<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel>
<title>Mahakitab</title><link>https://mahakitab.com/</link><description>Baca Sang Penelan Pusaka dan kisah fantasi klasik Nusantara lainnya karya Simha Mahaprabha. Gratis, bab baru rutin, nyaman di HP maupun laptop.</description><language>id</language>
<atom:link href="https://mahakitab.com/feed.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 77: Kidung Pepeling</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-77/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-77/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Di Balai Sukma, sesuatu yang beku itu retak. Bukan dinding beku. Dinding beku di kejauhan itu tetap menjulang, utuh, retakannya bersinar biru pucat seperti cahaya bulan di dasar sumur. Yang retak…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 76: Malam Kritis</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-76/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-76/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Dira tidak tahu ia di mana. Kadang ia di Balai Sukma, berdiri di atas lantai batu hitam yang tertutup genangan cairan hitam setinggi mata kaki. Dingin. Kental. Bergerak. Bentuk-bentuk seperti ular…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 75: Racun Ular</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-75/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-75/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Gelap. Bukan gelap gudang beras. Gelap yang lain. Gelap Balai Sukma, tempat lantai batu hitam yang halus dan dingin membentang tanpa ujung, tempat tak ada atap dan tak ada dinding kecuali satu…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 74: Mengganti Bunga</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-74/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-74/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>&quot;Aku yang menahannya,&quot; kata Ki Jalak. Dira menatap garis hitam di pahanya. &quot;Apa?&quot; &quot;Racunnya. Aku yang menahannya. Sedikit. Sejak di atas tebing.&quot; Suara Ki Jalak terdengar aneh. Tegang, seperti orang…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 73: Bunga yang Salah</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-73/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-73/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Dira merampas bungkusan itu dari tangan Satyaki dan menutupnya. Ia melipat daun pisang itu kembali, satu lipatan, dua lipatan, tiga, sampai cahaya putih dingin dari dalamnya tak terlihat lagi dan…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 72: Harga Bunga</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-72/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-72/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Air hitam di sekeliling batu itu mulai bergerak lagi. Tidak bergolak seperti tadi. Tidak liar. Pelan. Teratur. Seperti air yang ditarik dari dasar oleh sesuatu yang sangat besar dan sangat sabar.…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 71: Ular dan Angin</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-71/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-71/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Dira tidak bergerak. Itu bukan keputusan. Tubuhnya membeku sendiri, seperti kelinci yang melihat bayangan elang di rumput. Napasnya mengendap di bawah pusar, diam, seperti batu di dasar kolam.…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 70: Gua Wijayakusuma</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-70/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-70/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>&quot;Mundur,&quot; bisik Dira. &quot;Pelan.&quot; Satyaki tidak membantah. Ia mundur selangkah, bersandar pada Kyai Pring Kuning, matanya tidak lepas dari celah gelap di kaki tebing hitam. Dira mundur bersamanya. Satu…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 69: Sumpah Satyaki</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-69/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-69/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Dira tidak segera mengulurkan tangannya. Ia duduk di samping bara yang tinggal merah redup, tangan kanannya tertelungkup di atas lutut, dan menatap Satyaki. Satyaki menatap balik. Wajahnya pucat…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 68: Gema Ketiga</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-68/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-68/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>&quot;Tunggu,&quot; kata Ki Jalak. Dira tidak mendengarnya. Ia mencengkeram bahu Satyaki dan mengguncangnya. Kepala Satyaki terkulai ke samping. Matanya tertutup. Bibirnya biru. Dadanya diam. &quot;Satyaki.…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 67: Kyai Sapu Angin</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-67/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-67/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Ki Jalak dulu masuk seperti batu yang dijatuhkan ke kolam. Pelan. Lembut. Tanpa merobek kulit, tanpa setetes darah. Seperti orang tua yang pulang ke rumahnya sendiri setelah lama merantau. Bilah…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 66: Pusaka Liar</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-66/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-66/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>&quot;Turun!&quot; Dira tidak tahu siapa yang berteriak. Mungkin dirinya. Mungkin Satyaki. Mungkin Ki Jalak. Ia hanya tahu bahwa tubuhnya sudah bergerak sebelum teriakan itu selesai, menjatuhkan diri ke atas…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 65: Kabut Penyesat</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-65/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-65/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>&quot;Jangan bicara,&quot; kata Dira. &quot;Kenapa?&quot; Suara Satyaki datang dari kiri, tempat tali ijuk menarik. Lalu, sesaat kemudian, gemanya datang dari kanan, dari belakang, dari atas, kenapa, kenapa, kenapa,…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 64: Masuk Hutan Larangan</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-64/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-64/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Hal pertama yang Dira sadari begitu melewati barisan batu peringatan adalah kesunyian. Bukan sunyi yang tenang, seperti dapur di tengah malam atau lumbung sesudah panen. Sunyi yang lain. Sunyi yang…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 63: Tugas Mustahil</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-63/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-63/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Dira tidak tidur malam itu. Ia duduk di depan tungku ketujuh sampai bara tinggal merah redup, lalu bangkit dan mulai berkemas. Tidak banyak yang bisa dikemas oleh seorang abdi dapur. Sehelai jarik…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 62: Senyum Tetua</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-62/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-62/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Gula aren itu terasa hangat di telapak tangan Dira. Hangat dari tangan Ki Wiradhana. Ia menatapnya. Sepotong kecil, seukuran dadu, cokelat keemasan, sedikit lengket di permukaannya. Gula aren biasa.