Bab 20Napas Raga Pertama
"Bukan begitu."
Dira membuka mata. Ia sudah duduk bersila di depan tungku ketujuh selama sepeminuman teh, punggung tegak, tangan di atas lutut, mata terpejam, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan-pelan seperti yang ia lihat dilakukan para murid luar di lapangan latihan.
"Bukan begitu bagaimana?"
"Kau menarik napas dengan dada." Ki Jalak terdengar seperti guru yang sudah mengulang pelajaran yang sama seratus kali kepada murid yang paling bebal. "Dadamu naik turun seperti ayam yang kepanasan. Itu napas orang ketakutan. Itu napas orang yang baru dikejar anjing."
"Lalu harus dengan apa?"
"Perut. Bawah pusar. Tiga jari di bawah pusar. Di sana ada tempat yang disebut... disebut..." Hening. "Pokoknya ada tempatnya. Namanya tidak penting. Taruh tanganmu di sana."
Dira meletakkan telapak tangan kanannya di bawah pusar.
"Sekarang tarik napas. Pelan. Lewat hidung. Tapi jangan biarkan dadamu bergerak. Biarkan perutmu yang mengembang, seperti kendi yang diisi air dari bawah."
Dira menarik napas. Dadanya terangkat.
"Dada!"
Ia mengembuskan napas dan mencoba lagi. Kali ini ia menahan dadanya agar diam. Napasnya tersendat di tenggorokan seperti air yang tersumbat di leher kendi.
"Bukan ditahan, bocah! Dibiarkan! Kau tidak sedang menahan kentut!"
Dira tersedak, lalu terbatuk-batuk. Di tengah batuknya, tawanya keluar.
"Ki Jalak, kau tak bisa bilang kentut di tengah latihan pernapasan."
"Kenapa tidak? Napas dan kentut sama-sama udara. Yang satu masuk lewat atas, yang satu keluar lewat bawah. Leluhurmu juga melakukan keduanya."
Dira harus menelungkup ke lantai dapur untuk menahan tawanya. Ketika akhirnya bisa duduk tegak lagi, matanya berair dan perutnya sakit.
"Sudah?" tanya Ki Jalak dingin.
"Sudah."
"Bagus. Lihat? Perutmu sakit karena tertawa. Itu artinya perutmu bisa bergerak. Sekarang gerakkan dengan napas, bukan dengan tawa."
Mereka mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Ternyata menarik napas dengan benar adalah hal tersulit yang pernah dipelajari Dira seumur hidupnya. Lebih sulit daripada membaca aksara, bahkan lebih sulit daripada diam ketika dicambuk.
Masalahnya bukan pada perut. Setelah beberapa puluh kali mencoba, perutnya mulai bisa mengembang seperti kendi diisi air. Masalahnya pada apa yang terjadi setelah itu.
"Sekarang," kata Ki Jalak, "ketika perutmu penuh, bayangkan napas itu tidak berhenti di sana. Bayangkan napas itu turun lebih dalam, ke tulang ekormu, lalu naik lagi lewat tulang punggung, ruas demi ruas, seperti air yang naik di batang bambu. Naik sampai tengkuk. Lalu turun lagi lewat depan, lewat dada, kembali ke bawah pusar. Satu putaran. Seperti roda."
"Napas tidak bisa turun ke tulang ekor."
"Napas yang biasa tidak bisa. Napas yang benar bisa. Itu bedanya orang yang berkultivasi dan orang yang megap-megap."
Dira mencoba membayangkannya. Napas yang turun ke tulang ekor. Naik lewat tulang punggung. Ruas demi ruas.
Napasnya berhenti di perut. Tidak mau turun lebih jauh. Seperti air yang dituang ke kendi yang lubangnya tersumbat lumpur.
"Itu selokanmu," kata Ki Jalak. "Itu meridianmu yang tersumbat daun busuk. Delapan belas warsa tak pernah dipakai. Tak pernah disiram. Tak pernah dibersihkan. Sekarang kita harus membersihkannya."
"Bagaimana caranya?"
"Dengan panas."
