Sang Penelan Pusaka

Bab 7Air Mata Wulansari

Dira tidak mengambil bungkusan nasi itu.

Ia mengulurkan tangan, tetapi bukan ke arah nasi. Jari-jarinya yang luka menyentuh pipi kiri adiknya, pelan sekali, nyaris tidak menyentuh, seperti menyentuh kulit buah yang memar.

Wulansari meringis.

"Siapa?" tanya Dira.

Suaranya tidak keras. Suaranya bahkan lebih pelan dari biasanya. Namun Wulansari, yang sudah mengenal kakaknya sejak bisa merangkak, langsung tahu bahwa suara pelan itu jauh lebih berbahaya daripada teriakan.

"Tidak ada," katanya cepat. "Aku jatuh."

"Wulan."

"Aku jatuh di tangga asrama. Gelap. Aku..."

"Jatuh tidak meninggalkan lima jari."

Wulansari menunduk. Bungkusan nasi di tangannya gemetar.

Dira menarik napas panjang, sangat panjang, lalu melangkah ke samping dan membuka pintu bambu lebih lebar. "Masuk. Di luar dingin."


Mereka duduk di lantai tanah di depan tungku terbesar, tempat bara masih memancarkan cahaya merah yang hangat. Dira mengambil sehelai kain bersih dari rak, mencelupkannya ke gentong air dingin, memerasnya, dan menempelkannya ke pipi Wulansari. Gadis itu memejamkan mata.

Di sudut dapur, Mbah Karta mendengkur dengan irama yang sama seperti tadi.

"Itu Mbah Karta?" bisik Wulansari.

"Iya."

"Dia tidur di dapur?"

"Sepertinya selalu."

Wulansari membuka satu mata dan melihat piring tembikar yang masih setengah penuh di lantai. Nasi putih, telur ceplok, sayur lodeh, dan sambal yang merah kehitaman. Matanya membesar.

"Kangmas sudah makan?"

"Sebagian."

"Kata anak-anak di asrama, Kakang Gandawasa tak memberi Kangmas jatah." Suaranya mulai bergetar lagi. "Kata mereka Kangmas akan dibuat kelaparan sampai Kangmas lari dari padepokan."

"Mbah Karta memasakkan ini untukku."

Wulansari menatap piring itu, lalu menatap lelaki tua yang mendengkur di atas karung beras, lalu kembali menatap piring itu. Bibirnya mulai bergetar.

"Jangan menangis," kata Dira.

"Aku tidak menangis."

"Kau menangis."

"Itu karena..." Ia menunjuk sambal di piring dengan dagunya. "Itu. Baunya pedas sekali. Mataku perih."

Dira hampir tersenyum. "Itu Sambal Lawu Murka. Buatan Gendhis, abdi dapur. Katanya resep rahasia."

"Lalu kenapa Mbah Karta bisa membuatnya?"

"Aku juga ingin tahu."

Di sudut, dengkuran Mbah Karta tersendat sesaat. Lelaki tua itu bergumam dalam tidurnya, sesuatu yang terdengar seperti "terasinya jangan kebanyakan, Gendhis...", lalu mendengkur lagi.

Wulansari menutup mulut dengan kedua tangan. Bahunya berguncang. Untuk sesaat Dira tak tahu apakah adiknya sedang tertawa atau menangis. Lalu ia sadar bahwa Wulansari melakukan keduanya sekaligus.


Ceritanya keluar sedikit demi sedikit, seperti air yang menetes dari kendi retak.

Sore tadi, para murid baru dikumpulkan di halaman asrama murid luar untuk menerima pembimbing. Setiap kelompok berisi lima murid baru, dan setiap kelompok dipimpin seorang murid dalam yang bertugas mengajarkan aturan padepokan, gerakan dasar, dan tata cara merawat pusaka.

Pembimbing kelompok Wulansari adalah Sutarga.

"Si wajah bulat," kata Dira datar.

Wulansari mengangguk. "Kangmas kenal dia?"

"Aku kenal dia."

