Sang Penelan Pusaka

Bab 3Tatapan Sang Ketua

Nyai Rukminiwati tidak berlari. Seorang tetua Argasuryan tak pernah berlari di depan altar. Namun langkahnya begitu panjang dan cepat sehingga ia sudah berdiri di samping Dira sebelum sang ketua sempat menarik napas berikutnya.

"Ki Ageng." Ia membungkuk, cukup dalam untuk menunjukkan hormat dan cukup singkat untuk menunjukkan bahwa ia tidak sedang memohon. "Mohon ampun bila hamba lancang."

Suryadharma tidak menoleh kepadanya. Matanya tetap tertuju pada leher Dira. "Nyai."

"Anak ini membawa luka sejak bayi." Suara Nyai Rukminiwati tenang dan datar, seperti air sendang yang tak beriak. "Luka bakar dari malam hamba menemukannya. Kulitnya tak pernah sembuh benar. Tabib yang dulu merawatnya berpesan agar luka itu tak dibuka di bawah matahari, apalagi di depan altar pada hari suci. Adat kita sendiri melarang luka dipamerkan di hadapan pusaka. Ki Ageng tentu lebih paham daripada hamba."

Hening sejenak.

Dira menatap Nyai dari samping. Ini pertama kalinya ia mendengar tentang luka bakar. Pertama kalinya ia mendengar tentang tabib. Delapan belas warsa ia bertanya kenapa harus memakai kain itu, dan delapan belas warsa jawabannya selalu sama: karena Nyai bilang begitu. Kini, di depan ratusan orang, Nyai Rukminiwati menceritakan sebuah kisah yang belum pernah ia dengar, dengan wajah yang tidak bergerak sedikit pun.

Dira tidak tahu apakah kisah itu benar.

Ia hanya tahu bahwa jari-jari Nyai, yang tersembunyi di balik lipatan kemben, sedang menggenggam ujung kainnya sendiri begitu erat hingga kainnya kusut.

"Luka bakar," ulang Suryadharma pelan.

"Inggih, Ki Ageng."

"Dari malam kau menemukannya."

"Inggih."

"Di mana malam itu, Nyai?"

Pertanyaan itu meluncur begitu santai, seperti orang menanyakan harga beras di pasar. Namun Dira merasakan udara di sekitar mereka berubah. Ia tidak tahu caranya. Hanya ada rasa berat. Langit di atas altar terasa turun sejengkal.

Nyai Rukminiwati tidak menjawab seketika. Ia mengangkat wajah, dan untuk pertama kali sejak ia naik ke altar, matanya bertemu dengan mata sang ketua.

"Di tepi hutan, Ki Ageng," katanya. "Di bawah hujan. Seperti yang sudah hamba laporkan delapan belas warsa lalu, di balairung ini juga, di hadapan Ki Ageng sendiri."

Mereka saling menatap. Dira berdiri di antara keduanya dan merasa seperti semut yang terjebak di antara dua batu penggiling.

Lalu Suryadharma tersenyum. Senyumnya tipis, nyaris tak terlihat, tetapi itu senyum pertama yang Dira lihat dari sang ketua sepanjang pagi ini.

"Benar," katanya. "Aku ingat sekarang. Kau melaporkannya di hari yang sama ketika banjir menghanyutkan jembatan bambu di lembah barat." Ia mengangguk perlahan. "Ingatanku sudah tak setajam dulu, Nyai. Terima kasih sudah mengingatkan."

Nyai Rukminiwati membungkuk lagi. "Hamba yang berterima kasih atas kemurahan Ki Ageng."

Suryadharma kembali menatap Dira, dan kali ini tatapannya lain. Ia tidak lagi melihat leher Dira. Ia melihat seluruh tubuhnya, dari ujung rambut yang kusut sampai kaki telanjang yang berdebu, pelan-pelan, seperti pedagang kuda menilai seekor kuda yang belum ia putuskan untuk dibeli.

Tatapan itu tak juga selesai. Dira bisa mendengar bisik-bisik di halaman mulai muncul lagi, bisa merasakan matahari yang makin tinggi membakar tengkuknya, bisa mencium bau dupa yang mulai padam di anglo-anglo tembaga. Namun sang ketua tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap.

Dira tak tahu harus berbuat apa, jadi ia melakukan satu-satunya hal yang ia kuasai: ia menatap balik tanpa menunduk dan tanpa menantang. Ia menatap seperti menatap tungku yang apinya belum ia pahami, mencoba membaca ke mana nyalanya akan bergerak.

Di dalam mata Suryadharma, ia melihat sesuatu bergerak, lebih tenang dan lebih dingin daripada amarah. Perhitungan.

Lalu sang ketua berbalik menghadap halaman.


"Murid-muridku."

Halaman langsung sunyi.

"Tiga ratus warsa," kata Suryadharma, "Padepokan Argasuryan berdiri di lereng Lawu. Selama tiga ratus warsa, tak pernah ada anak yang tak tersentuh cahaya fajar. Hari ini ada satu." Ia berhenti. "Apa artinya, aku tidak tahu. Matahari tidak memberi penjelasan. Matahari hanya memberi tanda."

