Bab 57Pesan Mbah Karta
Dira menutupnya.
Jari-jarinya gemetar ketika menarik kain lurik itu kembali ke atas, menutupi memar biru, menutupi garis yang bercabang seperti akar, menutupi cahaya redup yang kini, setelah ia tahu keberadaannya, terasa begitu terang sehingga ia yakin seluruh padepokan bisa melihatnya.
Di permukaan kolam, pantulan kepala botak di belakangnya tidak bergerak.
Dira tidak berani menoleh. Ia menatap air, menatap pantulan mata tua yang jernih dan tajam itu, dan menunggu.
Lalu pantulan itu bergerak. Mbah Karta berjongkok di sampingnya, perlahan, dengan bunyi lutut berderak seperti ranting kering, dan duduk di atas batu berlumut di tepi kolam. Ia menatap air, bukan Dira. Lama. Seperti orang tua yang duduk di tepi sungai memandangi ikan.
"Kolam ini," katanya akhirnya, "dulu tempat aku mencuci muka. Waktu aku muda. Sebelum ada yang bilang kolam ini dihuni ular."
Suaranya bukan suara Mbah Karta yang biasa. Bukan suara pikun yang bergumam kepada kuali lodeh. Suara itu rendah, jelas, dan tenang. Suara orang yang sudah sangat lama tidak menggunakannya, dan kini menggunakannya dengan hati-hati, seperti mengeluarkan pisau tua dari sarungnya.
"Siapa yang bilang kolam ini dihuni ular, Mbah?"
"Aku." Mbah Karta tersenyum tipis. "Supaya tak ada yang datang ke sini."
"Bocah," bisik Ki Jalak, sangat pelan, nyaris tak terdengar. "Bocah, suaranya..."
Dira tidak menjawab Ki Jalak. Ia tidak berani menjawab Ki Jalak sekarang, di sini, di samping orang tua ini. Ia merasa, entah kenapa, bahwa Mbah Karta bisa mendengar.
"Kain itu," kata Mbah Karta. "Sudah bolong."
Dira menyentuh tengkuknya, tempat lubang hangus itu tersembunyi di bawah rambut.
"Semalam," katanya. "Di atap..."
"Aku tahu di mana." Mbah Karta tidak menoleh. "Aku tahu kau naik ke atap malam purnama. Aku tahu kau menghirup napas gunung. Aku tahu tulangmu berbunyi seperti keris disentil, karena aku mendengarnya dari gudang beras." Ia diam sebentar. "Bodoh. Sangat bodoh. Anjing pemburu sedang mengendus di hutan, dan kau naik ke tempat paling tinggi di bawah bulan paling terang, lalu menyalakan dirimu seperti obor."
Dira menunduk.
"Dan berani," lanjut Mbah Karta, dengan nada yang tidak berubah. "Sangat berani. Dan berhasil." Ia mengangguk pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Guruku dulu juga begitu. Bodoh dan berani. Lebih banyak bodohnya."
Di dalam dada Dira, Ki Jalak tersedak.
Mbah Karta merogoh ke balik ikat pinggang kainnya yang lusuh. Ia mengeluarkan sesuatu yang terlipat kecil, sehelai kain yang sangat tua, warnanya biru tua hampir hitam, seperti langit sebelum subuh. Ia membukanya di atas lututnya. Kain itu sepanjang dua lengan, selebar empat jari. Tenunannya halus dan rapat, lebih halus dari kain apa pun yang pernah Dira lihat di padepokan. Di sepanjang tepinya ada pola samar yang hanya terlihat kalau kain itu dimiringkan ke arah cahaya: garis-garis kecil yang bercabang-cabang, berulang-ulang.
Seperti akar. Seperti dahan.
"Lepas kainmu," kata Mbah Karta.
Dira tidak bergerak.
"Simpul Nyai," katanya pelan. "Aku tidak pernah... sejak bayi... Nyai bilang jangan pernah..."
"Nyai benar." Mbah Karta menatapnya untuk pertama kalinya sejak duduk. Matanya jernih, keruhnya hilang seperti kabut yang tersibak angin. "Jangan pernah lepas di depan siapa pun. Kecuali orang yang memakaikannya dulu."
Dira menatapnya.
"Bocah," kata Ki Jalak dengan suara yang aneh. "Apa maksudnya? Orang yang memakaikannya? Bukannya Nyai yang..."
