Bab 36Raga Madya
Dua puluh hari.
Dua puluh hari Dira menjadi abdi dapur yang paling membosankan di seluruh lereng Lawu.
Ia bangun sebelum kentongan subuh dan menimba air dengan tangan kiri. Ia mengupas bawang dengan tangan kiri, mencuci bakul dengan tangan kiri, menyapu lantai dapur dengan tangan kiri. Ia tidak naik ke atap. Ia tidak pergi ke gudang rongsokan. Ia tidak berlatih di depan tungku ketujuh. Ia tidak berbicara dengan siapa pun lebih dari yang perlu, kecuali di bawah pohon sawo pada pagi buta, dan pertemuan itu pun ia pindahkan lebih awal, jauh sebelum siapa pun bangun.
Gandawasa mengawasinya.
Kepala dapur itu tidak lagi memberinya pekerjaan berlebihan. Tidak lagi menancapkan pisau, tidak lagi mencabut jatah makan. Ia hanya mengawasi. Setiap pagi, setiap siang, setiap malam, Dira bisa merasakan mata Gandawasa di punggungnya, seperti nyamuk yang hinggap di tengkuk dan tak mau pergi.
Pada malam pertama, Gandawasa tidak tidur. Ia duduk di ambang pintu barak abdi dengan cawan arak di tangan, menatap ke arah dapur. Dira tidur di tikarnya di sudut barak yang paling lembap, tidak bergerak sekali pun sepanjang malam.
Pada malam kedua, Gandawasa juga tidak tidur, tetapi cawan araknya bertambah satu.
Pada malam ketiga, cawannya bertambah satu lagi. Menjelang tengah malam, kepalanya terkulai ke kusen pintu. Menjelang subuh, dengkurannya memenuhi seluruh barak, lebih keras dari biasanya.
Pada malam keempat, kelima, dan seterusnya, Gandawasa kembali ke kebiasaan lamanya: tiga cawan arak, lalu tidur seperti kerbau yang bermimpi buruk.
"Lihat itu," kata Ki Jalak pada malam kelima, dengan nada puas. "Mata-mata yang tidak tahan kantuk. Seperti kucing penjaga lumbung yang kekenyangan."
Dira tidak tertawa. Ia berbaring diam di tikarnya, memejamkan mata, dan bernapas.
Itu satu-satunya latihannya selama dua puluh hari. Bernapas. Tidak bergerak, tidak melompat, tidak memukul. Hanya bernapas, berbaring di tikar di tengah barak yang penuh dengkuran, dan mengarahkan panas di bawah pusarnya ke lengan kanan. Ke tempat patahan. Ke tulang yang sedang tumbuh.
Setiap malam, rasa gatal seperti semut berjalan di dalam tulangnya itu terasa sedikit lebih kuat.
Setiap pagi, di atas karung beras di sudut dapur, ada nampan kayu dengan mangkuk tembikar hitam bertutup daun jati. Isinya ramuan yang sama: akar sambung, kunyit hutan, madu tua, tanduk kijang muda, dan irisan kulit kayu merah dari puncak Lawu. Setiap pagi Dira meminumnya. Setiap pagi Mbah Karta berkata ia tidak tahu apa-apa soal ramuan itu, dan itu cuma sup tulang sapi yang gosong.
Gandawasa juga melihat nampan itu. Ia mengendus mangkuk hitam itu suatu pagi, mengernyitkan hidung, lalu bertanya kepada Mbah Karta.
"Sup tulang sapi," kata Mbah Karta. "Gosong. Mau?"
Gandawasa menolak. Ia tidak pernah bertanya lagi.
Wulansari tahu tentang lengan itu sejak pagi pertama.
Ia sudah melihat retakannya beberapa hari sebelumnya. Ia sudah membalutnya dengan kain sabuknya sendiri. Ketika ia melihat bidai bambu tua dengan simpul tiga lilitan di bawah pohon sawo, ia hanya menatapnya lama, lalu menatap kakaknya.
