Bab 16Ki Jalak Wreksa
Dira tidak bergerak. Ia tidak bernapas. Ia duduk di atas karung beras di dapur yang gelap, menatap bara tungku yang hampir padam, dan menunggu suara itu menghilang seperti mimpi yang menghilang ketika orang membuka mata.
Suara itu tidak menghilang.
"Hei," kata suara itu. "Hei, bocah. Aku bicara padamu. Kau tuli? Atau kau cuma bodoh? Atau dua-duanya? Dua-duanya juga boleh. Aku tidak menghakimi."
"Aku..." Dira menelan ludah. Suaranya serak, nyaris berbisik. "Aku masih demam."
"Demammu sudah turun. Aku bisa merasakannya. Badanmu sudah tidak lagi seperti tungku yang dinyalakan dan dimatikan bergantian. Syukurlah. Tiga malam aku hampir masak di dalam sini."
"Aku masih bermimpi."
"Kau tidak bermimpi."
"Kalau begitu aku gila."
Hening sebentar.
"Hm," kata suara itu, dengan nada orang yang sedang menimbang dengan serius. "Itu mungkin. Aku tidak kenal kau cukup lama untuk memastikannya. Tapi kalau kau gila, aku ikut gila, karena aku ada di dalam kepalamu. Dan aku tidak gila. Jadi kau juga tidak gila. Paham? Itu namanya akal sehat."
Dira memejamkan mata. Ia menekan kedua telapak tangannya ke pelipis, kuat-kuat, seperti hendak memeras suara itu keluar.
"Aduh! Jangan begitu! Kepalamu ini rumahku sekarang, bocah. Jangan diremas-remas seperti kelapa parut!"
Dira menurunkan tangannya.
"Rumahmu?" bisiknya.
"Ya. Rumahku. Ruangan batu yang besar dan gelap dan dinginnya minta ampun itu." Suara itu menggerutu. "Rumah paling buruk yang pernah kutinggali. Tak ada pelita. Tak ada tikar. Tak ada jendela. Lantainya sedingin embun beku di puncak gunung. Aku sudah tiga malam duduk di atas kerisku sendiri karena tak ada tempat lain untuk duduk."
Dira teringat mimpi-mimpinya. Burung jalak kecil yang kusut, bertengger di atas keris di tengah ruangan batu yang tak berujung, memarahinya, lalu lupa apa yang ingin dikatakannya. Lalu meringkuk sendirian di dalam gelap.
"Kau burung itu," katanya pelan.
"Burung apa?"
"Burung jalak. Yang memarahiku dalam mimpi."
Hening lagi. Lebih lama.
"Aku memarahimu?" Suara itu terdengar sungguh bingung. "Kapan?"
"Malam pertama. Kau bilang aku bodoh karena berdarah di atas besi orang."
"Oh." Jeda. "Ya. Itu masuk akal. Kau memang bodoh. Itu bukan memarahi, itu menyampaikan kenyataan."
Tanpa bisa ditahan, Dira tertawa.
Tawanya pelan, tersendat, seperti tawa orang yang baru selamat dari jurang dan masih belum yakin kakinya menginjak tanah. Ia menutup mulutnya dengan tangan supaya tidak membangunkan Mbah Karta. Tapi tawanya terus keluar, dan matanya mulai berair.
"Kenapa kau tertawa? Apa yang lucu?"
"Tidak... tidak ada..." Dira menyeka matanya. "Aku cuma... aku duduk di dapur tengah malam, bicara dengan suara di dalam kepalaku yang mengaku burung jalak, dan suara itu bilang aku bodoh."
"Aku tidak mengaku burung jalak."
"Lalu kau apa?"
Suara itu tidak menjawab.
Dira menunggu. Bara di tungku berderak pelan. Mbah Karta mendengkur di bangku dekat tungku ketujuh.
"Aku," kata suara itu akhirnya, dan nadanya berubah. Tidak lagi galak, tidak lagi menggerutu. Pelan dan hati-hati, seperti orang yang meraba-raba dalam gelap mencari sesuatu yang ia yakin ada di sana. "Aku... sebentar."