Mbah Karta tidak menjelaskan. Ia hanya menunggu, dengan kain biru tua terbentang di atas lututnya, dan dengan kesabaran orang yang sudah menunggu sangat lama untuk sesuatu yang sangat kecil.
Dira mengangkat tangannya ke simpul Nyai di sisi kanan lehernya. Simpul yang rapat dan rapi, yang ia sentuh setiap pagi dan setiap malam, yang diperiksa Wulansari di bawah pohon sawo, yang dikencangkan Nyai di kebun obat. Ia membukanya. Perlahan. Lilitan demi lilitan.
Kain lurik cokelat tua itu jatuh ke pangkuannya.
Udara senja menyentuh kulit lehernya. Dingin. Asing. Seperti orang yang tiba-tiba berdiri telanjang di tengah pasar.
Mbah Karta tidak menatap garis biru itu. Itulah yang kemudian paling diingat Dira. Juru masak tua itu tidak menatap memar, tidak menatap garis yang bercabang, tidak menatap cahaya redupnya. Ia menatap wajah Dira, matanya, seperti leher itu hanya leher biasa dan tak ada yang perlu dilihat di sana.
Lalu ia melilitkan kain biru tua itu.
Tangannya cekatan dan hangat. Kering seperti kayu tua, kapalan di ujung-ujung jarinya, berbau asap kayu bakar dan rempah-rempah. Ia melilitkan kain itu sekali, dua kali, pas, tidak terlalu ketat, tidak terlalu longgar. Lalu ia mengikat ujung-ujungnya.
Dira merasakan simpul itu terbentuk di bawah jari-jari Mbah Karta. Tiga lilitan. Saling mengunci. Ujungnya diselipkan ke bawah, begitu rapi sehingga hampir tak teraba.
Ia pernah merasakan simpul itu. Di bidai lengannya, waktu ia bangun dari pingsan di depan tungku ketujuh. Simpul yang dikenali Satyaki sebagai simpul medan perang. Simpul yang membuat Nyai Rukminiwati terdiam lama sekali di kebun obat dan berbisik tentang delapan belas warsa lalu, di tepi hutan, di bawah hujan, di lengan seseorang.
"Mbah," bisik Dira. "Simpul ini..."
"Simpul tukang masak," kata Mbah Karta. "Untuk mengikat ingkung supaya duduk bersila."
"Ingkung diikat dengan tali bambu, Mbah. Bukan simpul ini."
Mbah Karta terdiam. Lalu, untuk pertama kalinya, ia tertawa. Pelan, dalam, dan sangat tua, seperti tawa yang dulu terdengar dari tungku ketujuh waktu jalak-jalak menyerbu dapur.
"Kau terlalu pintar," katanya. "Itu juga sifat guruku. Dia terlalu pintar, lalu lupa semua kepintarannya. Mungkin kau akan begitu juga suatu hari."
Begitu kain biru tua itu menyentuh lehernya, sesuatu terjadi di dalam diri Dira.
Bukan sesuatu yang besar. Hanya perasaan yang aneh. Seperti seseorang yang sudah lama berdiri di bawah hujan, lalu tiba-tiba ada yang memayunginya. Rasa hangat yang tersisa dari semalam, dari panas yang membakar lubang di kain lurik, mereda menjadi sesuatu yang lebih tenang. Lebih dalam. Seperti air yang kembali ke dasar sumur setelah diaduk.
Dan Ki Jalak, di dalam Balai Sukma, menarik napas yang bukan napas.
"Getah," bisiknya.
Apa?
"Bau itu. Bau kain itu. Getah. Getah kuning yang kental, yang baunya seperti madu dicampur besi. Getah yang menetes dari kulit kayu waktu matahari terlalu panas." Suaranya bergetar. "Benang kain itu direndam getah. Getah dari... dari..."
Ia tidak bisa menyelesaikannya. Namanya hilang lagi.
Dira menyentuh kain biru tua itu dengan ujung jari. Halus, sejuk, dan memang, kalau ia mendekatkan hidungnya, samar-samar berbau sesuatu yang manis dan logam sekaligus.
"Kain apa ini, Mbah?"
"Kain tua."
"Dari mana?"