"Kangmas mematahkannya lagi," katanya. Itu bukan pertanyaan.
"Ya."
"Sendiri."
"Ya."
Wulansari tidak berteriak. Tidak menangis. Ia hanya duduk di samping kakaknya di bawah pohon sawo dan memeluk lututnya erat-erat, menatap sumur kering di depan mereka.
"Sakit?" tanyanya akhirnya.
"Sangat sakit."
"Kangmas menjerit?"
"Tidak. Aku menggigit jarik."
Wulansari mengangguk pelan. Lalu ia menyandarkan kepalanya ke bahu kiri kakaknya, menjauhi bahu kanan.
"Lain kali," katanya pelan, "kalau Kangmas mau melakukan hal gila seperti itu, beri tahu aku dulu. Supaya aku bisa memegangi tangan Kangmas."
"Kau akan menangis."
"Iya. Aku akan menangis. Tapi aku tetap mau memegangi tangan Kangmas."
Dira tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan pipinya di atas kepala adiknya, sebentar saja, sampai kentongan subuh berbunyi dan Wulansari harus berlari kembali ke asrama.
Pada hari kedua puluh, Nyai Rukminiwati membuka bidai itu di kebun obat.
Ia melakukannya di bawah pohon jambu air, di bangku batu yang sama, pada pagi buta sebelum siapa pun bangun. Ia melepaskan simpul tiga lilitan itu dengan jari-jari yang cekatan, satu per satu, tanpa memotongnya. Ia menyimpan tali ijuk itu di balik kembennya. Ia melepaskan kain pembalut, membersihkan sisa pasta kunyit dan getah daun patah tulang dari kulit Dira dengan air sendang yang ia bawa dalam kendi kecil.
Lalu ia meraba lengan bawah Dira dengan ujung jarinya. Dari siku ke pergelangan. Pelan. Teliti.
"Benjolan itu hilang," katanya.
Dira meraba lengannya sendiri. Benar. Benjolan kecil yang selama sebelas warsa ada di sisi luar lengan bawahnya, yang tak pernah ia sadari, kini tak ada lagi. Tulangnya terasa lurus dan halus dari siku sampai pergelangan.
"Lebih dari itu," kata Nyai pelan. "Tulangnya lebih tebal. Lebih padat. Lebih tebal dari tulang lengan kirimu."
Ia menekan lengan itu sedikit lebih keras. Dira tidak merasakan sakit. Hanya tekanan.
"Ramuan apa yang kau minum, Sudira?"
"Sup tulang sapi yang gosong, Nyai. Dari Mbah Karta."
Nyai Rukminiwati menatapnya. Lalu, sangat pelan, sudut bibirnya bergerak sedikit. Hampir seperti senyum. Hampir.
"Tentu saja," katanya. "Sup tulang sapi."
Ia membungkus bidai bambu itu dengan selembar kain dan menyerahkannya kepada Dira. "Kembalikan kepada pemiliknya," katanya. "Aku tidak tahu siapa pemiliknya. Aku tidak mau tahu. Tapi kembalikan."
Dira menerimanya dengan kedua tangan. Kedua tangan.
"Terima kasih, Nyai."
"Jangan berterima kasih padaku. Aku tidak melakukan apa-apa." Nyai Rukminiwati bangkit. "Ingat yang kubilang. Abdi dapur yang membosankan."
"Inggih, Nyai."
Nyai berjalan ke pagar bambu kebun obat. Di ambangnya ia berhenti sebentar, tanpa menoleh.
"Dan Sudira."
"Inggih?"
"Apa pun yang mau kau lakukan dengan lengan barumu itu," katanya pelan, "lakukan jauh dari dapur. Dapur itu sekarang punya terlalu banyak mata."
"Malam ini," kata Ki Jalak.
Dira menoleh ke arah barak. Dengkuran Gandawasa sudah memenuhi udara malam, keras dan berat seperti biasa.
