Bab 59Pesta dan Racun
"Lima," kata Mbah Karta.
Ia mengucapkannya pagi-pagi sekali, sebelum kentongan subuh, ketika dapur masih gelap dan hanya tungku ketujuh yang menyala. Dira sedang menyapu abu dari mulut tungku. Juru masak tua itu duduk di bangku di dekatnya, mengupas bawang putih dengan kuku jempolnya yang tebal, dan tidak menoleh.
"Lima apa, Mbah?"
"Piring." Mbah Karta mengupas siung bawang putih berikutnya. "Meja kehormatan. Lima piring perunggu berukir. Untuk Ki Ageng, Gusti Tumenggung, Nyai Rukminiwati, Ki Brajanala, Ki Wiradhana. Lima." Ia melemparkan kulit bawang ke dalam tungku. Kulit itu menyala sesaat, lalu menjadi abu. "Aku sendiri yang menata semuanya. Aku sendiri yang mengisi semuanya. Dari kuali yang sama. Dengan sendok yang sama."
Dira berhenti menyapu.
"Waktu kelima piring itu keluar dari dapur ini," lanjut Mbah Karta, "kelimanya sama. Sama bersihnya." Ia mengupas siung lagi. "Hitung piringnya, ngger. Di sepanjang jalan dari sini ke balairung. Hitung. Cium. Lihat. Juru masak yang baik selalu tahu apa yang ada di piringnya sampai piring itu sampai di depan yang makan."
"Bocah," bisik Ki Jalak.
Aku tahu.
Mbah Karta bangkit, menepuk-nepuk kain bajunya, dan berjalan ke gudang beras sambil bersiul. Siulan biasa. Tiga nada.
Dira menatap pintu gudang beras lama setelah juru masak tua itu menghilang di baliknya.
Pesta dimulai ketika matahari tenggelam, dan kali ini tidak ada yang sederhana.
Balairung tidak hanya terang benderang oleh ratusan pelita. Balairung bercahaya. Pelita-pelita minyak kelapa digantung di setiap tiang, diletakkan di setiap anak tangga, dijajarkan di sepanjang tepi pendapa seperti kunang-kunang yang berbaris. Di sudut pendapa, seperangkat gamelan perunggu, salah satu upeti dari Kadipaten Karanganom yang baru dibuka sore tadi, ditabuh oleh para niyaga kadipaten. Bunyinya mengalun lembut, gong dan kenong dan saron bersahut-sahutan seperti air yang mengalir di antara batu.
Di tengah pendapa, peti-peti upeti dibuka dan dipamerkan. Kain sutra dari pesisir utara, berlipat-lipat, warnanya seperti pelangi. Gulungan-gulungan kain batik tulis. Mangkuk-mangkuk perunggu. Karung-karung beras putih kadipaten yang butirnya panjang dan bening. Dan di tengah semuanya, di atas alas kain sutra merah, sebilah tombak berlandean kayu cendana dengan mata tombak berpamor halus. Hadiah pribadi Adipati untuk Ki Ageng Suryadharma.
Kerbau bule itu ditambatkan di halaman depan, di bawah pohon beringin, dikalungi bunga baru. Ia mengunyah rumput dengan tenang, sama sekali tidak peduli bahwa dirinya adalah hadiah termahal malam itu.
Para tamu duduk bersila di atas tikar pandan berlapis-lapis. Para tetua Argasuryan di barisan depan. Para pejabat kadipaten di sebelahnya. Lalu para murid dalam, para pengawal kadipaten, para murid luar di barisan belakang.
Dan di tengah barisan depan, di belakang sebuah meja rendah dari kayu jati berukir, duduk lima orang.
Ki Ageng Suryadharma di tengah, beskap emasnya bersulam matahari.
Tumenggung Sasradipa di sebelah kanannya, beskap hitam polos, tongkat berkepala perunggu bersandar di pundaknya.
Nyai Rukminiwati di sebelah kanan Tumenggung, tegak dan dingin.
Ki Brajanala di sebelah kiri Ki Ageng, bertubuh lebar seperti tunggul jati, wajahnya keras, menatap ke sekeliling dengan mata kecil yang tak pernah berhenti bergerak.
Dan Ki Wiradhana di ujung kiri, tersenyum lembut, janggutnya yang panjang berkilau keperakan dalam cahaya ratusan pelita, tangan kirinya terbungkus kain hitam dan tersembunyi di pangkuannya.
