Bab 27Utang Sepiring Nasi
Gandawasa menunggu di depan gudang kayu bakar dengan obor di tangan dan senyum yang sudah dipersiapkan sejak siang.
"Sepuluh ikat," katanya ketika Dira muncul dari kegelapan. "Sebelum senja. Sekarang sudah..."
Ia berhenti. Matanya yang menyipit dalam cahaya obor menghitung ikat-ikat kayu di tubuh Dira. Lalu menatap jarik Dira yang robek dari pinggul sampai lutut. Lalu menatap balutan kain di pahanya, yang sudah merembes merah tua di beberapa tempat.
"Enam ikat," katanya pelan. "Dan apa itu?"
"Babi hutan," kata Dira.
"Babi hutan?" Gandawasa mendengus. "Babi hutan tidak pernah sampai ke lereng sini. Babi hutan ada di kebun singkong di bawah. Kecil-kecil. Kau tergores duri, kan? Lalu kau mengarang cerita supaya..."
"Sebesar kerbau," kata Dira. "Taringnya empat. Warnanya abu-abu gelap, berkilat seperti besi yang baru diasah. Matanya merah menyala. Waktu dia mendengus, uapnya seperti asap dari dandang."
Gandawasa diam.
"Dia menyeruduk pohon beringin sebesar tiga kali badanku," lanjut Dira, suaranya tetap datar. "Taringnya tertancap. Dia mencabutnya sampai dua taringnya patah. Lalu dia mengejarku sampai ke batu peringatan." Ia berhenti sebentar. "Kalau Kakang tak percaya, Kakang bisa ke sana besok dan melihat sendiri. Dua taringnya masih tertancap di beringin tua. Di Hutan Larangan. Sedikit lebih jauh dari sepelemparan batu."
Cahaya obor bergetar. Dira tidak tahu apakah itu karena angin atau karena tangan Gandawasa.
Para abdi lain yang tadinya berkerumun di belakang Gandawasa, ingin melihat Dira dihukum, kini saling berbisik dan mundur sedikit.
"Babi hutan," ulang seorang abdi tua dengan suara gemetar. "Bertaring besi. Itu... itu Celeng Wesi."
"Celeng apa?" tanya Gandawasa tajam.
"Celeng Wesi, Kang. Kata nenekku dulu. Penunggu Hutan Larangan. Kalau dia sampai keluar..."
"Diam!" bentak Gandawasa. Tapi suaranya tidak sekeras biasanya. Ia menatap Dira lagi, lalu menatap kegelapan di balik dapur, ke arah utara, ke arah gudang rongsokan dan barisan batu peringatan dan hutan di belakangnya.
Lalu ia menatap obor di tangannya, yang apinya bergoyang-goyang ditiup angin malam.
"Enam ikat," katanya akhirnya, dengan suara yang kehilangan setengah tenaganya. "Enam ikat cukup untuk dua hari. Tumpuk di gudang."
Ia berbalik dan berjalan ke barak. Cepat. Hampir terlalu cepat.
"Lihat itu," kata Ki Jalak, dan suaranya terdengar sangat puas. "Takut ular, takut hantu, dan sekarang takut babi."
"Celeng Wesi," bisik Dira, menumpuk kayu di gudang. "Penunggu Hutan Larangan."
"Nama yang bagus. Lebih bagus dari Jalak Nekat."
"Diam."
Gendhis menjerit ketika melihat paha Dira. Gendhing memeluknya sambil menangis lega. Mbah Karta, dari sudut dapur, hanya menatap sebentar balutan kain berisi daun binahong itu, mengangguk sekali, lalu kembali mengaduk sayur.
Malam itu bungkusan nasi di atas karung beras lebih besar dari biasanya. Isinya nasi, telur rebus dua butir, sepotong ayam goreng, sayur lodeh, dan setumpuk peyek kacang.