Sutarga tidak mengajarkan apa pun sore itu. Ia menyuruh kelima murid barunya berdiri berjajar di bawah terik matahari, lalu berjalan mondar-mandir di depan mereka seperti senapati memeriksa prajurit. Ketika sampai di depan Wulansari, ia berhenti.

"Kau adiknya, kan?" katanya. "Adik si Anak Matahari."

Wulansari menjawab ya.

"Kalau begitu, dengarkan baik-baik." Sutarga membungkuk sampai wajahnya sejajar dengan wajah Wulansari, cukup dekat hingga Wulansari bisa mencium bau arak beras dari napasnya. "Murid Argasuryan tidak punya kakak abdi. Murid Argasuryan tidak bergaul dengan orang yang ditolak matahari. Mulai hari ini, kau tak punya kakak. Kau tak kenal dia. Kalau berpapasan, kau buang muka. Paham?"

"Lalu kau bilang apa?" tanya Dira.

Wulansari menatap bara di tungku. "Aku bilang, 'Tidak paham, Kakang. Aku punya kakak. Namanya Sudira. Dia yang menjagaku sejak kami masih sama-sama kecil.'"

Dira memejamkan mata.

"Lalu dia menamparku," kata Wulansari lirih. "Di depan semua orang. Empat murid baru yang lain cuma diam. Tak ada yang membela. Aku tak menyalahkan mereka. Mereka takut."

"Kau seharusnya diam saja, Wulan."

"Kenapa?" Wulansari menoleh tajam, matanya berkilat basah. "Kenapa aku harus diam? Kangmas sendiri tidak diam waktu Raden Bayuwisesa menghinaku di altar. Kangmas berdiri di depanku. Di depan api Nagageni. Kangmas tak punya pusaka, tak punya tenaga dalam, tak punya apa-apa, tapi Kangmas berdiri di depanku."

"Itu lain."

"Apanya yang lain?"

"Aku kakakmu."

"Dan aku adikmu!" Suaranya meninggi, lalu buru-buru ia rendahkan lagi sambil melirik Mbah Karta. "Aku adikmu," ulangnya, lebih pelan dan lebih bergetar. "Kalau Kangmas boleh berdiri di depanku, kenapa aku tak boleh berdiri di depan Kangmas?"

Dira tidak bisa menjawab.


Air mata Wulansari akhirnya pecah ketika ia melihat tangan Dira dengan jelas di bawah cahaya bara.

Tadi, di ambang pintu, ia tak memperhatikannya. Sekarang, ketika Dira mengangkat kain basah dari pipinya untuk dicelupkan lagi ke gentong, ia melihat semuanya: sela-sela jari yang terkelupas dan berdarah, kuku-kuku yang patah, telapak yang melepuh oleh tali timba, buku-buku jari yang bengkak.

"Kangmas." Suaranya hampir tak terdengar. "Tanganmu."

"Tidak apa-apa."

"Jangan bilang tidak apa-apa." Ia meraih tangan Dira dan memegangnya dengan kedua tangannya, hati-hati sekali, seperti memegang anak burung. "Jangan bilang tidak apa-apa padaku. Kangmas selalu bilang begitu. Waktu kecil, waktu Kangmas jatuh dari pohon jambu dan lengannya terkilir, Kangmas bilang tidak apa-apa. Waktu anak-anak besar menyembunyikan timba Kangmas dan Kangmas dimarahi abdi dapur sampai malam, Kangmas bilang tidak apa-apa. Waktu Kangmas demam tiga hari dan tak ada yang tahu kecuali aku, Kangmas bilang tidak apa-apa."

Ia menangis sekarang, tanpa ditahan lagi. Air matanya jatuh ke tangan Dira yang luka, panas dan asin.

"Ini apa-apa, Kangmas," isaknya. "Ini apa-apa."

Dira tak tahu harus berkata apa. Maka ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya membiarkan adiknya menangis sambil memegangi tangannya yang hancur, di depan tungku yang hangat, di bawah atap dapur yang hitam oleh jelaga ratusan warsa.

Lama sekali.

