Bab 17Ditelan, Bukan Dipilih
Ki Jalak mencoba keluar.
Dira merasakannya sebelum ia mengerti apa yang terjadi. Sesuatu di dalam dadanya bergerak tiba-tiba, cepat dan panik, seperti burung yang terbang menabrak dinding sangkar. Lalu bergerak lagi ke arah lain. Lalu ke arah lain lagi. Ruangan batu di dalam dirinya, yang tadinya sunyi, kini dipenuhi bunyi kepak sayap yang kacau.
Lalu semua gerakan itu mengalir ke satu arah: ke lengan kanannya.
Panas menyembur dari bahu ke siku, dari siku ke pergelangan, dari pergelangan ke telapak tangan. Bekas kemerahan di telapaknya menyala dalam gelap, merah tua seperti logam di tungku empu, cukup terang untuk menerangi jari-jarinya sendiri.
Dira menggigit bibir. Rasanya seperti tangannya dimasukkan ke dalam bara.
"Keluar," desis Ki Jalak, entah kepada siapa. "Keluar, keluar, keluar..."
Kulit di telapak tangan Dira beriak, seperti malam itu di gudang, seperti permukaan air yang dilempari batu. Sesuatu mendorong dari dalam. Ujung sesuatu yang tajam dan kecil menekan kulitnya dari bawah, mencari jalan.
Lalu berhenti.
Riak di kulitnya mereda. Cahaya merah di bekas retakan meredup, lalu padam. Panas di lengannya surut perlahan, seperti air yang mengalir kembali ke sungai setelah banjir.
Di dalam dadanya, bunyi kepak sayap itu melambat. Lalu berhenti sama sekali.
Dira membuka mata. Ia tak sadar telah memejamkannya. Napasnya tersengal, dan keringat dingin kembali membasahi dahinya.
"Ki Jalak?"
Tak ada jawaban.
"Ki Jalak, kau di sana?"
"...aku tidak bisa keluar."
Suara itu sangat kecil. Sangat lelah.
"Aku tidak bisa keluar, bocah. Pintunya tidak ada. Aku masuk lewat tanganmu, tapi tak ada jalan keluar lewat tanganmu. Tak ada jalan keluar lewat mana pun. Aku sudah mencoba. Aku... aku sudah mencoba semua dinding."
Dira menatap telapak tangannya dalam gelap.
"Mungkin kau terlalu lelah," katanya pelan. "Mungkin kalau kau istirahat dulu..."
"Bukan karena lelah." Suara itu menjadi lebih pelan lagi. "Kau tidak mengerti. Pusaka yang dipegang bisa dilepas. Pusaka yang disarungkan bisa dicabut. Pusaka yang dipilih bisa memilih orang lain, kalau tuannya mati atau mengkhianatinya. Itu ikatan. Seperti dua tangan yang saling menggenggam. Kau bisa melepaskannya."
"Lalu ini apa?"
Lama sekali Ki Jalak tidak menjawab.
"Ini bukan genggaman," katanya akhirnya. "Ini..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tetapi Dira merasakan sesuatu di dalam dirinya, dari arah ruangan batu yang luas dan gelap, sebuah kata yang naik pelan-pelan ke permukaan seperti gelembung udara dari dasar sendang yang sangat dalam.
Kata itu tidak keluar dari mulut Ki Jalak. Kata itu terasa datang dari tempat yang lebih jauh dan lebih tua, dari bawah lantai batu itu sendiri. Ki Jalak hanya yang pertama menangkapnya.
"Ditelan," bisik Ki Jalak.
Kata itu bergema di ruangan batu. Ditelan. Ditelan. Ditelan.
"Aku tidak dipilih," kata Ki Jalak. "Aku tidak memilih. Aku ditelan."
Dira tidak tahu harus berkata apa. Ia duduk di atas karung beras dalam gelap, mendengarkan dengkuran Mbah Karta, dan merasakan kata itu menetap di dalam dirinya seperti batu di dasar sumur.
Ditelan.
"Aku tidak menelanmu," katanya akhirnya. "Aku tidak membuka mulut. Aku tidak..."
"Bukan dengan mulut, bocah bodoh." Suara Ki Jalak kembali sedikit galak, dan anehnya Dira merasa lega mendengarnya. "Kau pikir aku dikunyah dengan gigimu? Aku keris, bukan tempe goreng."