…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 61: Yang Melihat</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-61/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-61/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Bilik Ki Wiradhana berbau dupa cendana dan gula aren. Itu yang pertama kali Dira sadari ketika murid dalam itu membuka pintu kayu jati berukir dan mempersilakannya masuk. Bau yang manis dan hangat,…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 60: Piring yang Tertukar</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-60/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-60/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Pendapa balairung terasa seperti dasar sumur yang dibanjiri cahaya. Ratusan pelita. Ratusan wajah. Gamelan yang mulai ditabuh lagi, pelan, lembut, mengalun seperti air. Bau dupa cendana, bau santan,…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 59: Pesta dan Racun</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-59/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-59/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>&quot;Lima,&quot; kata Mbah Karta. Ia mengucapkannya pagi-pagi sekali, sebelum kentongan subuh, ketika dapur masih gelap dan hanya tungku ketujuh yang menyala. Dira sedang menyapu abu dari mulut tungku. Juru…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 58: Upeti Kadipaten</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-58/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-58/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Rombongan Kadipaten Karanganom masuk ke Padepokan Argasuryan seperti sungai yang meluap masuk ke sawah. Dira melihatnya dari sudut halaman depan, berdiri di antara para abdi yang berbaris di…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 57: Pesan Mbah Karta</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-57/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-57/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Dira menutupnya. Jari-jarinya gemetar ketika menarik kain lurik itu kembali ke atas, menutupi memar biru, menutupi garis yang bercabang seperti akar, menutupi cahaya redup yang kini, setelah ia tahu…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 56: Garis Biru</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-56/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-56/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>&quot;Putar,&quot; kata Ki Jalak. Dira sudah memutarnya. Masih di atas bubungan, masih tersembunyi di balik cerobong tungku ketujuh, ia menyelipkan dua jari ke bawah kain lurik di lehernya dan menggesernya…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 55: Raga Puncak</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-55/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-55/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>&quot;Berhenti,&quot; kata Ki Jalak. Lalu, hampir di napas yang sama: &quot;Tidak. Jangan berhenti. Jangan!&quot; Dira tidak bisa berhenti, bahkan kalau ia mau. Napas gunung terus mengalir masuk ke tubuhnya, perak dan…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 54: Purnama Lawu</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-54/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-54/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Hari purnama datang seperti banjir: dapur abdi tenggelam. Sejak sebelum kentongan subuh, semua tungku menyala. Tujuh tungku, tujuh kuali, tujuh asap yang membubung dari lubang-lubang di atap ijuk…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 53: Ingatan Sebatang Pohon</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-53/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-53/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Pagi berikutnya, Mbah Karta bersiul memanggil ayam. Itu yang ia katakan ketika Dira, yang tidak tidur semalaman, mendekatinya di depan tungku ketujuh dengan semangkuk air cucian beras dan pertanyaan…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 52: Gema Kedua</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-52/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-52/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Dira mengetuk tiang serambi tiga kali, meletakkan nampan wedang jahe di atas bale-bale, dan pergi. Ia tidak berlari. Ia berjalan dengan langkah abdi yang biasa, tidak cepat, tidak lambat, menyusuri…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 51: Dua Macam Kesombongan</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-51/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-51/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Lama setelah suara Bayuwisesa lenyap di balik pohon-pohon asam, Dira dan Wulansari masih berdiri di tengah lapangan tanah merah. Mereka tidak bergerak. Mereka hanya menatap jalan setapak yang kini…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 50: Bayuwisesa Turun Tangan</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-50/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-50/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Dira berhenti. Itu bukan keputusannya. Tubuhnya berhenti sendiri, seperti kuda yang tiba-tiba ditarik kekangnya. Napas yang tadi berputar seperti pusaran air di bawah pusarnya tersentak, tersendat,…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 49: Wulansari Diganggu</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-49/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-49/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Lapangan latihan murid luar terletak di sisi barat padepokan, di bawah lereng yang ditumbuhi pohon-pohon asam tua. Lapangan itu tidak seperti lapangan murid dalam. Tak ada tiang-tiang batu andesit…</description></item>
<item><title>Sang Penelan Pusaka – Bab 48: Menyembunyikan Taring</title><link>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-48/</link><guid>https://mahakitab.com/novel/sang-penelan-pusaka/bab-48/</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate><description>Dira tidak langsung pulang ke barak. Ia berjalan ke belakang gudang rongsokan, ke tempat yang paling sepi di seluruh halaman belakang, dan duduk di atas tunggul kayu tempat ia biasa berlatih Jalak…</description></item>
</channel></rss>