Dira membuka mata. Ki Jalak tidak perlu menjelaskan. Di depannya, tungku ketujuh menyala dengan api kuning yang besar, kayu-kayu jatinya berderak, panasnya menjilat wajah Dira dari jarak dua langkah.
"Lebih dekat," kata Ki Jalak.
Dira bergeser maju. Satu langkah. Panas itu sekarang menyengat kulit wajahnya, membuat matanya perih.
"Lebih dekat."
"Ki Jalak..."
"Lebih dekat, bocah. Kau mau kuat atau tidak?"
Dira bergeser maju lagi. Kini ia duduk bersila tepat di depan mulut tungku. Lututnya hampir menyentuh batu bata yang panas. Api di dalam tungku itu begitu dekat hingga ia bisa mendengar desisnya, merasakan napasnya, melihat setiap lidah api yang menari-nari di sekeliling kayu jati.
Keringat langsung membanjiri tubuhnya. Rambutnya langsung basah. Kulit wajahnya terasa kencang dan perih, seperti daging yang dipanggang di atas bara.
"Sekarang tarik napas," kata Ki Jalak. "Bukan cuma udara. Tarik panasnya juga. Biarkan panas tungku ini masuk lewat napasmu, turun ke perutmu, bertemu dengan panasku yang sudah ada di dalam dirimu. Lalu dorong keduanya ke bawah. Ke tulang ekor. Kita bakar daun-daun busuk di selokanmu."
Dira menarik napas.
Panas masuk ke hidungnya, ke tenggorokannya, ke dadanya. Rasanya seperti menelan uap dari dandang yang mendidih. Ia hampir terbatuk, tetapi menahannya. Ia membiarkan panas itu turun ke perut, ke tempat tiga jari di bawah pusar.
Di sana, panas itu bertemu sesuatu. Panas yang lain, lebih kecil, lebih tua, berdenyut seperti bara di dalam abu. Panas Ki Jalak.
Kedua panas itu menyatu.
Dira merasakannya seperti dua tetes air yang bersentuhan dan menjadi satu tetes yang lebih besar. Lalu tetes yang lebih besar itu mulai bergerak. Turun.
Ke tulang ekor.
Ia menjerit.
Rasanya seperti seseorang menyiramkan minyak mendidih ke tulang punggungnya dari dalam.
Panas itu turun ke tulang ekor dan menabrak sesuatu. Sesuatu yang keras, padat, dan tua, seperti gumpalan lumpur yang sudah mengering menjadi batu di dasar selokan. Panas itu mendorong. Gumpalan itu tidak bergerak. Panas itu mendorong lebih keras. Gumpalan itu retak.
Dira terjatuh ke samping, meringkuk di lantai tanah, kedua tangannya mencengkeram perut.
"Bangun!" bentak Ki Jalak. "Jangan berhenti! Kalau berhenti sekarang, panasnya akan terjebak di sana dan membakar dagingmu dari dalam!"
"Sakit..."
"Tentu saja sakit! Kau pikir membersihkan selokan delapan belas warsa itu seperti mengupas bawang? Bangun! Duduk! Tarik napas lagi!"
Dira tidak tahu dari mana tenaganya datang. Mungkin dari kemarahan pada Gandawasa. Mungkin dari kenangan tentang cahaya fajar yang membelok di altar. Mungkin dari kata-kata Wulansari di depan tungku, aku akan menjadi kuat untuk kita berdua, dan keinginannya yang tiba-tiba sangat kuat untuk tidak hanya menjadi orang yang dilindungi.
Ia bangkit. Ia duduk bersila lagi di depan tungku. Ia menarik napas.
Panas itu masuk lagi. Turun lagi. Menabrak gumpalan di tulang ekornya lagi.
Gumpalan itu retak lebih lebar.
Ia menarik napas lagi.
Lagi.
Lagi.
Ia tak tahu sudah berapa kali. Ia berhenti menghitung napas dan mulai menghitung hal lain, seperti kebiasaannya setiap kali rasa sakit terlalu besar untuk ditanggung. Ia menghitung lingkaran bergaris di bilah bambu: Gandawasa. Lingkaran penuh: Sutarga. Dua garis miring: Joyokusumo. Lingkaran berjanggut: Ki Wiradhana. Ia menghitung tiga puluh pukulan rotan yang diterima Gandawasa. Ia menghitung sepuluh cambukan yang diterimanya sendiri.