Dira tidak di dalam balairung. Ia berdiri di dapur abdi, di depan meja panjang tempat hidangan ditata, menunggu.
Selama pesta berlangsung, hidangan keluar dari dapur bergelombang-gelombang. Nampan demi nampan diangkut para abdi ke balairung. Tumpeng nasi kuning. Ingkung ayam kampung. Tempe dan tahu bacem. Urap sayur. Sate kambing. Sayur lodeh. Sambal Lawu dalam mangkuk-mangkuk kecil, banyak sekali, karena entah bagaimana kabar tentang Tumenggung yang menangis karena sambal Lawu sudah tersebar ke seluruh rombongan kadipaten, dan sekarang semua orang ingin mencobanya.
Nyai Lembah berdiri di pojok dapur dengan tangan terlipat di dada, wajahnya masam, mengawasi para pelayannya mengantar mangkuk-mangkuk sambal Lawu ke balairung dengan ekspresi orang yang terpaksa memakan kata-katanya sendiri.
Mbok Darsih menggoreng tempe tanpa menoleh kepadanya sekali pun. Tetapi setiap kali sebuah mangkuk sambal kosong dikembalikan ke dapur, Mbok Darsih bersenandung sedikit lebih keras.
"Kemenangan," bisik Ki Jalak, "paling manis kalau dirayakan dengan tidak merayakannya."
Dira tidak menjawab. Matanya tertuju pada meja panjang di depannya, pada lima buah piring perunggu berukir yang berjajar di atas nampan kayu jati besar.
Mbah Karta menatanya sendiri, seperti yang ia katakan pagi tadi. Lima piring, masing-masing dialasi daun pisang muda yang digunting bundar. Di atas setiap daun, nasi liwet putih yang mengepul, harum daun salam dan serai. Sepotong besar ingkung, paha dan dada, berkilau oleh kuah santan kuning. Sesendok urap. Dua potong tempe bacem. Sejumput rempeyek kacang. Dan di pinggir setiap piring, sesendok kecil sambal Lawu. Permintaan khusus Gusti Tumenggung.
Dira mencium kelimanya, satu demi satu, sambil berpura-pura merapikan nampan.
Santan. Kunyit. Daun salam. Bawang. Cabai. Kacang goreng. Daun pisang muda.
Bersih. Kelimanya bersih.
Piring-piring itu tidak sepenuhnya sama. Piring paling kanan, piring Tumenggung, sedikit lebih besar dari yang lain, dan ukirannya bermotif bunga teratai, bukan sulur-suluran seperti keempat piring lainnya. Piring tamu kehormatan. Dira mengingat letaknya. Kanan. Teratai.
"Sudira." Suara Gandawasa, serak dan pelan, di belakangnya. "Waktunya."
Dira menoleh.
Gandawasa berdiri di ambang pintu dapur. Ia tidak menatap Dira. Ia menatap nampan berisi lima piring perunggu itu. Wajahnya pucat dan berkeringat, meskipun malam dingin. Tangannya yang terbalut kain lusuh tergantung di sisi tubuhnya, jari-jarinya bergerak-gerak gelisah.
"Bawa ke balairung," katanya. "Lewat serambi samping. Seperti biasa."
Lalu, ketika Dira mengangkat nampan itu dan melewatinya di ambang pintu, Gandawasa berbisik. Begitu pelan sehingga hanya telinga Raga Puncak yang bisa mendengarnya.
"Hati-hati."
Hanya itu.
Jalan dari dapur abdi ke balairung melewati jalan setapak berbatu di sisi timur, menyusuri dinding lumbung, lalu belok ke serambi samping balairung. Serambi itu panjang dan beratap, diterangi pelita-pelita yang digantung di tiang. Di ujungnya ada pintu kecil yang terbuka ke pendapa, tempat para abdi masuk membawa hidangan tanpa harus melewati para tamu.
Dira berjalan pelan. Nampan berisi lima piring perunggu itu berat, tetapi bagi tubuh Raga Puncak, beratnya hanya seperti nampan kosong. Ia harus berhati-hati supaya tidak berjalan terlalu ringan, terlalu cepat, terlalu tidak seperti abdi biasa.
Ia menghitung.
Satu, dua, tiga, empat, lima.
Lima piring. Lima bau. Bersih.
Ia sampai di serambi samping.
