Bab 54Purnama Lawu
Hari purnama datang seperti banjir: dapur abdi tenggelam.
Sejak sebelum kentongan subuh, semua tungku menyala. Tujuh tungku, tujuh kuali, tujuh asap yang membubung dari lubang-lubang di atap ijuk dan berbaur menjadi satu awan kelabu di atas dapur. Mbok Darsih menggoreng tempe dan tahu sampai tangannya merah. Gendhis menumbuk sambal di tiga cobek bergantian. Gendhing berlari ke sana kemari membawa kayu, air, garam, daun pisang, apa pun yang diteriakkan orang, dan selalu membawa yang salah. Para abdi cuci melipat ratusan helai daun pisang menjadi takir. Para abdi kandang menggiring kambing dan ayam untuk disembelih.
Dan di tengah semua itu, Mbah Karta memasak ingkung.
Dua puluh ekor ayam kampung jantan, dibersihkan, diikat kaki dan sayapnya dengan tali bambu sehingga mereka duduk bersila dengan kepala menunduk, seperti orang yang sedang bersemadi. Lalu direbus pelan-pelan di dalam santan kental, kunyit, ketumbar, serai, daun salam, dan bumbu-bumbu lain yang hanya diketahui Mbah Karta. Ia tidak membiarkan siapa pun menyentuh kuali ingkung itu. Tidak Mbok Darsih. Tidak Gandawasa. Tidak Dira.
Dira tidak keberatan. Ia tidak ingin dekat-dekat ingkung.
"Kau masih ingat?" tanya Ki Jalak, ketika Dira melewati kuali itu dengan seikat kayu bakar.
"Sepuluh cambukan," gumam Dira. "Tulang di bawah tikarku. Aku ingat."
"Ingkung yang sama?"
"Ingkung tidak pernah sama. Ayamnya beda." Dira meletakkan kayu bakar di samping tungku keempat. "Tapi baunya sama."
Lehernya berdenyut. Sejak semalam, sejak angin berbau dupa dingin bertiup dari hutan, tanda di bawah kain itu tidak berhenti berdenyut. Kadang lemah, seperti jari yang mengetuk pelan dari balik pintu. Kadang kuat, seperti jarum dingin yang ditusukkan dan ditarik. Tak seorang pun di dapur memperhatikan. Semua orang terlalu sibuk. Tetapi setiap kali angin bertiup dari arah barat, Dira harus berhenti sejenak dan menurunkan napasnya ke bawah pusar, memutarnya, sampai nyeri itu mereda.
Gandawasa memperhatikan.
Dira tahu karena kepala dapur itu, yang sejak malam di lumbung tidak pernah lagi menatapnya langsung, kini meliriknya dari seberang dapur setiap kali tangannya terangkat ke leher. Gandawasa tidak berkata apa-apa. Tetapi menjelang siang, ia berjalan melewati tungku Dira dan meletakkan sebuah kendi kecil berisi air dingin dari sumur di samping kakinya. Tanpa menoleh. Lalu ia pergi lagi.
Dira menatap kendi itu lama.
"Dunia," gumam Ki Jalak, "makin aneh setiap hari."
Selamatan purnama dimulai ketika matahari tenggelam.
Balairung terang benderang oleh ratusan pelita. Di tengah pendapa, di atas tikar pandan yang digelar berlapis-lapis, sesaji diatur bertingkat. Tumpeng nasi kuning setinggi anak kecil, dikelilingi lauk-pauk dalam takir daun pisang: ingkung, telur rebus, tempe dan tahu bacem, urap sayur, sambal goreng, rempeyek kacang yang ditata seperti kipas. Kembang telon ditaburkan di atas nampan-nampan perunggu. Dupa cendana mengepul dari anglo-anglo kecil di empat penjuru, wanginya manis dan hangat dan sama sekali berbeda dari dupa dingin di hutan.
Para tetua duduk bersila di barisan depan. Ki Ageng Suryadharma di tengah, beskap emasnya bersulam matahari, wajahnya tenang dan berwibawa dalam cahaya pelita. Di kanannya, Nyai Rukminiwati, tegak dan dingin seperti biasa. Di kirinya, Ki Wiradhana, janggutnya yang panjang berkilau keperakan, tersenyum lembut kepada setiap orang yang lewat.
Ki Brajanala tidak ada. Ia sedang di tepi Hutan Larangan bersama dua belas murid dalam.