Lalu, perlahan-lahan, tanpa benar-benar memutuskan untuk melakukannya, Wulansari mulai bersenandung.

Senandung itu pelan dan sedikit sumbang karena suaranya masih serak oleh tangis. Tetapi Dira langsung mengenali nadanya. Ia mengenalnya lebih baik daripada wajahnya sendiri.

Turua, turu, cah bagus,

lintang sumebar ing langit peteng,

sanadyan donya lali marang kowe,

aja nganti kowe lali marang jenengmu...

Tidurlah, tidurlah, anak baik,

bintang bertabur di langit gelap,

meski dunia melupakanmu,

jangan sampai kau lupa namamu...

Kidung Pepeling. Tembang nina bobo yang dinyanyikan Nyai Rukminiwati untuk mereka berdua setiap malam ketika mereka masih kecil dan tidur berdempetan di satu tikar di bilik bambu belakang asrama, ketika masalah terbesar mereka hanyalah siapa yang kebagian tempe goreng terakhir.

Dira tidak ingat kapan terakhir kali mendengarnya. Mungkin enam atau tujuh warsa lalu, sebelum Nyai memutuskan mereka sudah terlalu besar untuk dininabobokan.

Namun saat Wulansari menyanyikannya sekarang, sesuatu yang aneh terjadi.

Rasa dingin yang sejak pagi kemarin tak pernah benar-benar pergi dari lehernya, rasa dingin yang menjalar ketika cahaya fajar membelok, yang semakin dalam ketika ia mengulurkan tangan ke rak pusaka, perlahan-lahan menghilang. Tidak lenyap seketika, tetapi mencair seperti embun yang tersentuh matahari pagi, hingga yang tersisa hanya hangat biasa. Hangat kulit manusia.

Dira tidak mengerti kenapa. Ia hanya tahu bahwa untuk pertama kalinya sejak upacara, napasnya terasa ringan.

Wulansari berhenti bersenandung di ujung bait pertama. Ia mengusap matanya dengan lengan baju dan tertawa kecil dengan suara sengau.

"Dulu Kangmas yang menyanyikan ini untukku," katanya. "Kalau aku tak bisa tidur."

"Aku menyanyikannya dengan sumbang."

"Sangat sumbang." Ia tertawa lagi. "Tapi aku selalu tertidur."

Dira tidak membantah. Ia ingat malam-malam itu: Wulansari meringkuk di tikar dengan mata terbuka lebar menatap gelap, dan ia bersenandung dengan nada yang naik turun tak karuan, setengah berharap adiknya lekas tidur, setengah berharap tak ada anak lain di asrama yang mendengar.


Mereka makan bersama.

Wulansari membuka bungkusan daun pisangnya. Isinya nasi hangat dengan tempe bacem dan sedikit urap sayur, jatah makan malam murid baru yang ia sisihkan diam-diam ke balik bajunya. Ia memaksa Dira memakannya. Dira memaksanya ikut makan dari piring Mbah Karta. Mereka berebut sambal Lawu Murka sampai keduanya menangis lagi, kali ini karena pedas, dan tertawa tertahan supaya tidak membangunkan Mbah Karta.

Ketika piring dan daun pisang sudah bersih, Wulansari menarik sesuatu dari balik sabuk kainnya.

Cundrik gading yang memilihnya di altar. Bilahnya kecil, tak lebih panjang dari telapak tangan, melengkung lembut seperti bulan sabit. Hulunya dari gading kekuningan yang diukir motif bunga melati. Dalam cahaya bara, bilahnya tampak memancarkan kilau pucat keperakan.

"Namanya Kyai Wulan Tumanggal," kata Wulansari. "Nyai Rukminiwati yang memberitahuku tadi siang. Bulan sabit."

"Cocok dengan namamu."

"Kata Nyai juga begitu." Wulansari memutar cundrik itu di antara jari-jarinya. "Kata Nyai, cundrik ini sudah empat puluh warsa tak dipilih siapa pun. Dia hampir dipindahkan ke gudang rongsokan musim lalu."

Dira teringat ucapan Mbah Karta sore tadi. Orang-orang selalu berebut nasi yang paling putih. Tak ada yang mau kerak.