Serambi itu sepi. Para abdi lain sudah kembali ke dapur setelah mengantar gelombang hidangan terakhir. Dari pintu kecil di ujung serambi, bunyi gamelan mengalun keluar, bercampur dengan suara orang bercakap-cakap dan tertawa. Dan di antara suara-suara itu, Dira menangkap satu suara yang tua, tenang, dan sedikit serak, berbicara dengan jelas sehingga seluruh pendapa terdiam untuk mendengarkannya.
"...dua belas orang," kata Tumenggung Sasradipa. "Dalam tiga purnama. Dari desa-desa di kaki Lawu sebelah barat. Di dekat hutan yang kalian sebut Hutan Larangan."
Gamelan berhenti.
"Adipati bertanya, dengan segala hormat, kepada Argasuryan yang menjaga lereng ini," lanjut Tumenggung, "apakah Argasuryan tahu sesuatu?"
Hening yang panjang.
Lalu suara Ki Ageng Suryadharma, dalam dan berat seperti gong. "Kami tidak tahu, Gusti Tumenggung. Tetapi kami akan menyelidikinya. Itu janji Argasuryan."
"Hutan Larangan dihuni banyak hal, Gusti." Suara lembut seperti gula aren yang dilelehkan. Ki Wiradhana. "Babi hutan bertaring besi. Ular-ular sebesar batang pinang. Jurang-jurang yang tertutup semak. Orang desa yang tersesat di sana..."
"Dupa hitam."
Suara ketiga. Berat dan keras seperti petir. Ki Brajanala.
Hening lagi.
"Tiga malam sebelum purnama, ada yang membakar dupa hitam di dalam Hutan Larangan," kata Ki Brajanala. Ia tidak berbicara dengan lembut. Ia berbicara seperti orang yang memukul tiang batu. "Malam purnama, aku menemukan tempatnya. Lingkaran abu. Tiga puntung dupa. Bekas kaki yang hilang di tengah jalan. Dan seorang muridku yang berjaga di dekatnya pingsan, lalu lupa namanya sendiri."
"Dupa hitam?" Suara Tumenggung Sasradipa berubah. Tajam. "Di dua desa yang kehilangan warganya, para tetua desa menemukan abu dupa hitam di tepi hutan. Dupa yang baunya dingin, kata mereka."
Hening yang sangat panjang.
Dira berdiri di serambi samping dengan nampan di tangan, tidak bernapas.
"Kalau begitu," kata Ki Wiradhana akhirnya, dengan suara yang tetap lembut, tetap ramah, tetapi entah bagaimana sedikit lebih cepat dari biasanya, "kita bisa membicarakannya setelah makan, Gusti. Hidangan utama sudah datang. Juru masak kami sudah bekerja sejak subuh. Akan sangat tidak sopan membiarkannya dingin."
Seseorang keluar dari balik tiang di ujung serambi.
Dira tidak mendengarnya datang. Itu yang pertama ia sadari, dan itu yang membuat seluruh tubuhnya menegang. Telinga Raga Puncak bisa mendengar napas orang dari dua puluh langkah. Tetapi orang ini muncul dari balik tiang yang hanya lima langkah jauhnya, dan Dira tidak mendengar napasnya sama sekali.
Seorang pemuda. Tinggi, kurus, berkain hitam polos tanpa sulaman, rambut panjang diikat ke belakang. Wajahnya pucat dan biasa saja, wajah yang akan dilupakan orang begitu ia lewat. Ia memakai beskap pelayan tetua, seperti para pelayan yang melayani di asrama tetua.
Tangan kirinya dibalut kain hitam. Seperti tangan Ki Wiradhana.
Dira mengenalinya. Bukan wajahnya, karena di bilik penyimpanan ia tidak pernah melihat wajah itu. Tetapi tubuhnya. Rambutnya. Jari-jari tangan kanannya yang panjang dan pucat.
"Abdi," kata pemuda itu. Suaranya biasa. Datar. Muda. Suara yang sama yang di bilik penyimpanan berkata Dan kalau Nyai itu mencium baunya lagi? "Kau membawa hidangan untuk meja kehormatan?"
"Inggih."
Pemuda itu melangkah mendekat dan menatap nampan di tangan Dira. Kelima piring perunggu itu. Ia menatapnya dengan mata yang tidak berkedip, seperti mata ular yang menatap telur.