Di depan tempat duduknya yang kosong, di antara sesaji-sesaji lain, ada sebuah kendi kecil berbungkus kain merah yang baru. Isinya bukan arak. Gendhing yang memberitahu Dira, dengan bisikan penuh semangat, bahwa Ki Brajanala mengganti arak sesaji arwah gurunya tahun ini dengan wedang jahe buatan Mbah Karta.
"Katanya," bisik Gendhing, "arwah gurunya pasti lebih suka wedang jahe daripada arak yang sudah diminum Sutarga."
"Itu," kata Ki Jalak, "adalah hal paling masuk akal yang pernah kudengar dari mulut seorang tetua."
Dira tidak duduk di dalam balairung. Abdi tidak duduk di dalam balairung. Ia berdiri di serambi samping bersama abdi-abdi lain, membawa nampan, menunggu dipanggil untuk mengganti kendi air atau menambah lauk. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat seluruh pendapa. Ia bisa melihat Wulansari duduk di barisan murid luar di belakang, cundrik bulan sabitnya terselip di pinggang, pergelangan tangan kanannya masih dibalut kain tipis. Ia bisa melihat Satyaki di sebelahnya, wajahnya datar. Ia bisa melihat Bayuwisesa duduk di barisan murid dalam, punggungnya tegak, wajahnya seperti pahatan batu.
Bayuwisesa tidak menoleh ke arah serambi sekali pun. Tidak sekali pun. Begitu sempurna tidak menolehnya sampai Dira tahu ia sedang berusaha keras untuk tidak menoleh.
Ki Ageng memimpin doa. Suaranya dalam dan berat seperti gong besar, menggema di bawah atap balairung yang tinggi. Doa untuk gunung. Doa untuk bulan. Doa untuk para leluhur yang menjaga lereng Lawu. Doa untuk pusaka-pusaka yang tidur di altar. Para tetua dan murid-murid menunduk, bibir mereka bergerak pelan mengikuti.
Dira juga menunduk. Tetapi ia tidak berdoa.
Lehernya berdenyut. Dan setiap kali berdenyut, ia merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu di udara di sekitarnya. Seperti tekanan sebelum hujan, ketika langit terasa terlalu berat dan udara terasa terlalu tebal.
"Bulan naik," bisik Ki Jalak. "Rasakan. Gunung bernapas."
Selamatan selesai menjelang tengah malam.
Para tetua kembali ke asrama mereka. Para murid bubar. Para abdi membereskan sisa-sisa sesaji, mencuci ratusan takir dan nampan, menyapu kembang telon yang berserakan. Dira bekerja sampai kentongan kedua, lalu ikut berbaring di barak bersama abdi-abdi lain yang terlalu lelah bahkan untuk mendengkur.
Ia tidak tidur.
Lehernya berdenyut makin kuat. Udara di dalam barak terasa berat, seperti sebelum hujan. Dan di balik dinding gedek, di balik pohon-pohon, di balik puncak Lawu yang hitam, bulan purnama naik ke tengah langit.
"Bocah," kata Ki Jalak pelan. "Kita harus bicara."
Sekarang?
"Sekarang." Ki Jalak terdiam sebentar. "Ada dua jalan malam ini. Dengar baik-baik."
Dira mendengarkan.
"Jalan pertama: kau berbaring di sini sampai subuh. Kau menahan nyeri itu. Kau menurunkan napasmu dan memutarnya setiap kali lehermu berdenyut. Kau tidak keluar. Kau tidak bergerak. Kau berharap siapa pun yang mengendus di hutan itu tidak menemukanmu di antara dua puluh abdi yang tidur. Dan besok pagi, purnama sudah lewat, dupa itu sudah habis, dan kau aman. Mungkin."
"Dan jalan kedua?"
"Jalan kedua lebih bodoh."
"Ceritakan."
Ki Jalak menghela napas panjang yang bukan napas.
"Malam purnama, gunung bernapas. Itu bukan dongeng nenek-nenek. Itu benar. Di malam-malam biasa, napas gunung tertahan di dalam perutnya, di dalam batu dan api dan air di bawah tanah. Tapi di malam purnama, bulan menariknya ke atas. Seperti air laut ditarik bulan. Napas gunung naik dari kawah, menyebar ke lereng-lereng, turun seperti kabut perak. Siapa pun yang tahu cara menghirupnya bisa mendapatkan dalam semalam apa yang biasanya didapat dalam satu musim latihan."
Dira membuka matanya dalam gelap.
