Bab 28Mencuri Pandang
Atap dapur Argasuryan terbuat dari ijuk yang ditumpuk berlapis-lapis selama ratusan warsa. Dari bawah, atap itu tampak kokoh dan hitam, seperti punggung kerbau raksasa yang sedang tidur. Dari atas, Dira segera mendapati, atap itu tidak kokoh sama sekali.
Atap itu gatal.
Serat-serat ijuk yang kasar menusuk-nusuk kulitnya di setiap tempat yang bersentuhan: lengan, dada, perut, lutut, bahkan pipinya. Debu jelaga menyusup ke hidungnya setiap kali ia bernapas. Di beberapa tempat, ijuk itu lapuk dan lunak, dan ia harus menguji setiap pijakan dengan ujung jari kaki sebelum menaruh berat badannya, kalau tidak mau terperosok dan jatuh ke dalam dapur, tepat di atas tungku-tungku.
"Langkah Jalak Ngumbara," bisik Ki Jalak. "Hinggap. Jangan berat di satu tempat."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa kau merangkak seperti cacing kepanasan?"
Dira tidak menjawab. Ia merangkak terus, pelan-pelan, menyusuri lereng atap yang miring, menuju bubungan.
Langit masih gelap. Kentongan subuh belum berbunyi. Seluruh padepokan masih tidur, kecuali segelintir orang yang memang harus bangun sebelum ayam berkokok. Ia sudah menimba air untuk dapur dan memecah kayu lebih awal dari biasa, lalu menyelinap ke balik dapur, memanjat tumpukan karung beras yang ditumpuk di dinding luar, dan naik ke atap.
Satyaki tidak ikut. Murid luar tak boleh keluar asrama sebelum kentongan subuh, dan Satyaki sudah cukup banyak masalah. Tetapi semalam, di belakang gudang rongsokan, ia menggambar denah lapangan murid dalam di atas tanah dengan ranting: letak tiang-tiang batu, letak tempat pelatih berdiri, letak barisan murid. "Bubungan sebelah timur," katanya. "Di sana ada cerobong asap tungku keempat. Kau bisa bersembunyi di baliknya. Asapnya akan menutupi kepalamu."
Dira mencapai bubungan dan menemukan cerobong asap itu. Cerobong itu terbuat dari bata merah yang sudah menghitam, setinggi lutut, dan dari ujungnya mengepul asap tipis tungku keempat yang dinyalakan Mbah Karta sejak tengah malam.
Ia berbaring telungkup di balik cerobong, dengan dagu menempel di bubungan ijuk yang gatal, dan menatap ke seberang tembok batu.
Lapangan latihan murid dalam ternyata jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
Lapangan itu berbentuk persegi panjang, berlantai tanah liat yang dipadatkan hingga keras seperti batu. Di sekelilingnya berdiri tembok batu setinggi dua orang, menutupinya dari pandangan siapa pun di luar. Di dalamnya, berjajar dalam tiga baris rapi, berdiri tiang-tiang batu andesit setinggi dada orang dewasa dan sebesar pelukan. Tiang-tiang itu tidak mulus. Permukaannya penuh cekungan, retakan, dan bekas-bekas telapak tangan yang terbenam dalam-dalam di batu, seperti cetakan di tanah liat basah.
Ratusan warsa murid dalam Argasuryan telah memukul tiang-tiang itu. Dan batu sekeras andesit pun menyerah pada telapak tangan mereka.
Obor-obor bambu menyala di keempat sudut lapangan. Di bawah cahayanya, sekitar tiga puluh murid dalam sudah berbaris, mengenakan jarik hitam dan udeng merah, bertelanjang dada meski udara subuh masih dingin. Uap napas mereka mengepul putih.
Dira mengenali beberapa wajah. Sutarga, di barisan tengah, wajah bulatnya pucat dan matanya sayu seperti orang yang baru minum arak semalam. Joyokusumo, di sebelahnya, menguap lebar-lebar. Dan di barisan depan, sendirian di ujung paling kanan, berdiri seseorang yang tidak berudeng merah.
Raden Bayuwisesa.
Ia belum genap satu candra menjadi murid. Menurut aturan, ia seharusnya berlatih bersama murid luar, di lapangan murid luar, dengan udeng biru. Tetapi ia putra Ki Ageng Suryadharma, pemilik Kyai Nagageni, pusaka terkuat di rak altar. Ia sudah di Prana Madya sejak umur lima belas warsa. Aturan, rupanya, bisa dibelokkan untuk orang seperti dia.
