Bab 19Mbah Karta Mencium Bau Besi
"Bau besi?" ulang Dira.
"Bau besi," kata Mbah Karta lagi, mengangguk-angguk seperti burung pelatuk. "Bau karat. Bau rongsokan. Kau main di gudang lagi, ya, Darsa? Sudah dibilang Ki Wiradhana, bersihkan, bukan tidur di sana."
"Saya tidak..."
"Mandi." Lelaki tua itu menepuk bahu Dira dua kali dengan tangannya yang kurus. "Kalau masak dengan badan bau besi, nanti sayurnya bau besi juga. Lalu tetua-tetua mengeluh. Lalu aku yang dimarahi. Lalu aku sedih. Lalu aku lupa garam. Kasihan aku, kan?"
Gendhing tertawa terbahak. Gendhis tersenyum, tetapi matanya tidak ikut tersenyum. Ia menatap Mbah Karta seperti menatap ular di semak-semak, ular yang belum jelas berbisa atau tidak.
Mbah Karta berbalik dan kembali ke tungkunya dengan langkah tertatih-tatih. Ia mulai bersiul, siulan jalak kebo yang naik turun, pendek-pendek, terputus-putus.
Di dalam dada Dira, Ki Jalak masih diam.
"Ki Jalak?" bisik Dira, menunduk ke arah jagung yang sedang dikupasnya.
Tak ada jawaban.
"Ki Jalak, kau di sana?"
"...siulan itu," kata Ki Jalak akhirnya, sangat pelan.
"Kenapa?"
"Tidak tahu. Kepalaku sakit." Jeda. "Kalau keris punya kepala." Jeda lagi, lebih panjang. "Lagu itu. Aku seperti pernah... seperti ada yang dulu... tidak. Tidak ada. Hilang lagi."
Dira merasakan sesuatu di dalam dirinya, sesuatu seperti tangan yang meraih ke dalam lubang gelap dan hanya menggenggam udara kosong. Lalu tangan itu ditarik kembali.
"Juru masakmu itu," gumam Ki Jalak. "Bocah, juru masakmu itu juga bau besi."
Dira berhenti mengupas.
"Mbah Karta?"
"Aku menciumnya waktu dia membungkuk tadi. Lewat hidungmu. Bau besi. Tapi bukan besi rongsokan seperti di gudang. Bukan juga besi panci atau besi kapak." Ki Jalak ragu. "Besi tempaan. Besi yang pernah dipanaskan di tungku empu dan dipukul ribuan kali. Bau itu menempel di kulitnya, jauh di bawah bau bawang dan asap."
Dira menoleh perlahan ke arah tungku. Mbah Karta sedang mencicipi sayur dari ujung sendok kayunya, mengecap-ngecapkan bibirnya yang hampir tak bergigi, lalu mengangguk puas dan menaburkan garam lagi.
"Mungkin dia dulu pandai besi," bisik Dira. "Sebelum jadi juru masak."
"Mungkin," kata Ki Jalak. Ia tidak terdengar yakin.
Dira kembali mengupas jagung, tetapi matanya terus melirik ke arah tungku, ke punggung bungkuk yang membelakanginya.
Keesokan harinya adalah hari pertama Dira bekerja penuh setelah demam, dan Gandawasa tidak menyia-nyiakannya.
Kepala dapur itu sudah tidak lagi berjalan membungkuk. Punggungnya sudah pulih dari tiga puluh pukulan rotan, dan senyumnya yang lebar dan kekuningan sudah kembali. Ia tidak menyebut-nyebut ingkung, tidak menyebut-nyebut cambuk, tidak menyebut-nyebut kain leher. Larangan Nyai masih berlaku, dan ia tak bodoh.
Tetapi ia tetap kepala dapur. Dan kepala dapur berhak membagi pekerjaan.
"Lima puluh timba air," katanya kepada Dira pagi itu. "Setelah itu cuci semua bakul nasi bekas sarapan. Setelah itu angkut sepuluh karung beras dari lumbung ke dapur. Setelah itu..."