"Kau di Raga Madya," lanjut Ki Jalak. "Ototmu sudah ditempa. Langkah berikutnya adalah tulang. Raga Puncak. Menempa tulang sampai sekeras besi, sampai bisa menahan pukulan Prana tanpa retak. Biasanya butuh berbulan-bulan. Berendam di ramuan. Dipukuli dengan batang bambu setiap hari. Menahan beban di atas bahu sampai tulang belakang menjerit." Ia terdiam. "Atau satu malam purnama. Di tempat tinggi. Menghirup napas gunung langsung ke sumsum."
"Kenapa itu lebih bodoh?"
"Karena kalau kau keluar ke tempat tinggi di bawah bulan purnama dan menghirup napas gunung, kau akan bersinar seperti pelita di tengah sawah gelap. Bagi siapa pun yang sedang mengendus."
Dira diam lama.
"Lalu kenapa kau menawarkannya?"
"Karena aku pusaka tua yang ingatannya bolong, dan aku tidak yakin dengan banyak hal." Suara Ki Jalak sangat serius. "Tapi aku yakin dengan satu hal. Kendi yang retak bocor. Kendi yang utuh tidak. Tubuhmu sekarang seperti kendi yang belum dibakar. Tanah liat yang masih basah. Apa pun yang ada di dalamnya merembes keluar lewat pori-porinya. Bau Wadahmu merembes keluar. Itu yang diendus dupa itu."
"Dan kalau tulangku ditempa..."
"Kendinya dibakar. Menjadi keras. Rembesannya berhenti." Ki Jalak ragu. "Kurasa. Aku tidak yakin. Aku tidak ingat pernah ada Wadah yang mencoba ini sebelumnya. Tapi kalau aku benar, setelah malam ini tak ada dupa di dunia yang bisa mengendusmu semudah ini lagi. Dan kalau aku salah..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Leher Dira berdenyut lagi. Kali ini begitu kuat sampai ia hampir mengerang. Di sampingnya, seorang abdi kandang bergerak dalam tidurnya dan menggumamkan sesuatu tentang kambing.
"Kalau aku tetap di sini," bisik Dira, "dia akan terus mengendus. Malam ini. Purnama depan. Purnama berikutnya. Sampai dia menemukanku."
"Mungkin."
"Kalau aku keluar..."
"Dia mungkin menemukanmu malam ini juga. Atau tidak sama sekali, untuk selamanya."
Dira bangkit duduk di atas tikarnya.
Atap dapur.
Itu satu-satunya tempat tinggi yang bisa ia capai tanpa melewati gerbang atau penjaga. Sejak Ki Brajanala menatap bubungan dengan jari-jari berdebu, Dira berhenti naik ke sana. Tetapi malam ini Ki Brajanala ada di tepi Hutan Larangan, di sisi barat padepokan, dengan punggung menghadap ke dapur dan wajah menghadap ke hutan.
Dira memanjat tiang sudut dapur. Hinggap, Lompat, Jalak Mematuk Batu. Merayap di sepanjang bubungan ijuk yang hitam oleh jelaga sampai ke titik tertingginya, di atas tungku ketujuh, tempat asap tipis yang hangat masih merembes dari lubang di atap.
Lalu ia duduk bersila dan menatap ke atas.
Bulan purnama menggantung tepat di atas puncak Lawu. Bulat sempurna, putih keperakan, begitu besar dan begitu dekat sehingga Dira merasa bisa menyentuhnya kalau mengulurkan tangan. Cahayanya menyiram lereng-lereng gunung, mengubah hutan menjadi lautan perak dan hitam, mengubah atap-atap padepokan menjadi sisik ikan yang berkilau.
Dan dari puncak Lawu, sesuatu turun.
Awalnya Dira mengira itu kabut. Kabut tipis keperakan yang mengalir menuruni lereng seperti air terjun yang sangat lambat. Tetapi kabut tidak bergerak seperti itu. Kabut tidak mengalir melawan angin. Kabut tidak berkilau dari dalam, seperti debu emas yang ditaburkan di air.
"Itu dia," bisik Ki Jalak dengan suara penuh takjub. "Napas gunung."
Napas gunung mengalir turun dari puncak, melewati hutan, melewati lereng, melewati padepokan. Ia mengalir di atas atap-atap, di antara pohon-pohon, di atas lapangan dan halaman, perlahan, seperti sungai cahaya yang tak bersuara. Dan ketika aliran itu sampai di atap dapur, menyentuh kulit Dira, Dira merasakannya.