Dira merasakan sesuatu di dalam dirinya. Sulit dijelaskan. Seperti ada seseorang yang berjalan mondar-mandir di sebuah ruangan di dalam dadanya, membuka laci-laci, membalik bantal-bantal, mencari sesuatu yang hilang.
"Aku ingat ada pohon," kata suara itu pelan. "Pohon besar. Tinggi sekali. Daunnya... tidak. Bukan itu."
Laci-laci dibuka dan ditutup lagi.
"Aku ingat ada tangan. Tangan yang memegangku. Banyak tangan. Satu demi satu. Tapi wajahnya... tidak ada. Kosong. Seperti lontar yang tulisannya dihapus air."
Laci-laci terus dibuka. Makin cepat. Makin panik.
"Aku ingat... aku ingat jatuh. Pecah. Ada yang... ada yang memecahkanku. Tapi siapa? Kenapa? Aku tidak..."
"Hei," kata Dira pelan. "Hei. Pelan-pelan."
Gerakan di dalam dadanya berhenti.
"Kau tak perlu ingat semuanya sekarang," kata Dira. "Kau baru bangun. Aku juga baru bangun. Kita berdua masih bingung."
Lama sekali tak ada jawaban.
Lalu, sangat pelan, seperti orang yang menemukan sebutir beras di lantai yang sudah disapu bersih, suara itu berkata:
"Nama."
"Nama?"
"Aku ingat namaku. Hanya itu. Semua yang lain hilang. Tapi namaku masih ada. Seperti..." Suara itu ragu. "Seperti batu yang tertinggal di dasar sungai ketika semua airnya sudah mengalir pergi."
"Siapa namamu?"
Hening sejenak. Lalu suara itu mengucapkannya, pelan dan khidmat, seperti orang yang menyebut nama leluhurnya di depan makam.
"Kyai Jalak Wreksa."
Nama itu bergema di dalam dada Dira, di ruangan batu yang luas dan gelap, memantul dari dinding-dinding yang tak terlihat. Jalak Wreksa. Jalak Wreksa. Jalak Wreksa. Dan di lehernya, di bawah kain yang dililit Nyai, dingin itu berdenyut sekali, pelan, seperti orang yang mengangguk.
"Kyai Jalak Wreksa," ulang Dira.
"Ki Jalak," koreksi suara itu, kembali galak. "Panggil aku Ki Jalak. Kyai Jalak Wreksa itu terlalu panjang untuk mulut bocah. Kau akan tersandung di tengah jalan."
"Bukan Mbah?"
"Kalau kau panggil aku Mbah sekali lagi, kutendang ususmu dari dalam."
"Kau bisa melakukan itu?"
Jeda. "...aku tidak tahu. Mau coba?"
"Tidak, terima kasih, Ki Jalak."
"Bagus."
Mereka bicara sampai bara tungku benar-benar padam dan dapur menjadi gelap gulita.
Atau lebih tepatnya, Ki Jalak yang bicara. Ia mengajukan pertanyaan bertubi-tubi, seperti orang yang baru keluar dari penjara bawah tanah dan ingin tahu semua yang terjadi di dunia selama ia dikurung.
"Di mana ini?"
"Dapur."
"Dapur di mana?"
"Padepokan Argasuryan. Di lereng Gunung Lawu."
"Argasuryan?" Jeda panjang. "Tak kenal. Padepokan baru?"
"Umurnya tiga ratus warsa."
"Baru," kata Ki Jalak tanpa ragu. "Tiga ratus warsa itu baru. Kemarin sore."
Dira tak tahu harus menjawab apa.
"Lalu kau siapa?"
"Sudira. Orang memanggilku Dira."
"Sudira." Ki Jalak mengucapkan nama itu seperti mencicipi sayur. "Sangat berani. Hm. Nama yang besar untuk badan sekecil itu. Siapa yang memberimu nama?"
"Nyai Rukminiwati. Tetua di sini."
"Dan kau apa? Murid? Murid luar? Murid dalam?"
"Abdi dapur."
Hening.