"Lalu dengan apa?"
"Dengan..." Ki Jalak ragu. "Dengan seluruh dirimu. Dengan ruangan ini. Ruangan batu ini."
"Ruangan yang kulihat dalam mimpi?"
"Itu bukan mimpi. Itu tempat aku berada sekarang. Di dalam dirimu." Jeda. "Kau tidak tahu ruangan ini ada?"
"Tidak. Sebelum malam itu di gudang, aku tak pernah melihatnya."
"Sama sekali?"
"Sama sekali."
Ki Jalak diam lagi. Dira merasakan sesuatu bergerak di dalam dirinya, tidak panik seperti tadi, melainkan pelan dan hati-hati, seperti orang yang berjalan menyusuri dinding sebuah ruangan gelap dengan tangan terulur, meraba-raba bentuknya.
"Ruangan ini besar," gumam Ki Jalak. "Terlalu besar. Tiga malam aku di sini dan belum pernah melihat dindingnya. Lantainya batu, sangat tua. Lebih tua dari aku. Dan aku tua, bocah. Aku tahu aku tua. Aku bisa merasakannya di setiap retakan di bilahku."
"Lebih tua dari kau?"
"Jauh lebih tua." Jeda. "Dan kosong. Sangat kosong. Seperti balai yang dibangun untuk ribuan tamu, tapi tak pernah ada yang datang."
Ia berhenti sebentar, lalu mengulangi kata itu pelan, seperti orang yang baru menemukan nama yang tepat untuk sesuatu yang sudah lama ia lihat.
"Balai." Lalu: "Balai Sukma."
"Balai Sukma?"
"Balairung jiwa. Itu namanya. Aku tidak tahu dari mana aku tahu. Kata itu muncul begitu saja, seperti kata ditelan tadi." Ki Jalak mendengus. "Ingatanku memang begini. Bolong di mana-mana, tapi sesekali ada yang muncul dari bolongnya, seperti tikus dari balik guci."
Dira memejamkan mata. Ia mencoba melihat ruangan itu lagi, Balai Sukma, dan untuk sekejap ia bisa melihatnya: lantai batu yang tak berujung, kegelapan tinggi di atasnya, dan di tengahnya, sangat kecil, seekor burung jalak kusut yang bertengger di atas sebilah keris retak, satu-satunya penghuni di balairung yang dibangun untuk ribuan tamu.
Ia membuka mata lagi.
"Ki Jalak," katanya. "Kau bilang ruangan ini lebih tua dari kau. Lebih tua dari padepokan. Tapi ini ada di dalam aku. Aku baru delapan belas warsa."
"Ya."
"Bagaimana mungkin?"
"Aku tidak tahu." Suara Ki Jalak terdengar sangat jujur dan sangat lelah. "Tapi aku tahu satu hal. Ruangan seperti ini tidak dibuat oleh orang biasa. Orang biasa tidak punya balai di dalam dirinya. Orang biasa punya hati, punya pikiran, punya ingatan, tapi tidak punya ruangan batu sebesar gunung yang bisa menampung... menampung..."
Ia berhenti.
Dira merasakan sesuatu yang lain lagi naik dari dasar ruangan batu itu, sebuah kata yang lebih tua dan lebih berat dari ditelan, naik pelan-pelan seperti gelembung dari dasar sendang. Ki Jalak menangkapnya lebih dulu, dan Dira merasakan pusaka itu gemetar ketika menangkapnya.
"Wadah," bisik Ki Jalak.
Di leher Dira, di bawah kain yang dililit Nyai, dingin itu berdenyut sekali. Kuat. Seperti genta yang dipukul satu kali di dalam gua.
"Wadah?" ulang Dira.
"Kau Wadah," bisik Ki Jalak, suaranya bergetar. "Kau... kau..."
"Wadah apa?"
"Aku tidak tahu!" Suara itu tiba-tiba hampir menjerit. "Aku tidak tahu, bocah! Kata itu muncul begitu saja, seperti nama yang ada di ujung lidahmu tapi tak bisa kau ucapkan! Aku tahu kata itu penting. Aku tahu kata itu besar. Aku tahu..."
Ia berhenti. Lalu, jauh lebih pelan:
"Aku tahu kata itu menakutkan."
"Kenapa?"