Dan entah bagaimana, ketika ia berhenti melawan rasa sakit dan mulai menghitung bersamanya, napasnya menjadi lebih mudah.
"Ya," bisik Ki Jalak. "Ya. Begitu. Kau menemukannya."
"Menemukan apa?"
"Iramanya. Setiap orang punya irama napasnya sendiri. Ada yang seperti genderang perang. Ada yang seperti angin. Ada yang seperti ombak. Kau..." Ki Jalak terdiam, seperti sedang mendengarkan. "Kau seperti orang yang menghitung butir beras satu per satu. Sabar. Tekun. Tidak ada yang terlewat."
Dira tidak menjawab. Ia terus bernapas. Terus menghitung.
Gumpalan di tulang ekornya hancur.
Ia merasakannya seperti bendungan lumpur yang jebol. Panas yang tertahan menyembur maju, naik ke tulang punggungnya, ruas demi ruas, cepat dan menyakitkan seperti api yang merambat di sepanjang sumbu minyak. Naik ke pinggang. Naik ke punggung. Naik ke tengah punggung, tepat di tempat luka-luka cambuknya baru sembuh, dan di sana panas itu tiba-tiba terasa seperti tangan yang mengelus, bukan api yang membakar.
Naik ke tengkuk.
Dan di tengkuk, panas itu berhenti.
Dira merasakannya dengan sangat jelas. Panas itu naik sampai ke bagian bawah tengkuk, lalu terbentur sesuatu. Bukan gumpalan lumpur seperti di tulang ekor. Sesuatu yang lain, dingin dan licin, seperti dinding batu sendang yang berlumut.
Kain di lehernya.
Bukan kainnya, tepatnya. Sesuatu di bawah kain itu. Atau sesuatu di dalam kain itu. Dira tidak tahu. Ia hanya tahu panas yang sudah naik dengan susah payah dari tulang ekor kini membentur dinding dingin di lehernya dan tidak bisa lewat.
"Belokkan," kata Ki Jalak cepat. "Jangan paksa lewat leher. Belokkan ke depan. Lewat bahu, lewat dada. Kembali ke bawah pusar. Cepat!"
Dira membelokkan panas itu. Ia tidak tahu caranya, tetapi tubuhnya tahu. Panas itu berbelok di pangkal leher, mengalir turun lewat bahu, menyusuri dada, masuk ke perut, kembali ke tempat tiga jari di bawah pusar.
Satu putaran.
Seperti roda.
Ketika putaran itu selesai, sesuatu di dalam tubuh Dira berubah.
Ia tidak bisa menjelaskannya. Rasanya seperti seseorang membuka semua jendela di rumah yang sudah delapan belas warsa tertutup rapat. Udara segar masuk. Debu terbang keluar. Cahaya menyiram ruangan-ruangan yang selama ini gelap.
Tubuhnya terasa lebih ringan. Tidak sedikit lebih ringan. Jauh lebih ringan, seperti selama ini ia memikul sekarung beras di punggung tanpa menyadarinya dan karung itu tiba-tiba dilepas. Lengan dan kakinya terasa kencang dan penuh, seperti tali busur yang baru ditarik. Napasnya mengalir sendiri, masuk dan keluar dengan irama yang tenang, turun ke perut tanpa perlu dipaksa.
Ia membuka mata. Dapur yang gelap, yang hanya diterangi api tungku ketujuh, tiba-tiba terlihat lebih jelas. Ia bisa melihat retakan-retakan kecil di batu bata tungku. Ia bisa melihat butiran debu yang menari di udara. Ia bisa melihat sarang laba-laba di sudut atap yang selama ini tak pernah ia perhatikan.
"Raga Awal," kata Ki Jalak pelan. Suaranya terdengar lelah, tetapi puas. "Selamat, bocah. Kau baru saja melangkah masuk ke jalan kultivasi. Langkah pertama dari ribuan langkah."