"Kakang," potong Gendhis dari sudut. "Nyai bilang..."
"Nyai bilang dia tak boleh kerja sampai demamnya turun. Demamnya sudah turun, kan?" Gandawasa menyeringai ke arah Dira. "Lihat, dia sehat. Matanya terang. Pipinya merah. Kemarin dia bahkan kuat berlari-lari mengelilingi tungku dikejar Gendhing, aku dengar."
Gendhing menunduk dalam-dalam karena malu.
Dira tidak membantah. Ia mengambil timba dan berjalan ke sumur.
Pagi itu kabut masih tebal di sekitar sumur. Tali ijuk basah oleh embun dan dingin di telapak tangan. Beberapa abdi sudah mengantre dengan timba masing-masing, dan begitu melihat Dira datang, mereka bergeser sedikit, memberi jarak, seperti orang memberi jalan kepada pembawa obor. Dira tak tahu apakah itu karena kabar memar biru di lehernya atau karena kabar ia pingsan di gudang angker. Mungkin keduanya, ditambah kabar-kabar lain yang belum sampai ke telinganya.
Hari itu ternyata tidak seberat yang ia kira.
Lima puluh timba air terasa lebih ringan daripada dulu. Tidak ringan sekali, lengannya masih pegal dan tali ijuk masih menggesek telapak tangannya yang baru sembuh. Tapi lebih ringan. Ia tidak perlu berhenti di timba keempat puluh untuk menunggu dunia berhenti berputar. Napasnya tidak tersengal seperti ikan di darat.
"Itu karena aku," kata Ki Jalak dengan bangga, ketika Dira menuang timba keempat puluh tujuh ke gentong. "Panasku mengalir di lenganmu. Sedikit. Sedikit sekali. Selokan meridianmu masih tersumbat daun busuk, tapi sekarang ada setetes air yang mengalir di dalamnya. Itu dariku."
"Terima kasih."
"Jangan terima kasih dulu. Setetes itu tak cukup. Kau tetap lemah. Kau tetap bambu yang lupa disiram. Kalau ada yang memukulmu sekarang, kau tetap jatuh seperti karung goni." Ki Jalak mendengus. "Kita harus mulai melatihmu. Malam ini."
"Melatihku apa?"
"Bernapas, bocah. Kau bahkan belum bisa bernapas."
Sepuluh karung beras dari lumbung ternyata bagian yang paling berat. Setiap karung seberat anak kambing yang meronta, dan jalan dari lumbung ke dapur menanjak. Pada karung ketiga, punggungnya yang baru sembuh mulai berdenyut lagi. Pada karung ketujuh, ia berhenti di tengah jalan, menurunkan karung ke tanah, dan bersandar di pagar bambu sampai napasnya kembali. Ki Jalak, untuk sekali itu, tidak mengomel.
"Pelan-pelan," katanya saja. "Karung tidak lari."
Sore harinya, ketika Dira kembali ke dapur setelah mengangkut karung beras kesepuluh, bau harum menyergapnya di ambang pintu.
Bau itu gurih dan manis, renyah dan berminyak. Bau yang sampai kemarin pagi akan membuatnya mengernyitkan hidung, tetapi sekarang membuat perutnya berbunyi keras dan air liurnya memenuhi mulut.
Peyek kacang.
Di atas meja panjang dekat tungku, di atas selembar daun pisang yang lebar, tertumpuk peyek kacang yang baru diangkat dari wajan. Kepingannya tipis dan keemasan, bertabur kacang tanah yang menyembul di sana-sini seperti batu-batu kecil di dasar sungai jernih. Minyaknya masih berkilat. Uapnya masih menari-nari.
Mbah Karta duduk di bangku di samping meja itu, sedang membersihkan wajan dengan sabut kelapa sambil bersiul.
"Mbah masak peyek?" tanya Gendhing, yang muncul di belakang Dira dengan mata berbinar-binar.