"Abdi," ulang Ki Jalak dengan suara datar.
"Ya."
"Abdi. Dapur."
"Ya."
"Jadi aku. Aku. Pusaka yang... pusaka yang..." Ia jelas sedang mencari kata yang tepat untuk menggambarkan dirinya, dan jelas tidak menemukannya. "...pokoknya pusaka yang sangat penting, aku yakin itu, aku bisa merasakannya, aku ini bukan pusaka murahan dari pasar loak, sekarang berada di dalam tubuh seorang juru masak?"
"Bukan juru masak," kata Dira. "Pengupas bawang. Juru masaknya Mbah Karta."
Ki Jalak mengeluarkan bunyi yang sangat mirip pekikan burung jalak yang kakinya terinjak.
"Pengupas bawang! Aku di dalam pengupas bawang! Pantas baunya seperti ini!"
Dira harus menggigit ujung selimut jariknya supaya tawanya tidak membangunkan Mbah Karta.
Ki Jalak tidak berhenti mengomel. Ia mengomel tentang tubuh Dira yang kurus kering, "seperti bambu yang lupa disiram". Ia mengomel tentang meridian Dira yang tak pernah dilatih, "seperti selokan yang tersumbat daun busuk; aku mencoba mengalir ke lenganmu dan rasanya seperti merangkak di lorong sempit penuh lumpur". Ia mengomel tentang Dira yang tidak berkultivasi sama sekali, "tak ada prana! Tak ada tenaga dalam! Tak ada apa-apa! Bagaimana orang bisa hidup delapan belas warsa tanpa menarik napas yang benar sekali pun?"
"Aku menarik napas setiap hari."
"Itu bukan napas! Itu megap-megap! Ikan di darat pun napasnya lebih benar dari kau!"
Lalu, tiba-tiba, Ki Jalak berhenti mengomel.
"Tunggu," katanya. "Ada yang bergerak."
Dira menegang. "Di mana?"
"Di sana. Di rak. Rak ketiga dari kiri. Di balik guci-guci."
Dira menoleh ke arah rak-rak dapur. Dalam gelap, ia tak bisa melihat apa-apa selain bayangan-bayangan hitam.
"Aku tak melihat apa-apa."
"Tentu saja kau tak melihat. Matamu cuma mata manusia. Tapi aku bisa merasakannya. Lewat kau. Lewat kulitmu, lewat udara yang kau hirup. Kecil. Berbulu. Jantungnya berdetak sangat cepat. Gigi depannya panjang."
Dira bangkit dengan hati-hati. Kakinya masih sedikit goyah. Ia berjalan dalam gelap ke arah rak ketiga dari kiri, meraba-raba dinding, lalu menggeser sebuah guci tanah liat ke samping.
Sesuatu yang kecil melompat dari balik guci, mencicit, dan berlari menyusuri dinding sampai menghilang di celah di bawah pintu belakang.
Tikus.
Rak ketiga ada tikus, kata Gendhing dulu, ketika Gendhis menyuruhnya mengambil minyak kelapa dan daun sirih.
Dira berdiri diam di depan rak, menatap celah di bawah pintu.
"Kau benar," bisiknya.
"Tentu saja aku benar. Aku pusaka penting. Sudah kubilang."
Ia kembali ke karung beras dan duduk. Untuk pertama kalinya sejak suara itu muncul, ia benar-benar percaya: ia tidak gila, ia tidak bermimpi. Ada sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang bisa merasakan tikus di balik guci dalam gelap gulita.
"Ki Jalak," katanya pelan.
"Hm?"
"Kau bilang kau bisa merasakan lewat aku. Lewat kulitku. Lewat napasku."
"Ya."
"Kau juga bisa merasakan yang di sana?" Ia menoleh ke arah bangku dekat tungku ketujuh, tempat Mbah Karta mendengkur.
"Siapa itu?"
"Mbah Karta. Juru masak."
Ki Jalak diam beberapa saat. Dira merasakan sesuatu di dalam dirinya terulur, seperti tangan yang meraba-raba dalam gelap, ke arah sudut tempat lelaki tua itu tidur.