"Kangmas," kata Wulansari, dan suaranya berubah, tak lagi sengau, tak lagi gemetar. "Aku sudah memutuskan sesuatu."

"Memutuskan apa?"

Ia meletakkan Kyai Wulan Tumanggal di telapak tangannya dan menatapnya lama.

"Aku akan berlatih," katanya. "Siang dan malam. Lebih keras dari siapa pun di asrama. Lebih keras dari Raden Bayuwisesa. Aku akan belajar setiap jurus yang diajarkan, dan setiap jurus yang tidak diajarkan juga. Aku akan menjadi murid dalam secepat mungkin, lalu tetua kalau bisa."

"Wulan..."

"Bukan untukku." Ia mengangkat wajah. Matanya masih bengkak, pipinya masih merah oleh cetakan lima jari, tetapi tatapannya keras seperti batu kali. "Untuk kita berdua. Kangmas tak punya pusaka. Mereka bilang Kangmas tak akan pernah bisa berlatih. Baiklah. Kalau begitu aku yang akan berlatih untuk kita berdua. Aku yang akan menjadi kuat untuk kita berdua."

Ia mengepalkan tangannya di sekeliling cundrik itu.

"Dan suatu hari nanti," katanya, "tak akan ada lagi yang berani menampar adikmu. Tak akan ada lagi yang berani membuat kakakku kelaparan."

Dira menatap adiknya lama. Gadis kecil yang dulu menangis karena tempe goreng, yang dulu takut gelap, yang dulu tak bisa tidur tanpa kidung sumbang kakaknya, kini duduk di depannya dengan cundrik di tangan dan sumpah di mulut.

Ia ingin bilang bahwa ia tak butuh dilindungi, bahwa kakak tidak dilindungi adik. Wulansari seharusnya berlatih untuk dirinya sendiri, bukan untuk anak yang ditolak matahari.

Tetapi kata-kata itu tidak keluar.

Yang keluar hanya, "Baiklah."

Wulansari tersenyum, senyum lebar yang sama seperti di altar kemarin pagi, ketika cundrik itu melayang ke tangannya.


Bulan sudah condong jauh ke barat ketika Wulansari berdiri di ambang pintu belakang dapur, siap kembali ke asrama sebelum penjaga malam berkeliling.

"Besok pagi," katanya. "Di bawah pohon sawo dekat sumur tua. Sebelum latihan pagi. Aku bawakan nasi lagi."

"Jangan. Kalau ketahuan..."

"Tidak akan ketahuan. Aku sudah menemukan jalan lewat belakang lumbung." Ia nyengir. "Kangmas yang mengajariku jalan itu waktu kita masih kecil, ingat? Waktu kita mencuri mangga Ki Wiradhana."

Dira ingat. Ia hampir tertawa.

Wulansari melangkah keluar, lalu berhenti dan menoleh. Senyumnya memudar sedikit.

"Kangmas," katanya ragu. "Ada satu hal lagi. Aku tak tahu harus bilang atau tidak."

"Bilang saja."

Wulansari menggigit bibir. Matanya melirik ke kegelapan di sekeliling mereka, ke barak abdi yang sudah gelap, ke asrama di kejauhan, ke balairung yang masih menyalakan satu pelita di jendela tertingginya.

"Tadi sore," bisiknya, "sebelum Kakang Sutarga menamparku, dia bilang sesuatu. Pelan sekali, cuma aku yang dengar. Kurasa dia sedang mabuk, jadi dia bicara lebih banyak dari seharusnya."

"Apa yang dia bilang?"

Wulansari menatap kakaknya lurus-lurus.

"Dia bilang, 'Untuk apa kau membela kakakmu? Dia tak akan lama di padepokan ini. Ki Ageng sudah punya rencana untuknya.'"

Angin malam bertiup dari puncak Lawu, dingin dan tajam, menggoyang daun-daun sawo di kejauhan.

Di balik kain lurik yang melilit leher Dira, rasa dingin yang tadi mencair perlahan-lahan kembali.