"Hm? Oh, itu." Mbah Karta melirik tumpukan peyek seperti baru menyadari keberadaannya. "Iya. Tadi ada kacang tanah lebih di lumbung. Sayang kalau dibuang. Tikus nanti senang."
"Untuk tetua?"
"Untuk siapa saja yang mau." Mbah Karta mengangkat bahu. "Tetua tak suka peyek. Gigi mereka sudah tak kuat. Seperti gigiku." Ia memamerkan tiga giginya yang tersisa sambil terkekeh.
Gendhing langsung menyambar dua keping peyek dan memasukkan satu ke mulutnya. Gendhis mengambil satu dengan ragu, menggigit sedikit, lalu menyingkirkannya karena tak suka kacang.
Gendhing mengunyah dengan mata terpejam, mengambil keping ketiga sebelum yang kedua habis, lalu menyelipkan keping keempat ke balik bajunya ketika ia mengira tak ada yang melihat.
Dira berdiri di ambang pintu dan menatap tumpukan peyek itu. Uapnya naik pelan-pelan, membawa bau kencur dan daun jeruk ke hidungnya. Perutnya berbunyi lagi, cukup keras sampai Gendhing menoleh dan nyengir dengan mulut penuh.
Tadi ada kacang tanah lebih di lumbung.
Selama ia bekerja di dapur ini, Mbah Karta belum pernah sekali pun memasak peyek. Tak sekali pun memasak apa pun dari kacang tanah. Gendhing harus membeli kacang goreng diam-diam dari pedagang lewat karena dapur ini tak pernah memasaknya.
Dan sekarang, sehari setelah Dira mulai menyukai kacang, setelah ia ketahuan mencuri kacang goreng Gendhing dan dikejar mengelilingi tungku, Mbah Karta tiba-tiba memasak setumpuk peyek kacang.
"Bocah," bisik Ki Jalak dengan suara yang sudah gemetar oleh nafsu makan. "Bocah, kenapa kau masih berdiri di situ? Itu peyek! Peyek kacang! Ambil!"
Dira berjalan ke meja dan mengambil sekeping. Ia menggigitnya.
Renyah. Gurih. Kacangnya matang sempurna, tidak gosong, tidak mentah. Tepung berasnya tipis dan ringan, dibumbui bawang putih, kencur, dan daun jeruk yang diiris halus. Enak. Luar biasa enak.
"Ohhh," desah Ki Jalak. "Ya. Ya. Persis seperti..."
Ia berhenti.
"Persis seperti apa?" bisik Dira.
"Persis seperti..." Hening. "...aku tidak tahu. Tadi hampir ingat. Rasanya seperti peyek yang pernah... seseorang dulu pernah memasakkanku... tidak, keris tidak makan peyek, itu bodoh. Tapi rasanya... rasanya..."
Ki Jalak tidak menyelesaikan kalimatnya.
Dira menelan peyek di mulutnya dan menoleh ke arah Mbah Karta. Lelaki tua itu masih membersihkan wajan, masih bersiul, masih membelakanginya.
"Mbah," kata Dira.
"Hm?"
"Peyeknya enak sekali."
"Ah, biasa saja. Resep lama."
"Resep siapa, Mbah?"
Siulan Mbah Karta berhenti sebentar. Sabut kelapa di tangannya berhenti menggosok. Lalu keduanya bergerak lagi.
"Resep guruku," kata Mbah Karta tanpa menoleh. "Dulu sekali. Waktu aku masih muda dan bodoh. Guruku suka sekali kacang. Kalau tak ada kacang, dia mengomel sepanjang hari." Ia terkekeh. "Orangnya galak. Cerewet. Pelupa. Tapi masakannya..." Ia menggeleng-geleng. "Ah, sudahlah. Itu cerita lama. Aku sudah lupa sebagian besarnya."
Dira berdiri membeku dengan peyek setengah tergigit di tangannya.
Galak. Cerewet. Pelupa. Suka sekali kacang.