"Di mana?"
"Tempat yang dulu. Di belakang gudang rongsokan. Di dekat batu peringatan."
"Itu dekat Hutan Larangan."
"Justru karena itu. Udara di sana penuh prana. Kau ingat? Satu malam di sana sama dengan sepuluh malam di depan tungku. Kau tidak butuh tungku lagi. Kau butuh prana. Banyak. Sekaligus."
"Untuk apa?"
"Untuk Raga Madya."
Dira terdiam. Ia menatap lengan kanannya dalam gelap. Lurus. Tebal. Utuh.
"Kau bilang Raga Madya itu menempa otot. Sekeras kayu jati. Aku sudah mulai melakukannya di depan tungku, sebelum lenganku retak."
"Sudah mulai, tapi belum selesai. Ototmu di atas tulang yang rapuh tidak bisa ditempa sampai tuntas. Seperti menempa bilah keris di atas paron yang retak. Setiap pukulan, paronnya yang lebih dulu pecah." Ki Jalak terdiam sebentar. "Sekarang paronnya sudah diganti. Tulangmu lurus dan tebal. Sekarang kita bisa menempa sampai tuntas."
Satyaki sudah menunggu di belakang gudang rongsokan ketika Dira tiba. Pemuda jangkung itu duduk bersila di atas rumput, tongkat bambu kuningnya di pangkuan, matanya terpejam.
"Kau datang," katanya tanpa membuka mata.
"Kau tahu aku akan datang?"
"Kau tidak datang dua puluh hari. Pasti karena lenganmu. Dan pasti karena kepala dapur yang tiap malam duduk di ambang pintu barak dengan cawan arak." Satyaki membuka mata. "Aku melihatnya dari balik pohon kemuning. Dia memperhatikan dapur seperti kucing memperhatikan lubang tikus."
"Kau mengawasinya?"
"Aku mengawasi orang yang mengawasimu." Satyaki menyeringai. "Utang nasi."
Dira mengulurkan bungkusan kain berisi bidai bambu tua. "Milik ayahmu. Sudah selesai."
Satyaki menerimanya, membukanya, dan menatap kedua bilah bambu itu. Lalu ia menatap lengan Dira. Ia mengulurkan tangan dan meraba lengan bawah Dira dari siku ke pergelangan, persis seperti Nyai tadi pagi.
"Lurus," bisiknya. "Lebih tebal dari sebelumnya. Kau benar-benar melakukannya."
"Dengan ceker ayammu."
Satyaki tertawa pelan. Lalu ia membungkus bidai itu kembali dengan sangat hati-hati dan menyelipkannya di balik bajunya.
"Malam ini kau mau apa?" tanyanya.
"Berlatih. Di sana." Dira menunjuk barisan batu peringatan yang samar-samar terlihat dalam cahaya bulan, berderet dari timur ke barat seperti gigi-gigi raksasa yang berlumut. "Di dekat batu itu. Udaranya lain."
Satyaki menatap batu-batu itu, lalu menatap Dira. Ia tidak bertanya kenapa. Ia tidak bertanya bagaimana Dira tahu udaranya lain.
"Aku jaga di sini," katanya. "Kalau ada yang datang, dari hutan atau dari padepokan, aku lempar kerikil ke dekatmu. Satu kerikil artinya orang. Dua kerikil artinya babi hutan."
"Tiga kerikil?"
"Tiga kerikil artinya lari, aku juga tidak tahu itu apa."
Dira duduk bersila di atas rumput tepat di sisi padepokan dari barisan batu peringatan, sejengkal dari batu terdekat. Di balik batu-batu itu, Hutan Larangan berdiri gelap dan diam, pohon-pohonnya yang terlalu lurus dan terlalu hijau tampak hitam dalam cahaya bulan.
Udara di sini memang lain. Lebih berat, lebih penuh. Bahkan di sisi padepokan dari batu-batu itu, Dira bisa merasakan prana yang merembes keluar dari hutan seperti uap dari mulut kendi yang airnya mendidih.