"Dari guruku." Mbah Karta mengambil kain lurik cokelat tua yang hangus dari pangkuan Dira, melipatnya dengan rapi, dan menyelipkannya ke balik ikat pinggangnya sendiri. "Dia memberikannya kepadaku waktu aku seumurmu. Katanya, suatu hari aku akan bertemu seseorang yang lebih membutuhkannya dari aku." Ia menepuk ikat pinggangnya. "Yang ini kusimpan. Simpul Nyai jangan dibuang. Simpul itu dibuat dengan cinta. Cinta tidak boleh dibuang, meskipun kainnya sudah bolong."
"Guruku," bisik Ki Jalak, seperti orang yang meraba-raba dinding dalam gelap mencari pintu. "Guruku. Guruku. Kenapa dia terus menyebut gurunya? Siapa gurunya? Bocah, tanyakan siapa gurunya."
Dira membuka mulut.
Tetapi Mbah Karta mendahuluinya.
"Dengar baik-baik," kata juru masak tua itu. "Karena aku hanya akan mengatakannya sekali, dan besok pagi aku akan lupa pernah mengatakannya."
Dira menutup mulutnya.
"Jangan pernah lepas kain itu di depan orang asing." Mbah Karta mengangkat satu jari yang keriput. "Jangan di depan tamu. Jangan di depan murid yang tidak kau kenal. Jangan di depan tetua mana pun. Jangan di depan orang yang membakar dupa, orang yang memakai cincin, orang yang matanya tidak kau kenal sejak kecil." Ia mengangkat jari kedua. "Kalau kau terpaksa melepasnya, lepaslah di dekat air yang mengalir. Bukan air yang diam. Bukan kolam ini, bukan bak cuci, bukan gentong."
"Kenapa?"
"Karena air yang diam menyimpan bayangan." Mbah Karta menatap permukaan kolam, yang kini gelap dan memantulkan langit ungu tua dan bintang pertama. "Air yang mengalir membawanya pergi. Ada orang-orang di dunia ini yang bisa membaca bayangan di air diam, berhari-hari setelah bayangannya pergi. Kau tidak mau mereka membaca bayanganmu."
Dira menatap kolam itu. Permukaannya tenang. Di bawah permukaannya, pikirnya tanpa bisa menahan diri, mungkin masih ada bayangan lehernya yang terbuka, garis birunya yang bercabang, tersimpan seperti lukisan di atas lontar.
Mbah Karta mencelupkan tangannya ke dalam kolam dan mengaduknya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Permukaan air beriak, pecah, bergelombang, lalu tenang lagi.
"Sudah," katanya. "Sekarang tidak ada."
"Mbah," kata Dira. "Garis ini. Apa ini?"
Mbah Karta mengeringkan tangannya di kain bajunya.
"Akar," katanya.
"Akar apa?"
"Akar yang sedang mencari tanah." Ia menatap Dira. "Setiap kali kau menelan sesuatu, akarnya tumbuh. Sedikit. Satu cabang. Dua cabang. Jangan menelan terlalu cepat. Akar yang tumbuh terlalu cepat merobek tanahnya sendiri."
Dira diam lama.
"Siapa Mbah sebenarnya?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Pelan, tetapi jelas. Pertanyaan yang sudah lama ia simpan, sejak siulan jalak kebo di dapur, sejak ramuan di nampan, sejak simpul tiga lilitan, sejak dengkuran yang terlalu teratur.
Mbah Karta menatapnya lama.
Lalu, perlahan, seperti matahari yang tenggelam di balik gunung, kejernihan itu memudar dari matanya. Keruhnya kembali. Kedipannya yang lambat dan bingung kembali. Bahunya kembali membungkuk. Ia menjadi Mbah Karta lagi. Juru masak tua yang pikun, yang tak bisa membedakan Gendhing dan Gendhis.
"Aku?" katanya dengan suara gumam yang biasa. "Aku juru masak. Botak. Pikun. Suka tidur." Ia bangkit dengan susah payah, lututnya berderak lagi. "Ada pertanyaan, ngger, yang kalau dijawab terlalu cepat, jawabannya membunuh orang yang bertanya. Tanyakan lagi nanti. Waktu tulangmu sudah bukan cuma besi."
Ia berbalik untuk pergi. Lalu berhenti.
"Guruku," katanya tanpa menoleh, dengan suara yang separuh gumam pikun dan separuh lagi sesuatu yang lain. "Kau mau tahu siapa guruku? Aku sudah pernah bilang. Waktu kau makan peyek." Ia terkekeh. "Galak. Cerewet. Pelupa. Dan suka sekali kacang."