"Aku tidak ingat kenapa. Aku cuma ingat takutnya. Seperti..." Ki Jalak mencari perumpamaan. "Seperti kau mencium bau asap, dan seluruh tubuhmu langsung ingin lari, padahal kau tak ingat pernah terbakar. Badanmu yang ingat. Bukan kepalamu."
Dira menyentuh kain di lehernya dengan dua jari.
"Ki Jalak," katanya pelan. "Ada yang perlu kuceritakan."
Ia menceritakan semuanya.
Cahaya fajar yang membelok di sekitar kepalanya di altar. Pusaka-pusaka yang tak mau bergerak ketika ia mengulurkan tangan, dan getaran singkat seperti binatang-binatang kecil yang meringkuk ketakutan. Kain di lehernya yang sudah dililitkan sejak ia bayi. Kebohongan Nyai tentang luka bakar di depan Ki Ageng. Pertanyaan Ki Ageng tentang siapa yang memberinya nama, dan kepalan tangannya. Larangan turun gunung. Gandawasa yang merobek kain itu, para abdi yang melihat "memar biru", jari Gandawasa yang menjadi pucat dan kebas. Tiga puluh pukulan rotan. Jangan pernah biarkan siapa pun melihatnya lagi. Siapa pun. Rasa takut di mata Nyai. Kalimat Sutarga: Ki Ageng sudah punya rencana untuknya. Kalimat Joyokusumo: Jangan sampai mati. Belum.
Dan pusaka-pusaka di gudang yang menegang setiap kali tangannya mendekat, seperti kucing liar yang telinganya rata ke belakang.
Ki Jalak mendengarkan semuanya tanpa menyela sekali pun. Ketika Dira selesai, ia tetap diam lama sekali.
"Bocah," katanya akhirnya. "Pusaka-pusaka di altar itu. Waktu mereka bergetar. Kau yakin mereka meringkuk? Bukan memanggil?"
"Yakin. Rasanya seperti... seperti hewan kecil yang melihat elang."
"Hm." Ki Jalak terdiam. "Dan lehermu. Dinginnya. Dingin itu bukan dariku."
"Bukan?"
"Aku panas. Pusaka itu panas. Api tempaan, darah empu, semua itu panas. Tapi dingin ini..." Dira merasakan pusaka itu terulur ke arah lehernya dari dalam, meraba, lalu cepat-cepat menarik diri seperti menyentuh air yang terlalu dingin. "Dingin ini dari dirimu sendiri. Dari ruangan ini. Dari Balai Sukma. Seperti angin yang bertiup dari dasarnya."
"Lalu tanda di leherku itu apa?"
"Aku tidak tahu." Ki Jalak ragu. "Tapi aku tahu satu hal lagi. Dan ini yang paling penting, jadi dengarkan baik-baik, bocah. Jangan melamun."
"Aku mendengarkan."
"Waktu kata Wadah itu muncul tadi, ada sesuatu lain yang ikut naik bersamanya. Bukan kata. Rasa. Rasa yang sama seperti waktu aku pecah dulu, waktu ada yang memecahkanku, waktu aku jatuh berkeping-keping. Aku tak ingat siapa yang memecahkanku. Aku tak ingat kenapa. Tapi aku ingat rasanya." Jeda. "Rasanya diburu."
Dapur yang gelap tiba-tiba terasa lebih dingin.
"Ada yang mencari Wadah," bisik Ki Jalak. "Aku tak ingat siapa. Tapi aku ingat mereka mencari. Dan aku ingat mereka tidak berhenti sampai menemukan."
Dira teringat Nyai, berlutut di lumpur di depan sumur, melilitkan kembali kain di lehernya dengan tangan yang gemetar. Dan ia mengerti, untuk pertama kalinya, bahwa rasa takut di mata Nyai bukan takut akan dirinya.
Takut untuk dirinya.
"Jadi," kata Ki Jalak, suaranya kembali galak, tetapi galak yang lain, galak orang tua yang sedang melindungi cucunya, "jangan beri tahu siapa pun tentang aku. Tentang ruangan ini. Tentang kata Wadah. Siapa pun, bocah."
"Nyai Rukminiwati sudah tahu sesuatu."
"Biarkan dia tahu apa yang sudah dia tahu. Jangan tambahkan."
"Mbah Karta?"
"Juru masak? Untuk apa memberi tahu juru masak? Juru masak cuma tahu bawang."