Dingin. Bukan dingin seperti tanda di lehernya. Dingin yang bersih dan dalam, seperti air sumur pegunungan yang diminum di siang hari terik. Dingin yang menyegarkan, yang membuat setiap pori di kulitnya terbuka dan bernapas.
"Jangan dihirup dengan hidung," kata Ki Jalak cepat. "Dengan tulang. Biarkan dia masuk lewat kulit, lewat daging, lewat otot yang sudah ditempa. Lalu tarik lebih dalam. Lebih dalam dari otot. Ke tulang. Ke sumsum di dalam tulang. Seperti akar pohon menyedot air dari tanah."
Dira memejamkan mata.
Ia menurunkan napasnya ke bawah pusar. Memutarnya. Lalu, alih-alih mengirimnya naik ke tulang punggung, ia membiarkannya tenggelam. Ke bawah. Ke dalam. Ke tulang ekor. Ke tulang panggul. Ke tulang paha. Mencari, seperti akar mencari air.
Dan napas gunung mengikuti.
Napas itu masuk lewat kulitnya seperti air meresap ke tanah kering. Melewati daging. Melewati otot. Lalu sampai ke tulang, dan tulang itu...
Tulang itu menjerit.
Itu bukan rasa sakit seperti patah tulang. Bukan seperti waktu ia mematahkan lengannya sendiri di depan tungku ketujuh. Itu sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam dan lebih tua.
Rasanya seperti tulang-tulangnya diletakkan di atas paron dan dipukul. Bukan dengan palu biasa. Dengan palu empu. Palu yang menempa keris. Satu pukulan, dang, dan seluruh tulang pahanya bergetar. Dua pukulan, dang, dan tulang panggulnya bergetar. Tiga, empat, lima. Tulang belakangnya. Tulang rusuknya. Tulang lengannya, yang dua kali patah dan dua kali ditata. Setiap pukulan mengirim gelombang panas dan dingin sekaligus dari sumsum ke kulit, seperti besi yang dicelup air setelah ditempa.
Dira menggigit bibirnya sampai berdarah supaya tidak menjerit.
"Bertahan," kata Ki Jalak. Suaranya terdengar jauh, seperti dari seberang lembah. "Bertahan. Ini benar. Ini yang seharusnya terjadi. Jangan lepaskan napasnya. Jangan biarkan dia berhenti di tengah. Tulang yang ditempa setengah lebih rapuh dari tulang yang tidak ditempa sama sekali."
Dang.
Tulang tengkoraknya. Seluruh dunia bergetar seperti gong yang dipukul.
Dang.
Ia membuka mata. Bulan purnama menggantung di atas puncak Lawu, terlalu besar, terlalu terang. Napas gunung masih mengalir turun, berkilau keperakan, mengalir masuk ke dalam tubuhnya seperti sungai yang masuk ke laut.
Dan di sudut matanya, di sebelah barat, di atas garis hitam Hutan Larangan, ia melihat sesuatu yang lain.
Asap.
Segaris asap tipis. Hitam. Lebih hitam dari langit malam, lebih hitam dari hutan di bawahnya, begitu hitam sehingga tampak seperti retakan di langit, bukan asap. Asap itu naik dari suatu tempat di dalam hutan, lurus ke atas, tipis seperti benang, lalu di ketinggian tertentu berhenti naik dan mulai bergoyang ke kiri dan ke kanan. Pelan. Seperti kepala ular yang mengendus udara.
Seperti hidung anjing yang mencari jejak.
Dang.
Tulang lehernya.
Dan tanda di bawah kain lehernya, yang sejak semalam berdenyut seperti jarum es, tiba-tiba berubah.
Dingin itu lenyap. Seketika. Seperti embun yang jatuh ke atas bara.
Yang menggantikannya adalah panas.
Panas yang membakar. Panas yang membuat kulit di bawah kain itu terasa seperti diolesi bara. Panas yang menjalar dari leher ke rahang, ke telinga, ke ubun-ubun. Dira tersedak. Tangannya terangkat ke leher, mencengkeram kain lurik itu.
Di atas Hutan Larangan, garis asap hitam itu berhenti bergoyang.
Lalu, perlahan, seperti jari yang menunjuk, ujungnya membengkok.
Ke timur.
Ke arah padepokan.
Ke arah atap dapur.
"Bocah," kata Ki Jalak, dan untuk pertama kalinya sejak Dira mengenalnya, suara pusaka tua itu terdengar benar-benar takut. "Dia menemukanmu."