Ia menoleh ke arah putranya yang berdiri di kaki altar. Bayuwisesa menegakkan punggung.

"Putraku bertanya, apakah Argasuryan masih wajib memberi makan anak yang ditolak matahari. Pertanyaan itu kasar, tetapi tidak bodoh." Bayuwisesa tersenyum kecil, lalu senyumnya mengering ketika ayahnya melanjutkan. "Jawabannya: ya. Argasuryan tidak membuang anak yang dibesarkannya. Itu bukan adat kita. Itu adat orang-orang yang tak punya kehormatan."

Ki Wiradhana mengangguk-angguk di sisi altar. Beberapa tetua lain ikut mengangguk.

"Namun," lanjut Suryadharma, dan kata itu jatuh seperti kapak, "anak tanpa pusaka tak bisa menjadi murid. Tak bisa berlatih bersama mereka yang dipilih. Tak bisa tinggal di asrama yang dibangun untuk para pewaris pusaka. Maka, mulai hari ini, Sudira bukan lagi anak asuhan Argasuryan."

Dira merasakan Wulansari, yang masih berdiri di belakangnya, menarik napas tajam.

"Mulai hari ini," kata Suryadharma, "Sudira adalah abdi dapur Argasuryan. Ia akan tinggal di barak abdi, makan dari jatah abdi, bekerja di bawah perintah kepala dapur. Ia boleh tetap menjadi bagian dari padepokan ini, karena padepokan ini membesarkannya." Ia berhenti sejenak. "Tetapi ia tidak boleh meninggalkan lereng Lawu tanpa izinku. Tidak ke desa di bawah, tidak ke pasar, tidak ke mana pun."

Nyai Rukminiwati menoleh begitu cepat hingga anting perunggunya berdenting.

"Ki Ageng," katanya, "adat untuk abdi tidak pernah melarang mereka turun ke desa..."

"Adat untuk abdi memang tidak," potong Suryadharma tanpa menaikkan suara. "Tetapi adat untuk anak yang tak tersentuh matahari belum pernah ditulis, Nyai. Hari ini aku yang menulisnya." Ia menatap tetua perempuan itu dengan tenang. "Kita tidak tahu apa artinya tanda ini. Mungkin tidak berarti apa-apa. Mungkin pertanda buruk. Sampai kita tahu, lebih baik anak ini tetap berada di tempat yang bisa kita awasi. Demi kebaikannya sendiri. Kau tentu setuju."

Itu bukan pertanyaan, dan semua orang di altar tahu itu.

Dira melirik tangan Nyai Rukminiwati. Tangan yang tadi meremas ujung kain kini terbuka dan terkulai di sisi tubuhnya. Selama delapan belas warsa, Dira belum pernah melihat Nyai mengalah kepada siapa pun, dan ia tak tahu apakah yang sedang ia lihat sekarang memang sebuah kekalahan.

Nyai Rukminiwati diam beberapa saat. Lalu ia membungkuk. "Inggih, Ki Ageng."

"Bagus." Suryadharma menegakkan badan. "Upacara selesai. Para murid baru akan menerima udeng dan pembagian bilik dari Ki Wiradhana. Sisanya kembali ke latihan masing-masing."

Ia melangkah turun dari altar tanpa menoleh lagi.

Namun ketika ia melewati Dira, langkahnya melambat sangat sedikit, begitu sedikit sehingga hanya orang yang berdiri tepat di sebelahnya yang bisa merasakannya. Dan dalam langkah yang melambat itu, tanpa menoleh, tanpa menggerakkan bibir lebih dari yang perlu, sang ketua berbisik:

"Siapa yang memberimu nama itu?"

Dira tak tahu kenapa, tetapi ia merasa harus menjawab dengan jujur. "Nyai Rukminiwati, Ki Ageng."

Suryadharma tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya terus berjalan. Namun Dira melihat jari-jari sang ketua, yang tergantung di sisi tubuhnya, menekuk perlahan menjadi kepalan, lalu terbuka lagi.


Barak abdi terletak di belakang dapur, di petak tanah paling rendah di seluruh padepokan, tempat air hujan menggenang dan asap tungku berkumpul tanpa bisa pergi. Bangunannya panjang dan rendah, berdinding gedek yang ditambal di sana-sini dengan lumpur dan jerami. Dari jauh, bau di sekitarnya seperti campuran arang basah, nasi basi, dan keringat.

Dira berjalan ke sana menjelang senja dengan semua miliknya di dalam satu buntelan kain: dua helai jarik, satu baju lurik, sebuah sisir kayu yang giginya sudah patah tiga, dan sebuah kendi kecil yang ia buat sendiri dari tanah liat ketika berumur sepuluh warsa. Bentuk kendi itu miring dan bibirnya tak rata. Wulansari dulu menertawakannya tiga hari penuh, lalu diam-diam memakainya untuk menampung bunga kantil setiap kali Dira jatuh sakit.

Wulansari berjalan di sampingnya, memeluk buntelannya sendiri. Bedanya, buntelan Wulansari menuju arah sebaliknya: asrama murid luar, di petak tanah yang lebih tinggi, tempat matahari pagi pertama kali menyentuh atap.