Di dalam dadanya, Ki Jalak sama sekali tidak bersuara. Bahkan tidak bernapas, kalau pusaka memang bernapas. Dira hanya merasakan sesuatu di Balai Sukma diam membeku seperti dirinya.
"Guru Mbah," katanya pelan, berhati-hati. "Guru apa, Mbah? Guru masak?"
Mbah Karta meletakkan wajan yang sudah bersih di atas rak. Ia berbalik dan menatap Dira, dan matanya keruh dan polos dan berkedip-kedip lambat seperti mata kura-kura.
"Guru masak," katanya. "Tentu saja guru masak. Memangnya guru apa lagi, Darsa? Aku ini juru masak. Juru masak gurunya ya juru masak." Ia terkekeh, menepuk perutnya yang kempis. "Kau ini aneh-aneh saja. Habis demam pikiranmu masih belum lurus."
Ia mengambil sendok kayunya dan berjalan tertatih-tatih ke tungku ketujuh.
Malam itu, ketika semua abdi sudah kembali ke barak, Mbah Karta tidak tidur di karung berasnya seperti biasa.
Ia menyalakan api di tungku ketujuh, tungku yang katanya bertahun-tahun tak dipakai. Bukan api kecil untuk merebus ramuan. Api besar, nyala kuning terang, dengan kayu-kayu jati kering yang ditumpuk rapi di mulut tungku. Kayu jati yang katanya tak ada di padepokan ini.
Lalu ia memanggil Dira, yang sedang membereskan bakul-bakul nasi terakhir.
"Darsa."
"Inggih, Mbah?"
"Tungku ini." Mbah Karta menunjuk tungku ketujuh dengan sendok kayunya. "Malam ini harus dijaga. Jangan sampai padam sampai subuh. Paham?"
"Kenapa, Mbah?"
"Kenapa?" Mbah Karta mengernyit, seperti pertanyaan itu sangat bodoh. "Karena besok pagi aku mau merebus tulang sapi untuk kaldu selamatan. Tulang sapi harus direbus semalaman. Kalau tungkunya dingin, tulangnya tak empuk. Kalau tulangnya tak empuk, kaldunya tak gurih. Kalau kaldunya tak gurih..."
"Mbah dimarahi tetua, lalu Mbah sedih, lalu Mbah lupa garam."
Mbah Karta mengerjap, lalu terkekeh panjang. "Nah. Kau sudah pintar." Ia menepuk bahu Dira. "Jaga tungkunya. Semalaman. Aku tidur di gudang beras saja, di sini terlalu panas untuk tulang-tulang tuaku."
Ia berjalan keluar pintu belakang, tertatih-tatih, bersiul pelan. Siulan itu makin jauh, makin pelan, lalu hilang ditelan bunyi jangkrik. Dapur menjadi sunyi, hanya ada desis api dan derak kayu jati yang terbakar.
Dira berdiri sendirian di dapur yang kosong, di depan tungku ketujuh yang menyala terang, menatap ke dalam api.
Tak ada dandang di atas tungku itu. Tak ada kendil. Tak ada tulang sapi.
"Bocah," kata Ki Jalak pelan, dan untuk pertama kalinya sejak sore, suaranya terdengar lagi. "Juru masakmu itu."
"Ya?"
"Aku tidak tahu siapa dia. Aku tidak ingat. Tapi aku tahu satu hal."
"Apa?"
"Tungku sebesar dan sepanas ini, di dapur sesepi ini, semalaman, tanpa ada yang mengganggu." Ki Jalak terdiam sebentar. "Ini bukan untuk merebus tulang sapi. Ini tempat yang sempurna untuk melatih orang bernapas."
Di dalam api tungku ketujuh, sebatang kayu jati berderak dan memercikkan bunga api ke udara, seperti kunang-kunang emas yang terbang ke atap dapur dan menghilang di antara jelaga.
"Duduk," kata Ki Jalak. "Di depan tungku. Bersila. Punggung tegak. Kita mulai sekarang."