"Tarik napas," kata Ki Jalak. "Tapi jangan cuma udaranya. Tarik pranya juga. Rasakan udara yang lebih berat itu. Tarik masuk lewat hidung, turunkan ke bawah pusar."
Dira menarik napas.
Udara yang masuk ke hidungnya terasa berbeda. Lebih tebal. Seperti menghirup kabut yang hangat. Udara itu turun ke dadanya, ke perutnya, ke bawah pusar, dan di sana, panas yang selama ini berputar seperti roda tiba-tiba membesar. Bukan sedikit. Dua kali lipat. Tiga kali lipat.
"Pelan," kata Ki Jalak tajam. "Jangan tarik terlalu banyak sekaligus. Pelan. Seperti minum air dari kendi, bukan dari sumur."
Dira menarik napas lebih pelan. Panas di bawah pusarnya tenang sedikit, tetapi tetap jauh lebih besar dari biasanya.
"Sekarang putar. Tapi bukan ke tulang punggung saja. Ke seluruh tubuh. Ke setiap otot. Lengan, kaki, punggung, perut, dada, leher... tidak, bukan leher, belokkan di leher seperti biasa. Ke setiap otot yang kau punya. Biarkan panasnya meresap ke dalam daging, seperti air mendidih yang meresap ke dalam beras yang ditanak."
Dira memutar.
Panas itu menyebar. Ke bahu, ke lengan atas, ke lengan bawah, ke jari-jari. Ke punggung, ke pinggang, ke paha, ke betis, ke telapak kaki. Ke perut. Ke dada.
Lalu rasa sakit itu datang.
Bukan rasa sakit seperti tulang patah. Bukan memekik. Rasa sakit ini lain: setiap otot di tubuhnya mengejang sekaligus. Seperti kram. Seperti seluruh tubuhnya adalah betis yang terlalu lama dipakai berjalan dan tiba-tiba menegang dan mengunci. Lengannya kaku. Kakinya kaku. Punggungnya melengkung sendiri seperti busur. Rahangnya terkatup rapat hingga giginya beradu.
Ia tidak bisa bernapas.
"Bernapas!" bentak Ki Jalak. "Itu ototmu yang ditempa! Seperti besi yang dipukul! Jangan berhenti bernapas! Kalau berhenti, ototmu akan robek!"
Dira bernapas. Pendek-pendek. Tersengal. Tetapi bernapas.
Kram itu tidak berhenti. Kram itu bergelombang, datang dan pergi seperti ombak, setiap gelombang lebih kuat dari sebelumnya. Setiap kali datang, setiap otot di tubuhnya mengunci, mengeras, seperti tanah liat yang dibakar di tungku. Setiap kali pergi, otot-otot itu mengendur sedikit, tetapi tidak sepenuhnya. Tidak kembali seperti semula.
Lebih keras dari sebelumnya.
Gelombang ketiga. Keempat. Kelima.
Keringat membanjir dari setiap pori. Bukan keringat hitam busuk seperti waktu Raga Awal, melainkan keringat bening yang panas, menguap di udara malam yang dingin dan membentuk kabut tipis di sekeliling tubuhnya.
Di kejauhan, di balik pohon kemuning, Satyaki menatap dengan mata terbelalak.
Gelombang keenam. Ketujuh.
Dira tidak lagi bisa menghitung. Ia hanya bisa bernapas, dan bertahan, dan membiarkan panas itu menempa setiap seratnya, seperti empu yang memukul bilah keris ribuan kali di atas paron yang baru.
Lalu, pada gelombang yang ia tidak tahu keberapa, kram itu tidak datang lagi.
Sebagai gantinya, sesuatu yang lain datang. Rasa ringan. Rasa penuh. Rasa seperti seluruh tubuhnya baru saja dicelupkan ke dalam air sendang yang dingin setelah dibakar di tungku. Mendesis. Mengeras. Lalu tenang.