Ia berdiri dengan punggung tegak, tak bergerak, Nagageni terselip di pinggangnya. Dari jauh pun, Dira bisa melihat bahwa uap napasnya tidak mengepul seperti murid-murid lain. Uap itu keluar tipis dan rata, sangat terkendali, seperti asap dupa di ruangan tanpa angin.
"Hm," kata Ki Jalak pelan. "Yang itu bukan anak sembarangan."
Pelatih mereka muncul tepat saat kentongan subuh berbunyi.
Ia lelaki setengah baya bertubuh pendek dan sangat lebar, seperti tunggul pohon jati yang diberi kepala. Lengannya tebal seperti paha orang biasa, dan telapak tangannya, bahkan dari atas atap, tampak besar dan rata seperti dayung. Ia mengenakan beskap hitam bersulam matahari, tanda tetua, tetapi beskapnya dibiarkan terbuka di dada, memperlihatkan bekas-bekas luka yang menyilang seperti akar.
"Ki Brajanala," bisik Dira kepada dirinya sendiri. Ia pernah mendengar nama itu disebut abdi-abdi tua dengan nada hormat dan takut. Tetua pelatih murid dalam. Konon pernah memecah batu sebesar kerbau dengan satu tapak.
Ki Brajanala tidak berbicara. Ia berjalan ke depan barisan, berdiri di depan tiang batu pertama, dan menatap murid-muridnya satu per satu. Lalu ia mengangkat tangan kanannya, perlahan, telapak terbuka menghadap ke depan.
"Tapak Bayu Bajra," katanya. Suaranya rendah dan berat, seperti batu yang digulingkan di dasar sungai. "Sekali lagi. Dari awal. Lihat baik-baik. Hari ini aku tak akan mengulanginya lagi."
Ia bergerak.
Dira lupa bernapas.
Gerakan itu dimulai dari kaki. Ki Brajanala menekuk lututnya sedikit, memutar pinggulnya setengah lingkaran, dan tubuhnya yang lebar seperti tunggul jati tiba-tiba bergerak dengan kelenturan yang mustahil, seperti ular yang menggeliat. Lengan kanannya tertarik ke belakang. Lalu meluncur ke depan, tidak cepat, justru lambat, lambat sekali, seperti dahan yang ditiup angin pelan.
Lalu, sejengkal sebelum telapaknya menyentuh tiang batu, gerakan itu berubah. Lambat menjadi cepat. Lebih cepat dari mata. Angin menyembur dari telapaknya, Dira bisa melihat debu di lantai lapangan beterbangan, dan terdengar bunyi seperti petir yang sangat kecil.
Krak.
Telapak Ki Brajanala menempel di tiang batu. Sejenak tak terjadi apa-apa. Lalu retakan menjalar dari bawah telapaknya ke segala arah, seperti retakan pada kulit telur, dan sebongkah batu sebesar kepala kambing terlepas dari sisi belakang tiang dan jatuh ke tanah.
Ki Brajanala menarik tangannya. Di permukaan tiang tertinggal satu bekas telapak lagi, terbenam sedalam sebuku jari, di antara ratusan bekas telapak lainnya.
"Angin di awal," katanya. "Petir di akhir. Lambat untuk mengumpulkan, cepat untuk melepaskan. Tenaga dari kaki, diputar di pinggul, dialirkan lewat bahu, dilepaskan dari telapak." Ia menatap murid-muridnya. "Mulai."
Tiga puluh murid dalam mulai memukul tiang-tiang batu.
Dira menonton dari balik cerobong asap dengan mata yang tak berkedip. Ia tak lagi merasakan ijuk yang menusuk kulitnya, debu jelaga di hidungnya, asap tungku yang mengepul di atas kepalanya. Ia hanya menonton. Dan menghitung.
Ia menghitung setiap gerakan. Tekukan lutut. Putaran pinggul. Tarikan lengan. Luncuran lambat. Ledakan cepat. Ia menghitung berapa tarikan napas di antara tiap bagian. Ia menghitung di mana kaki mereka menekan tanah dan di mana bahu mereka berputar.
Sebagian besar murid dalam tak bisa memecah tiang. Tapak mereka meninggalkan cekungan dangkal atau retakan kecil. Beberapa sama sekali tak meninggalkan bekas apa pun, dan mereka mengibas-ngibaskan tangan dengan wajah meringis kesakitan. Sutarga memukul tiang tiga kali dan pada kali ketiga ia mengaduh keras dan memegangi pergelangan tangannya. Joyokusumo lebih baik, tetapi tidak banyak.
"Mereka salah," kata Ki Jalak tiba-tiba.
"Salah apa?"