Dira tidak membantah. Ia menoleh ke bangku dekat tungku ketujuh, ke sosok Mbah Karta yang mendengkur dalam gelap. Dengkurannya masih teratur. Masih terlalu teratur.
"Si kembar?"
"Tidak."
"Mereka kawanku."
"Justru karena itu. Kawan yang tidak tahu apa-apa tidak bisa dipaksa bercerita."
Dira terdiam. Lalu ia mengajukan pertanyaan yang sejak tadi ia takutkan.
"Wulansari?"
"Siapa itu?"
"Adikku. Adik angkat. Dia yang menangis di sini dua hari lalu. Yang menyuapiku bubur."
Ki Jalak diam sejenak, seperti mengingat-ingat suara samar yang ia dengar dari dalam selama demam tiga malam.
"Yang suaranya seperti anak burung kehilangan induk?"
"Itu dia."
"Tidak," kata Ki Jalak tegas. "Terutama dia."
"Aku sudah berjanji padanya." Suara Dira meninggi sedikit. "Aku berjanji tak akan menyembunyikan apa pun lagi. Kami bersumpah kelingking. Aku sudah berjanji takkan bilang 'tidak apa-apa' lagi, dan aku..."
"Bocah," potong Ki Jalak, dan suaranya kini tidak galak sama sekali. Pelan dan berat, seperti suara orang yang sudah terlalu lama hidup dan terlalu banyak kehilangan. "Kalau orang yang memecahkanku dulu datang mencarimu. Kalau mereka tahu adikmu tahu. Apa yang akan mereka lakukan padanya untuk membuatnya bicara?"
Dira tidak menjawab.
Ia tidak bisa menjawab.
Ia tidak tidur sampai pagi.
Ketika kentongan subuh berbunyi, ia bangkit dari karung beras dengan tubuh yang sudah tidak demam dan kepala yang terasa jauh lebih berat daripada saat demam. Ia mencuci muka di gentong, merapikan kain di lehernya, dan berjalan pelan ke luar pintu belakang dapur.
Kabut pagi merayap di antara pepohonan. Embun membasahi rumput. Kambing bermata jahat mengembik dari kandangnya ketika Dira lewat.
Pohon sawo tua berdiri di dekat sumur kering, bengkok seperti punggung kakek-kakek, rimbun dan gelap.
Wulansari sudah menunggu di bawahnya.
Ia duduk memeluk lutut, bungkusan daun pisang di pangkuannya, udeng biru murid luarnya miring. Di pipi kirinya ada memar baru, kecil dan biru, mungkin hukuman Sutarga karena meninggalkan latihan dua hari lalu. Ketika melihat Dira muncul dari balik lumbung, berjalan dengan kakinya sendiri, tidak lagi terbaring di atas karung beras, wajahnya langsung merekah.
Ia bangkit dan berlari memeluk kakaknya, lupa sama sekali pada luka cambuk di punggungnya. Dira meringis tapi tidak melepaskan pelukan itu.
"Kangmas sudah sembuh," isaknya di bahu Dira. "Kangmas sudah bisa jalan."
"Sudah."
"Aku takut sekali. Waktu Gendhing bilang Kangmas ditemukan pingsan di gudang rongsokan, aku pikir..." Ia mundur selangkah, memegang kedua lengan Dira, dan menatap wajahnya lekat-lekat. "Apa yang terjadi di gudang itu, Kangmas? Kata Gendhis, waktu dia menemukanmu, tanganmu terkepal kencang sekali, lalu ada bekas aneh di telapak tanganmu. Lalu Kangmas mengigau soal karung goni."
Dira tidak menjawab.
"Kangmas," desak Wulansari. "Kita sudah janji. Ingat? Kelingking. Tak ada rahasia. Tak ada 'tidak apa-apa'."
Di dalam dada Dira, di ruangan batu yang luas dan gelap, sesuatu yang kecil dan kusut menegakkan bulu-bulunya.
"Jangan," desis Ki Jalak.
Wulansari menatapnya dengan mata yang jernih dan penuh percaya, mata adik yang tumbuh besar bersamanya, yang ia ajari membaca aksara di atas pasir, yang menyanyikan Kidung Pepeling untuknya di depan tungku ketika ia paling hancur.
"Apa yang terjadi di gudang itu, Kangmas?"
"Jangan, bocah," bisik Ki Jalak lagi, lebih keras. "Demi adikmu sendiri. Jangan."
Dira membuka mulutnya.