Dira membuka mata.
Bulan sudah bergeser jauh ke barat. Rumput di sekelilingnya basah oleh keringatnya yang menguap. Batu peringatan di depannya berkilau keperakan oleh embun.
Ia menatap tangannya. Lalu mengepalkannya.
Kepalan itu terasa seperti kepalan orang lain. Lebih padat. Lebih berat. Seperti kepalan yang terbuat dari kayu jati tua, bukan dari daging dan kulit. Otot-otot di lengan bawahnya menonjol sedikit di bawah kulit, tidak besar, tetapi keras dan rapat, seperti tali ijuk yang dipilin kencang.
Ia menekan lengan kirinya dengan ibu jari kanan. Lengan itu tidak melesak sedikit pun.
"Raga Madya," kata Ki Jalak pelan. Suaranya lelah, tetapi ada nada lain di dalamnya, nada yang belum pernah didengar Dira dari pusaka itu. Nada seperti bangga yang tidak mau mengaku bangga. "Selamat, bocah. Ototmu sudah ditempa. Sekarang kau bukan anak ayam lagi. Sekarang kau... ayam jago muda. Yang jelek. Yang baru tumbuh jengger."
Dira tertawa pelan. Tawanya serak dan lelah.
"Ayam jago muda yang jelek," ulangnya.
"Jengger jelek," Ki Jalak mengoreksi. "Ayamnya lumayan."
Satyaki tidak bertanya apa-apa ketika Dira berjalan kembali ke balik pohon kemuning. Ia hanya menatap Dira dari ujung kepala sampai ujung kaki, menatap kabut tipis yang masih menguap dari kulit Dira, menatap otot-otot lengannya yang kini sedikit lebih menonjol.
"Kau berubah," katanya akhirnya.
"Sedikit."
"Bukan sedikit." Satyaki menggeleng pelan. "Aku melihatmu dari sini. Kau duduk diam, lalu tiba-tiba punggungmu melengkung seperti busur, lalu kau bergetar seperti orang kesurupan, lalu ada asap keluar dari badanmu." Ia berhenti. "Itu bukan latihan murid luar. Itu bukan latihan murid dalam. Aku tidak tahu itu latihan apa."
Dira tidak menjawab.
Satyaki menatapnya lama. Lalu ia mengangguk perlahan, seperti orang yang memutuskan untuk tidak bertanya.
"Pulang," katanya. "Hampir subuh. Kepala dapurmu biasanya bangun sebelum kentongan."
Dira menyelinap kembali ke barak abdi lewat jalan memutar, melewati kandang kambing, di mana kambing bermata jahat itu terbangun dan menatapnya dengan mata kuning yang berkilat dan, untuk pertama kalinya, mundur ke sudut kandang.
Langit di timur sudah mulai memucat. Kentongan subuh belum berbunyi.
Ia sampai di dinding barat dapur, di jalan setapak menuju barak. Pintu barak ada di depannya, lima belas langkah lagi. Ia mempercepat langkah, ringan, tanpa suara, dengan telapak depan, Langkah Jalak Ngumbara.
Ia tidak melihatnya sampai sudah terlambat.
Di ambang pintu barak, setengah tersembunyi dalam bayangan kusen, duduk seseorang yang tubuhnya terlalu lebar untuk bersembunyi dengan baik. Seseorang dengan lengan penuh bekas luka bakar minyak, rambut yang diikat tali ijuk, dan cawan arak yang kosong di tangan.
Gandawasa tidak mendengkur.
Matanya terbuka lebar, merah, dan sangat sadar. Ia menatap Dira yang berhenti di tengah jalan setapak, basah kuyup oleh keringat yang belum kering, kabut tipis masih menguap dari kulitnya dalam udara subuh yang dingin.
"Dari mana kau," tanya Gandawasa pelan, "Anak Matahari?"