Dira menatap bungkusan itu. Lalu ia membungkusnya kembali dengan hati-hati, menyisakan hanya setengah porsi untuk dirinya sendiri.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ki Jalak. "Itu peyek. Itu peyek kacang. Kau mau menyimpannya untuk besok? Jangan. Peyek tidak enak kalau sudah melempem."
"Bukan untuk besok."
"Lalu untuk siapa?"
Dira tidak menjawab. Ia menyelipkan bungkusan itu di balik bajunya, menunggu sampai seluruh barak tertidur dan dengkuran Gandawasa memenuhi udara malam, lalu menyelinap keluar pintu belakang dapur.
Satyaki sudah berada di belakang gudang rongsokan, di tempat yang sama seperti tadi sore. Ia duduk bersila di atas rumput, tongkat bambu kuningnya di pangkuan, matanya terpejam. Napasnya pelan dan teratur, tetapi Dira, yang kini tahu cara mendengarkan napas, bisa mendengar bahwa napas itu tersendat-sendat di dada, tidak turun ke perut.
"Kau bilang kadang berlatih sampai larut," kata Dira.
Satyaki membuka mata dan tersentak. "Kau... bagaimana kau tahu aku di sini?"
"Kau bilang sudah setahun berlatih di sini. Aku menebak."
Satyaki tertawa kecil dan menggeser duduknya, memberi tempat di rumput. Dira duduk di sampingnya dan mengeluarkan bungkusan daun pisang dari balik bajunya.
"Ini," katanya.
Satyaki menatap bungkusan itu. Lalu menatap Dira. Lalu menatap bungkusan itu lagi.
"Apa ini?"
"Nasi."
"Untuk apa?"
"Untuk dimakan."
"Aku tahu nasi untuk dimakan." Satyaki tidak menyentuh bungkusan itu. "Maksudku, kenapa kau memberikannya padaku?"
Dira mengangkat bahu. "Tadi kau bilang jatah makanmu sering direbut. Aku menebak malam ini juga."
Satyaki tidak menjawab. Tapi perutnya yang menjawab, dengan bunyi keras dan panjang yang terdengar di tengah kesunyian malam seperti kentongan yang dipukul terlalu bersemangat.
Ia menunduk. Telinganya memerah dalam cahaya bulan.
"Kakang Wisnuwara dan teman-temannya," katanya pelan. "Murid luar tahun ketiga. Mereka menunggu di pintu ruang makan setiap malam. Kalau aku lewat, mereka mengambil separuh nasiku. Kadang semuanya. Mereka bilang murid bertongkat bebek tak butuh banyak makan, karena tak banyak berlatih juga."
"Kau tidak melawan?"
"Mereka tiga orang. Prana Madya semua." Satyaki menggeleng. "Aku pernah melawan sekali. Waktu tahun pertama. Aku pingsan dua hari, dan pembimbingku bilang aku jatuh dari tangga."
Dira membuka bungkusan itu dan meletakkannya di rumput di antara mereka. Uap tipis masih naik dari nasi. Bau ayam goreng dan sayur lodeh menguar di udara malam.
"Makan," katanya.
Satyaki menatap isi bungkusan itu, nasi, telur, ayam, sayur, peyek, dan matanya berkaca-kaca.
"Ini lebih banyak dari jatah murid luar," bisiknya. "Ini... ini ayam."
"Juru masak di dapur baik hati."
"Dan kau memberikannya padaku. Kau baru kenal aku tadi sore."
"Kau menempelkan daun binahong di pahaku. Kau tidak cerita tentang langkahku." Dira mendorong bungkusan itu lebih dekat. "Dan kau sudah setahun berlatih sendirian di belakang gudang ini dengan perut lapar. Aku tahu rasanya."
Satyaki tidak berkata apa-apa lagi. Ia mengambil sejumput nasi dengan jari-jarinya yang kurus, memasukkannya ke mulut, dan mengunyah pelan-pelan. Lalu sejumput lagi. Lalu sepotong ayam. Ia makan dengan sangat hati-hati, seperti orang yang takut makanan di depannya akan lenyap kalau ia makan terlalu cepat.