Di dalam dada Dira, Ki Jalak berhenti bernapas.
Tidak. Itu salah. Ki Jalak tidak pernah bernapas. Tetapi Dira merasakan sesuatu berhenti di Balai Sukma. Seperti jantung yang berhenti berdetak sesaat. Seperti burung yang membeku di udara di tengah kepak sayapnya.
Galak. Cerewet. Pelupa. Suka kacang.
Peyek kacang setelah demam tiga malam, dengan kalimat yang sama persis. Resep guruku. Galak, cerewet, pelupa, suka sekali kacang. Waktu itu Ki Jalak membeku sama seperti sekarang. Lalu Mbah Karta mengerjap-ngerjapkan mata seperti kura-kura dan berkata guru masak, tentu saja guru masak, memangnya guru apa lagi, dan mereka berdua membiarkannya lewat, karena lebih mudah membiarkannya lewat.
Kali ini Mbah Karta tidak bilang guru masak.
"Bocah," bisiknya, dan suaranya sangat kecil, sangat tua, sangat rapuh, seperti daun kering yang hampir hancur. "Bocah. Aku galak."
Ya.
"Aku cerewet."
Ya.
"Aku pelupa."
Ya.
"Dan kacang..." Suara itu pecah. "Gema pertamamu. Kau tiba-tiba suka kacang. Karena aku. Karena aku suka kacang. Aku selalu suka kacang. Aku tidak ingat kenapa, tapi aku selalu..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
Mbah Karta sudah berjalan beberapa langkah menjauh, menyeret kakinya di atas rumput. Dira bangkit, membuka mulut untuk memanggilnya, untuk bertanya, untuk menuntut, untuk...
"MBAH! DIRA!"
Suara cempreng itu memecah senja seperti batu yang dilempar ke kolam tenang.
Gendhing berlari dari balik lumbung, napasnya terengah, rambutnya yang seperti sarang manyar berdiri ke segala arah, matanya membelalak lebih lebar dari biasanya.
"Rombongan!" teriaknya. "Rombongan kadipaten! Mereka datang! Sekarang! Sudah di gerbang depan!"
Mbah Karta berhenti.
"Bukannya mereka baru datang lusa?" kata Dira.
"Aku tahu! Semua orang tahu! Tapi mereka datang sekarang!" Gendhing melambai-lambaikan tangan ke arah gerbang depan. "Obornya banyak sekali! Ada kereta! Ada kuda-kuda! Ada peti-peti ditandu! Ada orang-orang berpakaian bagus! Dan..." Ia menelan ludah. "Dan Ki Wiradhana sendiri yang menyambut mereka di gerbang. Tangan kirinya dibalut kain hitam."
Hening.
Mbah Karta berdiri diam di tengah rumput dengan punggung menghadap Dira. Lama. Lalu ia bergumam. Bukan dengan suara pikun. Dengan suara yang tadi, rendah dan jelas, cukup pelan sehingga Gendhing tidak mendengarnya, tetapi cukup jelas bagi telinga Raga Puncak Dira.
"Dua hari lebih cepat," katanya. "Seseorang memanggil mereka lebih cepat."
Lalu ia berbalik, dan wajahnya sudah wajah Mbah Karta yang biasa, bingung dan mengantuk.
"Tamu datang?" tanyanya kepada Gendhing dengan suara melengking orang tua yang terkejut. "Sekarang? Lho, ingkungnya belum! Ayamnya masih di kandang! Gendhis! Mana Gendhis? Gendhing, kenapa kau di sini? Panggil Gendhis!"
"Aku Gendhing, Mbah."
"Itu yang kubilang!"
Juru masak tua itu bergegas pergi ke arah dapur, menyeret kakinya secepat yang ia bisa, sambil berteriak-teriak tentang ayam dan santan dan kunyit. Gendhing berlari di belakangnya.
Dira tinggal sendirian di tepi kolam yang gelap.
Ia menyentuh kain biru tua di lehernya. Simpul tiga lilitan yang saling mengunci.
Di kejauhan, dari arah gerbang depan, ia bisa mendengar bunyi derap kuda, roda kereta yang berderak di atas batu, dan suara-suara asing yang berbicara dengan logat kota. Cahaya ratusan obor menyiram langit di atas gerbang depan dengan warna jingga kemerahan, seperti fajar yang datang dari arah yang salah.