Di sepanjang jalan, beberapa murid luar yang baru menerima udeng berpapasan dengan mereka. Ada yang menyapa Wulansari dengan riang, lalu melihat siapa yang berjalan di sampingnya, dan sapaan itu terputus di tengah. Seorang anak yang kemarin masih tidur di bilik sebelah Dira memalingkan muka begitu jauh hingga hampir menabrak pagar bambu.

Wulansari menatap mereka satu per satu sampai mereka lewat. Dira menatap tanah.

Mereka berhenti di persimpangan jalan setapak tempat keduanya harus berpisah.

"Aku akan menolak," kata Wulansari tiba-tiba. "Aku akan mengembalikan cundrik ini. Aku akan bilang aku tak mau jadi murid kalau Kangmas jadi abdi."

"Jangan bodoh."

"Aku tidak bodoh!"

"Wulan." Dira meletakkan buntelannya di tanah dan memegang kedua bahu adiknya. "Dengar. Kalau kau mengembalikan pusakamu, kau tidak menolongku. Kau cuma membuat kita berdua jadi abdi. Siapa yang akan untung? Raden Bayuwisesa. Dia akan tertawa sampai tujuh hari."

Wulansari menggigit bibir. Matanya kembali merah.

"Kau sudah dipilih," kata Dira lebih pelan. "Itu bagus. Itu sungguh bagus. Berlatihlah. Jadilah kuat. Lalu suatu hari, kalau ada yang menghina abdi dapur, kau bisa membungkam mereka dengan cundrik cantikmu itu."

"Kangmas..."

"Aku masih di sini. Dapur cuma sepelemparan batu dari asrama. Kau bisa mencuri nasi untukku tiap malam."

Wulansari tertawa sambil menangis, bunyi yang aneh, seperti kucing tersedak. Lalu ia memeluk Dira kuat-kuat, begitu kuat hingga kain di leher Dira bergeser sedikit.

"Simpulnya," bisik Wulansari di bahunya. "Jangan biarkan orang lain membukanya. Cuma aku yang tahu."

"Cuma kau yang tahu."

Ia melepaskan pelukan, mengangkat buntelannya, dan berjalan menanjak ke arah asrama. Tiga kali ia menoleh. Dira melambaikan tangan tiga kali.

Setelah adiknya tak terlihat lagi, Dira memungut buntelannya sendiri dan melangkah turun.


Pintu barak abdi terbuka sebagian. Cahaya pelita minyak berkedip-kedip di dalam, menimbulkan bayangan panjang di dinding gedek. Terdengar suara orang mengobrol, tawa, bunyi sendok beradu dengan mangkuk tembikar.

Semua suara itu berhenti saat Dira melangkah masuk.

Belasan abdi duduk bersila di atas tikar pandan, mengelilingi sebuah bakul nasi dan beberapa mangkuk sayur. Mereka semua menatapnya. Sebagian dengan rasa ingin tahu, sebagian dengan rasa kasihan, sebagian dengan pandangan yang membuat perut Dira mengerut.

"Wah, wah."

Seseorang bangkit dari ujung tikar. Ia lelaki muda, mungkin tiga atau empat warsa lebih tua dari Dira, dengan tubuh lebar seperti pintu lumbung dan lengan yang penuh bekas luka bakar minyak. Rambutnya diikat ke belakang dengan tali ijuk, dan di pinggangnya terselip sebilah pisau dapur yang besar.

Ia berjalan mendekat dengan langkah malas, lalu berhenti tepat di depan Dira, cukup dekat hingga Dira bisa mencium bau bawang dan arak murahan dari napasnya.

"Jadi ini," katanya, "anak yang tak tersentuh matahari."

Beberapa abdi terkekeh.

"Namaku Gandawasa," lanjut lelaki itu. "Kepala dapur Argasuryan. Mbah Karta yang sudah pikun itu cuma tukang aduk sayur. Di dapur ini, akulah yang memerintah. Mulai hari ini, kau makan kalau kubilang makan, tidur kalau kubilang tidur, dan bernapas kalau kubilang bernapas." Ia tersenyum, memperlihatkan gigi yang kekuningan. "Paham?"

Dira tidak menjawab. Ia hanya diam, menunduk sedikit, dan mulai menghitung.

Gandawasa menunggu jawaban yang tak datang. Senyumnya pelan-pelan hilang.

Lalu ia mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke luar pintu, ke arah dapur yang gelap, tempat belasan kuali besi raksasa bekas memasak jamuan upacara pagi ini tertumpuk tinggi, hitam, dan penuh kerak gosong setebal jari.

"Malam ini kau tidak tidur, Anak Matahari," katanya. "Sebelum ayam jantan berkokok, semua kuali itu harus bersih sampai aku bisa bercermin di dasarnya. Satu titik kerak saja yang tertinggal..."

Ia menarik pisau dari pinggangnya dan menancapkannya ke tiang bambu di samping kepala Dira, begitu dekat hingga Dira merasakan dinginnya bilah itu di ujung telinganya.

"...kau akan tahu kenapa abdi-abdi lain di sini tak pernah membantahku."