Dira menatap kedua tangannya. Tangan itu tampak sama seperti sebelumnya, kurus, berbekas luka, kasar. Tetapi ketika ia mengepalkannya, kepalan itu terasa berbeda. Lebih padat. Lebih hidup.
"Raga Awal," bisiknya.
"Jangan bangga dulu. Raga Awal itu tingkat paling rendah dari yang paling rendah. Raga, Prana, Tenaga Dalam, Sukma, Pendekar, Begawan, dan seterusnya. Kau baru menyentuh anak tangga pertama dari tangga yang tingginya sampai ke langit. Anak-anak yang dipilih pusaka di altar itu mungkin sudah di Raga Madya sejak kecil karena dilatih orang tuanya." Ki Jalak mendengus. "Kau baru keluar dari telur. Sekarang kau anak ayam. Anak ayam yang sangat basah dan sangat jelek."
Dira tertawa. Lalu tawanya berhenti tiba-tiba.
Perutnya bergejolak.
"Ah," kata Ki Jalak. "Itu. Aku lupa memberitahumu soal itu."
"Soal apa?"
"Daun-daun busuk yang kita bakar di selokanmu. Abunya harus keluar. Lewat mana saja."
Dira tidak sempat bertanya lebih jauh. Ia hanya sempat merangkak secepat mungkin ke pintu belakang dapur, membukanya, dan muntah di tanah di luar.
Yang keluar dari mulutnya bukan sisa makan malam. Cairan hitam, kental, berminyak, seperti lumpur dasar kolam yang sudah bertahun-tahun tak dikuras. Dan dari pori-pori kulitnya, dari lengan, dari dahi, dari punggung, merembes keringat yang sama hitamnya, lengket seperti getah, dengan bau yang begitu busuk hingga mata Dira sendiri berair.
Bau itu seperti bangkai tikus yang direndam dalam air comberan selama tiga hari di musim kemarau.
"Kotoran tubuhmu," kata Ki Jalak dengan nada orang yang berusaha terdengar bijak sambil menahan napas. "Delapan belas warsa kotoran. Semua orang yang naik ke Raga Awal mengeluarkannya. Kau cuma lebih banyak karena... yah, karena kau bambu yang lupa disiram."
"Kau... bisa... mencium ini?" Dira terengah-engah di antara muntahannya.
"Lewat hidungmu, bocah. Sayangnya."
Dira menghabiskan sisa malam di sumur belakang dapur, menimba air dan mengguyur tubuhnya berulang kali. Air dingin di tengah malam terasa seperti ribuan jarum, tetapi tubuhnya yang baru tidak menggigil seperti dulu. Ia menggosok kulitnya dengan sabut kelapa sampai merah. Ia mencuci jariknya tiga kali. Ia mengubur muntahan hitam di bawah tanah di balik kandang kambing, dan kambing bermata jahat itu mengembik protes dan menjauh ke sudut kandang yang paling jauh.
Bau itu tetap tidak hilang sepenuhnya.
Menjelang subuh, ketika ia kembali ke dapur untuk memastikan tungku ketujuh masih menyala, sesuai pesan Mbah Karta, ia mendengar suara langkah di belakangnya.
Dira berbalik.
Gendhis berdiri di ambang pintu belakang dapur, memegang pelita minyak, rambutnya masih kusut karena baru bangun, kain jariknya diikat seadanya. Rupanya ia bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan.
Gadis itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Dira, yang berdiri di depan tungku ketujuh dengan rambut basah, kulit merah karena digosok, dan jarik basah yang menempel di badan. Lalu ia menatap tungku ketujuh yang menyala terang tanpa dandang apa pun di atasnya. Lalu ia menatap tanah di balik kandang kambing, yang masih basah dan baru digali.
Lalu hidungnya bergerak. Sekali. Dua kali.
Wajah Gendhis berubah dari kantuk menjadi ngeri.
"Dira," katanya pelan, dengan suara orang yang baru menemukan mayat. "Kau sedang apa tengah malam di sini? Dan..."
Ia mengangkat pelitanya lebih tinggi, menatap Dira dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan hidungnya mengernyit sampai hampir menyentuh alisnya.
"...bau busuk apa ini?"