"Hm," kata Ki Jalak, ketika Satyaki mengambil sekeping peyek kacang. "Itu peyekku."
"Itu peyekku," bisik Dira.
"Peyek di dalam dirimu adalah peyekku. Itu aturannya."
Satyaki mengunyah peyek itu dan matanya membesar. "Ini enak sekali," katanya dengan mulut penuh. "Siapa yang membuat ini?"
"Mbah Karta."
"Juru masak tua yang pikun itu?"
Dira tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Dari arah lumbung, seekor burung hantu bersuara dua kali, lalu diam. Satyaki menoleh ke sana sebentar sebelum kembali ke peyeknya.
Lalu Satyaki menemukan sesuatu di sudut bungkusan, di bawah lipatan daun pisang. Segumpal kecil sambal berwarna merah tua kehitaman, berkilat oleh minyak.
"Apa ini?" tanyanya. "Sambal?"
Dira membuka mulut untuk memperingatkannya.
"Jangan," bisik Ki Jalak dengan nada penuh kegembiraan jahat. "Biarkan dia."
Dira menutup mulutnya lagi.
Satyaki mencolek sambal itu dengan sejumput nasi dan memasukkannya ke mulut.
Selama dua tarikan napas, tidak terjadi apa-apa.
Lalu Satyaki membeku. Matanya membelalak. Wajahnya berubah dari kuning pucat menjadi merah muda, lalu merah, lalu merah tua seperti cabai rawit yang masak di pohon. Keringat langsung muncul di dahinya, berbutir-butir sebesar biji jagung. Ia membuka mulut, tetapi tak ada suara yang keluar. Hanya desisan panjang seperti ceret yang mendidih.
"Sambal Lawu Murka," kata Dira dengan tenang. "Buatan Gendhis. Resep rahasia."
Satyaki menunjuk-nunjuk mulutnya dengan panik. Air mata mengalir dari kedua matanya. Ingusnya mulai menetes. Ia melambai-lambaikan tangan di depan mulutnya seperti orang mengipasi api.
"Air?" tanya Dira.
Satyaki mengangguk-angguk dengan sangat cepat.
"Aku tidak bawa air."
Satyaki mengeluarkan bunyi yang terdengar seperti tikus terinjak, lalu melompat berdiri dan berlari ke arah sumur di belakang dapur, dua ratus langkah jauhnya, dengan tongkat bambu kuning terayun-ayun di punggungnya dan tangan terkipas-kipas di depan mulut.
Dira menatap kepergiannya. Lalu ia mulai tertawa. Tertawa sampai berbaring di rumput, sampai perutnya sakit, sampai paha yang terluka berdenyut-denyut.
Di dalam dadanya, Ki Jalak juga tertawa. Tawa jalak kecil yang serak, berderai, dan jahat.
"Itu," kata Ki Jalak di sela tawanya, "itu bayaran untuk mengintip."
Satyaki kembali lama kemudian. Langkahnya terdengar dari jauh, diselingi batuk-batuk kecil. Rambut dan wajahnya basah kuyup. Bibirnya masih merah dan sedikit bengkak. Ia duduk di samping Dira dengan wajah yang sangat terluka harga dirinya.
"Kau sengaja," katanya.
"Aku tidak memaksamu memakannya."
"Kau tidak memperingatkanku."
"Kau tidak bertanya."
Satyaki menatapnya tajam. Lalu, perlahan, sudut bibirnya yang bengkak bergerak ke atas. Lalu ia tertawa juga. Tawa yang serak, tersengal, dan sangat lega, tawa orang yang sudah terlalu lama tidak tertawa bersama siapa pun.
Ketika tawa mereka mereda, Satyaki mengambil sisa nasi di daun pisang, menghindari sambal dengan sangat hati-hati, dan menghabiskannya. Lalu ia melipat daun pisang itu dengan rapi dan meletakkannya di pangkuannya.
