan Larangan, dengan Satyaki yang tidur di sampingnya dan dua pusaka yang bertengkar di dalam dadanya. Tertawa sampai air mata keluar. Tertawa sampai rusuknya sakit.

Tertawa, ia sadar, untuk pertama kalinya sejak dada Satyaki berhenti naik.

"Itu tidak lucu," kata Ki Jalak.

"Itu lucu."

"Itu tidak..." Ki Jalak berhenti. Lalu, dengan nada orang yang terpaksa mengakui sesuatu: "Baik. Sedikit lucu. Peyeknya memang enak. Aku tidak bisa menyalahkannya."


Malam bergerak lambat.

Dira mencoba bersemadi. Ia duduk bersila, menurunkan napas ke bawah pusar, memutarnya sekali, dua kali. Pada putaran ketiga, kaki kanannya menyentak sendiri. Ia mulai lagi. Pada putaran kedua, ia sudah berdiri dan berjalan ke tepi celah sebelum sadar ia berdiri.

Ia mencoba tidur. Ia berbaring di atas daun-daun kering di samping Satyaki, memejamkan mata, dan menghitung napas. Ia tertidur. Lalu terbangun. Ia tidak tahu berapa lama ia tidur. Rasanya hanya sekejap. Ia berbaring lagi. Tertidur. Terbangun.

Ia menghitung bintang di sela dahan. Dua kali. Ia mendapat angka yang berbeda setiap kali.

Ia menyusun kerikil di depan api menjadi barisan. Lalu menjadi lingkaran. Lalu menjadi gambar burung jalak. Lalu menjadi gambar burung sriti. Lalu mengacaknya dan mulai lagi.

Ia memeriksa bebat Satyaki. Masih kencang. Ia memeriksanya lagi. Masih kencang. Ia mengendurkannya sedikit, lalu mengencangkannya lagi.

"Kau seperti ayam yang mau bertelur," kata Ki Jalak.

"Aku tahu."

"Mondar-mandir. Duduk. Berdiri. Duduk. Mengais-ngais tanah."

"Aku tahu, Ki Jalak."

"Aku hanya bilang."

Tetapi ada hal lain juga. Hal yang Dira sadari pelan-pelan, di antara semua kegelisahan itu, ketika ia berdiri untuk kesekian kalinya di tepi celah batu dan menatap ke dalam gelap.

Angin.

Tak ada angin di Hutan Larangan. Itu yang mereka sadari sejak melewati barisan batu peringatan. Tak ada daun yang bergoyang, tak ada ranting yang berderak. Tetapi sekarang, berdiri di tepi celah batu dalam gelap, Dira merasakannya. Bukan angin yang menggoyang daun. Lebih halus dari itu. Udara yang bergerak sangat pelan, nyaris tak ada, seperti napas orang yang tidur di ruangan sebelah. Mengalir dari timur ke barat, dari lembah kabut ke arah tebing hitam yang belum terlihat. Turun di satu tempat, naik di tempat lain. Berputar pelan di sekitar batang-batang pohon besar seperti air mengitari batu di sungai.

Ia bisa merasakannya di kulit lengannya. Di rambut di tengkuknya. Di ujung-ujung jarinya, terutama jari-jari tangan kanan, di sekitar garis tipis putih keperakan di telapak tangannya.

Ia tidak pernah bisa merasakan hal seperti ini sebelumnya.

"Hadiah," kata Ki Jalak pelan, seperti membaca pikirannya. "Gema tidak hanya membawa kebiasaan buruk, bocah. Kacang membuatmu bisa membedakan rasa minyak yang baik dan yang tengik. Siulan membuat burung-burung mendengarmu. Dan ini..." Jeda. "Ini membuatmu bisa membaca angin. Sedikit. Baru sedikit. Nanti, mungkin, lebih banyak."

Dira mengangkat tangan kanannya ke udara gelap dan merasakan aliran itu melewati jari-jarinya.

Lalu ia merasakan sesuatu yang lain.

Di dalam aliran udara yang pelan itu, dari arah utara, ada sesuatu yang bergerak. Bukan udara. Sesuatu yang besar, yang membuat udara terbelah ketika ia lewat, seperti batu besar yang membuat air sungai terbelah. Bergerak pelan. Sangat pelan. Di antara pohon-pohon. Mendekat.

Dan bersama aliran itu, sampai ke hidung Dira, sebuah bau.

Bau kandang babi yang sudah lama ditinggalkan. Bau besi tua. Bau kayu beringin yang terluka.

Dira tidak bergerak. Ia tetap berdiri di tepi celah batu, di depan api kecil, dengan tangan kanan terangkat ke udara.

Di dalam gelap di antara pohon-pohon di sebelah utara, dua titik merah menyala.

Mata. Kecil, rendah, dekat ke tanah. Memantulkan cahaya api. Diam.

Lalu sesuatu yang lain berkilat di bawah kedua mata itu. Dua lengkungan pucat, panjang, melengkung ke atas seperti bulan sabit. Hanya dua. Dua yang lain sudah patah, tertancap di batang beringin tua.

Celeng Wesi.

Dira menatapnya. Babi hutan itu menatapnya kembali.

Lama.

Lalu, dengan dengusan pelan yang terdengar seperti gerutu orang tua, kedua mata merah itu berpaling. Bayangan besar di antara pohon-pohon itu berbalik, perlahan, dan bergerak pergi ke arah utara. Udara yang terbelah oleh tubuhnya kembali menyatu. Baunya memudar.

Dira menghembuskan napas yang ia tidak sadar ia tahan.

"Dia mengenalimu," bisik Ki Jalak. "Orang yang membuatnya kehilangan dua taring."

"Atau dia tidak lapar malam ini."

"Atau itu."


Fajar datang dengan pelan, kelabu, seperti air cucian beras yang dituang ke langit.

Dira sudah berdiri dan duduk lebih dari seratus kali sepanjang malam. Ia tidak menghitung lagi setelah seratus. Kakinya pegal. Matanya perih. Kepalanya terasa ringan dan berat sekaligus, seperti kepala orang yang terlalu lama tidak tidur.

Tetapi Satyaki masih bernapas. Sepanjang malam. Tanpa desis.

Dira sedang menambahkan ranting terakhir ke bara yang tinggal sedikit ketika ia mendengar suara di belakangnya. Gemerisik daun kering. Gerakan kecil. Lalu sebuah suara, serak, pelan, dan sangat lemah, tetapi jelas.

"Dira."

Dira berbalik.

Satyaki terbaring di atas daun-daun kering dengan mata terbuka. Wajahnya masih sangat pucat, bibirnya pecah-pecah, rambutnya kusut dan basah oleh keringat dingin. Tetapi matanya jernih. Tajam. Seperti biasa.

Dan mata itu tidak menatap wajah Dira.

Mata itu menatap tangan kanan Dira. Telapak tangannya. Garis tipis putih keperakan di tengahnya.

"Tunjukkan tanganmu," kata Satyaki.