"Sebagian besar dari mereka. Tenaga mereka tidak datang dari kaki. Mereka bilang dari kaki, guru mereka bilang dari kaki, tapi tenaga mereka datang dari bahu. Lihat yang wajahnya bulat itu. Kakinya diam saja. Pinggulnya berputar seperti pintu berkarat. Semua tenaganya dari lengan dan bahu. Pantas tangannya sakit."
Dira memperhatikan Sutarga lagi. Ki Jalak benar.
"Pelatihnya tidak membetulkan?"
"Pelatihnya sendiri juga agak salah."
Dira menoleh ke arah Ki Brajanala yang sedang berjalan di antara barisan, mengoreksi posisi murid-muridnya dengan menepuk siku atau bahu mereka.
"Dia memecah tiang batu dengan satu tapak."
"Karena tubuhnya sebesar tunggul jati. Karena dia sudah berlatih puluhan warsa. Karena tenaganya sudah begitu besar sehingga sedikit kesalahan tidak terlalu penting." Ki Jalak terdiam sebentar. "Tapi ada sedikit kesalahan. Di pinggulnya. Putarannya setengah lingkaran. Seharusnya lebih dari itu. Seharusnya..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Seharusnya apa?"
"Tidak tahu." Ki Jalak terdengar bingung. "Aku hanya tahu jurus ini seperti bayangan dari sesuatu yang lain. Seperti anak yang wajahnya mirip kakeknya, tapi tidak persis. Aku kenal kakeknya. Rasanya aku kenal kakeknya. Tapi kakeknya... hilang. Jatuh dari bolong."
Lalu Raden Bayuwisesa melangkah maju ke tiang batu di ujung paling kanan.
Lapangan menjadi sedikit lebih sunyi. Beberapa murid dalam berhenti memukul dan menonton. Ki Brajanala pun berhenti berjalan dan menoleh.
Bayuwisesa tidak memukul tiang seketika. Ia berdiri di depannya dan memejamkan mata selama tiga tarikan napas. Uap napasnya keluar tipis dan rata.
Lalu ia bergerak.
Kakinya menekan tanah. Pinggulnya berputar, lebih dari setengah lingkaran, lebih dari putaran Ki Brajanala. Lengannya meluncur pelan, lalu meledak. Bunyi petir kecil terdengar, lebih nyaring dari bunyi tapak sang pelatih.
Tiang batu itu tidak retak.
Tiang batu itu terbelah dua.
Dari atas sampai ke bawah, garis lurus, seperti dibelah kapak raksasa. Kedua belahannya roboh ke kiri dan ke kanan dengan bunyi gedebuk yang menggetarkan tanah, dan debu andesit mengepul dalam cahaya obor.
Lapangan menjadi sunyi senyap. Bahkan Sutarga berhenti memegangi pergelangan tangannya.
Ki Brajanala menatap kedua belahan tiang itu lama. Lalu ia menatap Bayuwisesa, dan di wajahnya yang lebar dan keras, Dira melihat sesuatu yang sangat jarang terlihat di wajah seorang guru: rasa hormat bercampur sedikit iri.
"Hm," kata Ki Jalak, sangat pelan. "Anak itu memutar pinggulnya dengan benar. Tanpa diajari. Dia menemukannya sendiri."
Dira tidak menjawab. Ia menatap Raden Bayuwisesa, pemuda yang menertawakannya di altar, yang menciptakan julukan anak yang tak tersentuh matahari, yang menyalakan panas Nagageni di depan wajah Wulansari. Pemuda itu berdiri dengan tenang di antara dua belahan tiang batu, mengibaskan debu dari telapak tangannya, wajahnya datar, seperti baru saja menepis lalat.
Dira merasakan sesuatu di dadanya, dan butuh beberapa tarikan napas untuk mengenalinya.
Jarak. Jarak yang begitu jauh antara dirinya dan pemuda itu, seperti jarak antara dasar jurang dan puncak Lawu.
"Jangan berkecil hati," kata Ki Jalak. "Dia sudah di Prana Madya. Kau baru di Raga Awal. Itu dua tingkat dan sebagian. Wajar kalau jauh."
"Aku tidak berkecil hati."
"Napasmu tersendat."
Dira tidak menjawab. Ia menarik napas, membiarkannya turun ke bawah pusar, berputar seperti roda. Lalu ia kembali menonton dan menghitung.
Ia hampir ketahuan karena seekor kucing.
Kucing itu, seekor kucing belang tiga milik entah siapa, rupanya juga punya kebiasaan naik ke atap dapur sebelum subuh, mungkin untuk menghangatkan diri di dekat cerobong asap. Ia muncul dari sisi lain bubungan tanpa suara, berjalan santai di sepanjang punggungan atap, dan berhenti tepat di depan wajah Dira.