"Aku berutang padamu," katanya.
"Sepiring nasi tidak perlu dibayar."
"Sepiring nasi yang ada ayamnya perlu dibayar." Satyaki menatap daun pisang yang terlipat itu. "Di desaku, orang bilang utang nasi lebih berat dari utang emas. Emas bisa dikembalikan dengan emas. Nasi cuma bisa dikembalikan dengan kesetiaan."
"Desamu di mana?"
"Sumberwatu. Di kaki Lawu. Setengah hari jalan kaki dari sini."
Dira menoleh tajam. "Sumberwatu?"
"Kenapa? Kau tahu tempatnya?"
"Sumur desa di sana," kata Dira pelan. "Apa dua wuku lalu keruh? Bau belerang?"
Satyaki mengernyit. "Keruh? Tidak. Sumur Sumberwatu itu sumur paling jernih di seluruh kaki Lawu. Ibuku bilang airnya sejernih air mata. Tak pernah keruh. Tak pernah bau. Tidak dua wuku lalu, tidak kapan pun." Ia menatap Dira curiga. "Kenapa kau tanya begitu?"
Dira tidak menjawab. Ia teringat Nyai Rukminiwati, berdiri di ambang pintu dapur dengan kemben berdebu, membisikkan kalimat yang sama persis. Sumur di Sumberwatu tidak keruh. Airnya sejernih air mata.
Ki Ageng mengutus Nyai ke sana untuk memeriksa sumur yang tidak pernah bermasalah. Tepat sebelum Dira difitnah mencuri ingkung.
"Tambahkan ke bilah bambumu," kata Ki Jalak pelan.
Mereka duduk di sana sampai bulan bergeser jauh ke barat. Satyaki bercerita tentang Sumberwatu, tentang ayahnya yang petani padi, tentang ibunya yang tahu nama semua tumbuhan obat di kaki Lawu, tentang adik-adiknya yang empat orang dan semuanya berharap kakak sulung mereka pulang suatu hari sebagai pendekar Argasuryan. Dira bercerita tentang dapur, tentang si kembar, tentang Mbah Karta yang pikun, tentang Wulansari. Ia tidak bercerita tentang Ki Jalak. Satyaki tidak bertanya lagi tentang burung jalak.
Ketika akhirnya mereka bangkit untuk kembali, Satyaki berhenti dan menoleh ke arah padepokan, ke arah lapangan latihan murid dalam di balik tembok batu tinggi di sisi timur, di samping balairung.
"Kau tahu," katanya pelan, "aku sudah setahun mengintip latihan murid dalam dari balik pohon. Dari jauh. Aku hafal langkah-langkah mereka, tapi aku tak pernah bisa melihat jurus tangan mereka dengan jelas. Terlalu jauh."
"Lalu?"
"Lapangan murid dalam itu tepat di sebelah dapur abdi. Dipisahkan tembok setinggi dua tubuh orang. Dari bawah tak terlihat apa-apa." Satyaki menatap Dira, dan matanya yang tajam berkilat dalam cahaya bulan. "Tapi dari atap dapur..."
Dira menoleh ke arah dapur. Atap ijuk tinggi yang hitam oleh jelaga ratusan warsa. Atap yang lebih tinggi dari tembok batu itu.
"Setiap pagi sebelum matahari terbit," lanjut Satyaki, "murid dalam berlatih Tapak Bayu Bajra di lapangan itu. Jurus tangan terbaik Argasuryan. Jurus yang tak pernah diajarkan kepada murid luar seperti aku. Apalagi kepada abdi seperti kau." Ia tersenyum miring. "Kalau ada yang berani naik ke atap dapur sebelum subuh dan berbaring telungkup di balik bubungannya, orang itu bisa melihat semuanya."
Di dalam dada Dira, Ki Jalak berhenti bersiul.
"Bocah," katanya pelan, dan untuk pertama kalinya suaranya tidak terdengar menolak. "Bocah ini memang terlalu pintar."