"Daun pisangnya miring," katanya. "Yang ini." Ia menunjuk piring paling kanan. Piring teratai. Piring Tumenggung. "Tidak sopan menyuguhkan hidangan dengan daun miring kepada patih Adipati. Biar kurapikan."
Ia mengulurkan tangan kanannya.
Dira tidak bergerak. Ia tidak bisa bergerak. Kalau ia menarik nampan itu, kalau ia menolak, kalau ia melakukan apa pun yang tidak dilakukan abdi biasa...
Jari-jari panjang dan pucat itu menyentuh tepi daun pisang di piring teratai. Menariknya sedikit. Merapikannya. Gerakan yang kecil, cepat, dan sangat biasa, seperti gerakan pelayan yang teliti.
Lalu tangan itu ditarik kembali.
"Sudah," kata pemuda itu. "Bawa masuk."
Ia mundur ke balik tiang. Dan sama seperti ketika ia datang, Dira tidak mendengar langkahnya pergi. Satu kejap ia ada di sana. Kejap berikutnya ia tidak ada.
Dira berdiri di serambi dengan nampan di tangan.
Ia menatap piring teratai itu. Daun pisangnya kini rapi. Nasi liwetnya masih mengepul. Ingkungnya masih berkilau. Sambal Lawu di pinggirnya masih merah menyala.
Tak ada yang berubah.
Ia menunduk sedikit, pura-pura memeriksa letak nampan, dan menghirup udara di atas piring teratai itu.
Santan. Kunyit. Daun salam. Bawang. Cabai. Kacang goreng. Daun pisang muda.
Dan sesuatu yang lain.
Samar. Begitu samar sehingga hidung manusia biasa tak akan pernah menangkapnya di antara bau santan dan cabai. Begitu samar sehingga Dira sendiri hampir mengira ia hanya membayangkannya. Bau yang tajam dan agak manis, seperti bawang putih yang dibiarkan membusuk, bercampur dengan sesuatu yang dingin dan logam.
Di dalam dadanya, Ki Jalak membeku.
Lalu, dengan suara yang tidak pernah Dira dengar sebelumnya, suara yang lebih tua dan lebih dalam dari takut, seperti suara orang yang mengenali bau darah saudaranya sendiri:
"Warangan."
Apa?
"Warangan, bocah. Racun keris." Suara Ki Jalak bergetar. "Batu warangan yang ditumbuk halus, dilarutkan dalam air jeruk nipis. Dipakai para empu untuk memandikan bilah keris waktu jamasan, supaya pamornya muncul. Aku dimandikan dengan itu setiap tahun selama ratusan warsa. Aku kenal baunya lebih baik dari aku kenal namaku sendiri."
Dira tidak bernapas.
"Sejumput saja," bisik Ki Jalak. "Sejumput yang ditaburkan di bawah nasi, di bawah daun pisang, tempat tak ada yang melihat. Sejumput saja cukup untuk membunuh seekor kerbau. Orang tua kurus seperti tumenggung itu akan mati sebelum piringnya habis. Perutnya terbakar. Muntah darah. Dan semua orang akan menoleh untuk melihat siapa yang membawa piringnya."
Supaya semua orang ingat siapa yang membawanya.
Dari pintu kecil di ujung serambi, cahaya pelita tumpah keluar, kuning dan hangat. Dira bisa melihat sebagian pendapa dari sini. Tikar pandan. Tumpeng nasi kuning. Punggung para tamu yang duduk bersila. Dan di depan, meja rendah dari kayu jati berukir, dengan lima orang di belakangnya.
Ki Wiradhana mengangkat tangan kanannya dan melambai pelan ke arah pintu kecil itu. Ke arah Dira.
"Ah, ini dia," katanya dengan suara yang hangat dan ramah, cukup keras untuk didengar seluruh pendapa. "Hidangan utamanya. Masuklah, ngger. Jangan malu-malu. Gusti Tumenggung sudah menunggu."
Tumenggung Sasradipa menoleh ke arah pintu. Ia melihat Dira. Ia mengenali abdi yang tadi malam memberinya air di dapur. Wajahnya yang kurus dan keras berubah, tersenyum, senyum kakek yang ramah dan lapar.
"Ah," katanya. "Sambal Lawu lagi, kuharap?"
Dira melangkah melewati ambang pintu, masuk ke pendapa yang terang benderang, dengan lima piring perunggu di tangannya dan ratusan mata menatapnya.
Dan salah satu piring itu berbau kematian.