"Orang tua," kata Ki Jalak akhirnya. "Sangat tua. Napasnya pelan. Jantungnya pelan. Seperti orang tua pada umumnya." Jeda. "Dengkurannya jelek sekali."
"Cuma itu?"
"Memang harus ada apa lagi? Juru masak ya juru masak. Juru masak di mana-mana sama saja. Bau bawang dan asap. Seperti kau."
Dira menatap sosok Mbah Karta dalam gelap. Dengkurannya tetap sama, teratur, berat, tak berubah sedikit pun.
Terlalu teratur.
"Ki Jalak," kata Dira lagi setelah lama terdiam. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Kau sudah bertanya dari tadi."
"Pertanyaan yang lain."
"Silakan. Tapi aku tak janji ingat jawabannya."
Dira menatap telapak tangan kanannya. Dalam gelap, ia tak bisa melihat bekas kemerahan itu, tetapi ia bisa merasakannya, hangat, berdenyut pelan seiring detak jantungnya.
"Kenapa kau memilihku?"
"Memilihmu?"
"Pusaka memilih tuannya. Di altar, setiap Upacara Pilih Pusaka, cahaya fajar menyentuh anak-anak, lalu pusaka di rak memilih salah satu dari mereka. Pusaka itu melayang ke tangan anak yang dipilihnya." Dira berhenti sebentar. "Aku tak pernah dipilih. Cahaya fajar membelok di sekitarku. Tak satu pun pusaka di rak mau bergerak waktu aku mengulurkan tangan. Lalu kau... kau datang padaku. Di gudang. Kenapa?"
Hening.
Hening yang panjang, sangat panjang. Begitu panjang hingga Dira mengira Ki Jalak sudah tertidur, atau lupa, atau pergi.
Lalu suara itu datang, pelan dan sangat bingung.
"Aku tidak memilihmu, bocah."
"Lalu?"
"Aku tidak memilih siapa pun. Aku... aku tidak tahu bagaimana caranya memilih. Aku tidak ingat pernah memilih. Aku cuma... di gudang itu... aku mencium sesuatu. Seperti bau nasi hangat dari dalam rumah ketika kau sudah terlalu lama berdiri di luar dalam hujan. Lalu ada darah, darahmu, dan aku... aku cuma ingin masuk. Itu saja. Ingin masuk ke tempat yang hangat."
Dira teringat bisikan di tumpukan besi. Nadanya lapar. Seperti orang yang sudah terlalu lama menunggu di luar pintu dalam hujan.
"Lalu kenapa kau tidak melayang ke tanganku?" tanyanya. "Seperti pusaka yang lain? Seperti Nagageni ke tangan Raden Bayuwisesa?"
"Melayang ke tanganmu? Aku memang ke tanganmu, kan? Kau memegangku. Aku dipegang. Seperti pusaka biasa."
"Tidak," kata Dira pelan. "Aku tidak memegangmu."
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak ada di tanganku, Ki Jalak. Kau masuk ke dalam tanganku. Ke dalam telapak tanganku. Lewat kulit. Seperti batu yang jatuh ke kolam. Lalu kau hilang. Telapakku kosong. Cuma ada bekas merah kecil di sini." Ia mengangkat tangannya dalam gelap. "Aku tidak memegang apa-apa."
Hening.
Hening yang kali ini lain. Hening orang yang baru saja mendengar sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya membeku.
"Masuk," ulang Ki Jalak. Suaranya tipis seperti benang. "Ke dalam... tanganmu?"
"Ya."
"Bocah," kata Ki Jalak, dan untuk pertama kalinya sejak suara itu muncul, suaranya gemetar.
"Bocah, pusaka tidak masuk ke dalam tangan orang. Pusaka dipegang. Pusaka disarungkan. Pusaka diselipkan di pinggang, disimpan di peti, digantung di dinding. Pusaka tidak... tidak pernah..."
Ruangan batu di dalam dada Dira tiba-tiba terasa sangat dingin.
"Kalau aku tidak di tanganmu," bisik Ki Jalak, "lalu aku di mana?"