Mereka saling menatap.
Kucing itu mengendus hidung Dira. Lalu, mungkin karena mencium bau peyek kacang yang masih menempel di napasnya, kucing itu memutuskan Dira adalah teman. Ia duduk di depan wajah Dira, lalu mulai menggosok-gosokkan kepalanya ke dagu Dira sambil mendengkur keras.
Sangat keras.
Di bawah, di lapangan, beberapa murid dalam menoleh ke arah atap dapur.
"Usir dia!" desis Ki Jalak.
Dira tidak bisa mengusirnya. Kalau ia menggerakkan tangan, gerakannya akan terlihat dari bawah. Ia hanya bisa berbaring diam, telungkup di balik cerobong asap, sementara seekor kucing belang tiga menggosok-gosokkan seluruh tubuhnya ke wajahnya, mendengkur seperti batu asah yang digosokkan ke bilah, dan bulu-bulunya masuk ke hidungnya.
Ia ingin bersin.
Ia menahan napas. Ia memejamkan mata. Ia menghitung. Satu. Dua. Tiga. Hidungnya berkedut. Empat. Lima. Kucing itu menjilat kelopak matanya.
"Jangan bersin," bisik Ki Jalak, suaranya tegang seperti tali busur. "Bocah, demi semua dewa di kahyangan, jangan bersin."
Dira tidak bersin.
Ia tidak tahu bagaimana caranya. Mungkin napas yang berputar seperti roda membantu. Mungkin semua latihan menahan rasa sakit di depan tungku membantu. Yang jelas, ia berbaring diam dengan hidung berkedut dan mata berair selama sepeminuman teh, sampai kucing belang tiga itu akhirnya bosan, menguap lebar, dan berjalan pergi ke sisi lain bubungan.
Di bawah, murid-murid yang menoleh tadi sudah kembali memukul tiang.
Dira menghembuskan napas pelan-pelan. Lalu ia menekan hidungnya dengan kedua tangan dan bersin tanpa suara ke dalam ijuk.
"Bersin yang paling sopan yang pernah kudengar," gumam Ki Jalak, lemas karena lega.
Latihan berakhir ketika matahari mulai mengintip di balik gunung seberang. Ki Brajanala membubarkan murid-muridnya dengan satu kibasan tangan. Murid-murid dalam berjalan keluar lapangan lewat gerbang barat, bergerombol, sebagian mengeluh soal tangan yang sakit, sebagian membicarakan tiang batu yang terbelah dua.
Dira menunggu sampai lapangan hampir kosong. Lalu ia mulai merangkak mundur dari bubungan, pelan-pelan, menuju tumpukan karung di dinding luar dapur.
Tetapi lapangan belum benar-benar kosong.
Raden Bayuwisesa masih berdiri di dekat tiang yang ia belah, sendirian. Ia tidak mengikuti murid-murid lain keluar. Ia berdiri diam, menatap kedua belahan tiang batu itu, lalu perlahan mengangkat wajahnya.
Ia menatap ke arah dapur.
Ke atap dapur.
Ke bubungan sebelah timur, ke cerobong asap tungku keempat, ke tempat di mana sepasang mata baru saja mengintip dari baliknya.
Dira membeku di tengah gerakan merangkak, separuh tubuhnya masih di atas bubungan.
Bayuwisesa membungkuk. Ia memungut sesuatu dari tanah di dekat kakinya, sebutir pecahan batu andesit dari tiang yang terbelah, sebesar ibu jari. Ia menimbangnya sebentar di telapak tangannya.
Lalu, tanpa terburu-buru, tanpa terlihat mengerahkan tenaga sedikit pun, ia menjentikkan pecahan batu itu dengan ibu jari dan jari tengah.
Pecahan batu itu melesat melewati tembok setinggi dua orang, melesat di atas lantai lapangan, melesat ke arah atap dapur, dengan bunyi mendesing seperti anak panah.
Pecahan batu itu menghantam ijuk sejengkal dari wajah Dira.
Ijuk meledak berhamburan. Serpihan-serpihan seratnya menusuk pipi Dira. Pecahan batu itu tertanam di atap, begitu dalam hingga hanya ujungnya yang terlihat, berasap tipis.
Dira tidak bergerak. Ia tidak bernapas.
Di bawah, di lapangan yang kini kosong, suara Raden Bayuwisesa terdengar jelas di udara subuh yang sunyi.
"Ada tikus di atap dapur," katanya kepada dirinya sendiri, atau kepada siapa pun yang mungkin mendengar. "Besar sekali."
Lalu ia berbalik dan berjalan keluar lewat gerbang barat, tanpa menoleh lagi.